BambangNoorsena.com

Selamat Datang di Situs Bambang Noorsena Center.

)

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Bramantyo, menarik untuk diapresiasi. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini, dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang menanggapi biasa-biasa saja, ada yang memuji-muji, tetapi ada pula yang bertanya: "Misi apa di balik novel dan film ini?" Beberapa orang berkomentar, “Ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo". menariknya, ada pula yang serius mencermati kaitan novel dan film ini dengan relasi Kristen-Islam di Mesir. Terlepas dari apresiasi saya atas suksesnya film tersebut, resensi singkat ini sekedar mencermati beberapa kejanggalan tentang tradisi Kristen Koptik yang digambarkan dalam film ini. tentu saja, catatan ini saya ini berangkat dari apa saya ketahui dan yakini sebagai orang Kristen ortodoks. Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi terkuno di Mesir, dan komumitas Kristen Ortodoks yang terbesar di dunia Arab sampai saat ini.

Continue Reading
Text to Speech
)
  HUKUM MURTAD DAN EKSPLOITASI MUALLAF PERSPEKTIF HAM DAN LINTAS IMAN ; Narasumber : Dr. Bambang Noorsena ; Hari : Jum'at, 2 Agustus 2019 ; Pukul : 18.00 - 21.00 WIB ; Tempat : Gereja Katholik 'St. Maria Tak Bercela'. Jl. Ngagel Madya Continue Reading
Text to Speech
)
"Kalau begitu, mengapa Allah berdialog dengan Firman-Nya, kalau Firman itu selalu satu dengan Wujud Allah, yaitu Bapa itu sendiri?", tanya Bilung.
"Itulah kedalaman dan kekayaan Diri Allah yang tidak ada pada makhluk-Nya, Bilung. Untuk menjawab itu, kamu harus mengerti dua misteri Yang Maha Ada dan Yang Maha Esa ini.
Pertama, Allah itu satu tanpa sekutu, berdaulat tanpa bergantung kepada sesuatu; Kedua, Allah itu tunggal tanpa kawan, namun tidak merasa kesepian. Renungkanlah sekali lagi kedua misteri Ilahi ini, Cah Bagus!", jawab Kyai Semar serius.
Pertama, tentang penciptaan dijelaskan: “…bahwa Aku tetap Dia (Ibrani: אֲנִ֣י ה֔וּא "Ani Hû", Yunani: Ἐγώ εἰμι, "Egô eimi"). Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak ada lagi” (Yes. 43:10). Itu artinya Allah adalah yang awal dan yang akhir, tidak ada Allah sebelum Dia, dan tidak ada Allah lain lagi setelah Dia". Renungkan sekali lagi, Bilung!".
Continue Reading
Text to Speech
)
"Tadi saya bilang apa, Bilung? Tritunggal itu "ora loro, ora telu, nanging yen siji dudu sijine watu" (Bukan dua, bukan tiga, tetapi kalau satu tak sama dengan satunya batu). Ngerti?", Kyai Semar mengulang wejangannya.
"Jadi, jangan kita menarik ekstrim sifat ke-"tiga"-an-Nya, dan jangan pula memaknai salah wujud Dzat-Nya yang Esa. Betul gitu, Kyai?"
"Tak pernah kita mendengar", kata Semar mengutip St. Gregorius dari Nyssa, "Allah Bapa berbuat tanpa Putra atau Firman-Nya, begitu pula Putra tak pernah terpisah dari Roh Kudus. Nah, kalau Bapa, Putra dan Roh Kudus secara bersama-sama tak pernah terpisahkan menjalankan kuasa-Nya dan melakukan pemeliharaan ilahi atas kita dan jagad raya, maka tak mungkin kita bicara ada tiga Allah".
Continue Reading
Text to Speech
)

Pikiran Bilung sudah mulai tertata, namun sayang metode “perang ayat-ayat” masih sulit dilepaskan dari otaknya. Maklum, Bilung sudah mengalami “cuci otak” selama bertahun-tahun, karena itu sembuhnya memerlukan proses. Namun Semar, punya “terapi” tersendiri menghadapi berbagai penyakit pikiran, seperti yang kini dialami oleh Bilung.

“Saya, serius Kyai!”, Bilung protes. “Mat. 28:19 sampèyan tafsir Tritunggal? Kalau hanya Bapa, Putra dan Roh Kudus disebut bersama-sama sampèyan tafsir satu, gimana dengan ayat ini: “Di hadapan Allah, Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan …” (1 Tim. 5:21). Apakah para malaikat pilihan-Nya juga masuk dalam zat Ilahi, Kyai?”.

Continue Reading
Text to Speech
Text to Speech
)

Karena itu berbeda dengan Yoh. 1:1 yang menegaskan bahwa Allah sendirilah Logos itu (καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος. "Kai theos en ho logos), maka Philo menyebutnya "Logos Ilahi" (θείος λογος), "theios Logos"), dan bukan θεος "Theos" (Allah) itu sendiri.
Dengan demikian, berbeda dengan Yohanes, Philo tidak pernah mengenai Logos sebagai "hypostasis" pre-eksisten yang selalu bersama-sama Allah dan Allah itu sendiri. Bagi Yohanes yang mengacu kepada דבר "Davar" dalam Perjanjian Lama Ibrani, Allah telah menciptakan dengan Logos-Nya dari tidak ada menjadi ada: "Segala sesuatu djadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3).

Sedangkan mengacu kepada מימרא "Memrā" dalam Targum, Yohanes menegaskan: καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν, "Kai ho Logos en pros ton theon" (Firman itu bersama-sama Allah), sekaligus "kai theos en ho Logos" (Allahlah Firman itu). Karena itu, sebagaimana yang ditekankan oleh Alfred Edersheim (1995:33), Λόγος "Logos" dalam pemikiran Philo yang "impersonal, an intermediary being" jelas-jelas berbeda dengan מימרא "Memra" dalam Targum yang melatarbelakangi prolog Injil keempat (Yoh. 1:1-14). Jadi, relasi Hellenisme dalam teologi Kristen hanya bersifat sampingan, sebatas kesamaan istilah, tetapi maknanya bertolak belakang.

Continue Reading
Text to Speech

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK