BUKA FESTIVAL KEBANGSAAN DI UMM, JUSUF KALLA: "BHINNEKA TUNGGAL IKA KELEBIHAN KITA"

Text to Speech


Malang: Wakil Presiden (Wapres) M. Jusuf Kalla (JK) hadir dalam Festival Kebangsaan yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/4/2019). Dalam kesempatan itu, orang nomor dua di Indonesia ini menyampaikan beberapa pokok pemikiran penting.
JK menekankan perbedaan term bangsa dan negara. "Negara ada batasnya namun bangsa tidak", tegas Wapres. Dimana letak kelebihan kita? "Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan negara lain, khususnya kebhinekaan. Identitas kita berbeda dalam suku, agama, adat istiadat dan bahasa, tetapi kita selalu hidup rukun berdampingan, tanpa kegaduhan" tegasnya.

Festival Kebangsan ini sedianya akan menghadirkan Ibu Megawati Soekarno Putri yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, namun batal hadir karena Bu Mega sedang mendampingi acara Pak Jokowi di Cirebon. Buya Syafi'i Ma'arif, guru bangsa dan mantan Ketua Umum Muhammadiyah, juga berhalangan hadir. Orasi kebangsaan disampaikan oleh Prof. Dr. Malik Fajar, penasehat Presiden, dan Dr. Bambang Noorsena, SH, MA dari Institute for Syriac Culture Studies (ISCS).

Bambang mulai orasinya dengan mengemilakan fakta bahwa jauh sebelum abad modern mengenal mulitukulturalisme, bahkan ketika Barat dan Timur Tengah masih pernah salib, abad XIV kita sudah mempunyai "Bhinneka Tunggal Ika". Inilah refleksi terhadap realitas kemajemukan bangsa dari abad ke abad, mulai dari masa pra-Hindu-Buddha, era Hindu-Buddha, datangnya Islam, masuknya Kristen dan era modern.

"Tidak ada NKRI tanpa Pancasila", kata Bambang berapi-api, "NKRI hanya dapat berdiri di atas dasar Pancasila, bukan Ideologi-ideologi lain", tegasnya lagi, disambut tepuk tangan lebih dari 1500 hadirin yang terdiri dari mahasiswa, dosen, tokoh lintas agama, budayawan dan para politisi.

Sementara itu, Malik Fajar menekankan bahwa Pancasila adalah puncak kesepakatan para pendiri bangsa. "Pancasila tidak boleh hilang dari negeri ini", tegas mantan rektor UMM. Tetapi Pancasila harus direaktualisasikan, dan dunia pendidikan harus berperan aktif. Seluruh pergerakan kebangsaan Indonesia dimulai dari pendidikan. "Wawasan kebangsaan dibangun dari ruang kelas", katanya, seraya mencontohkab peran H.O.S. Tjokroaminoro, Bung Karno, Bung Hatta, dan Kyai Ahmad Dahlan sendiri sebagai pendiri Muhamasiyyah.

Setuju dengan Bambang Noorsena, namun sosialksasi Pancasila harus disesuaikan kepada generasi milenial. "Bahasa Pak Bambang ini bahasa tinggi, bahasa akademis. Perlu memahami filsafat, sejarah, bahkan teologi", kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tersebut. Tetapi diakui, bangsa ini sedang mengalami defisit literasi, kurang membaca. "Karena itu", usul mantan Menteri Pendidikan ini, "harus ada gerakan lilerasi untuk membuka cakrawala, mempersempit ruang gosip, penyebaran fitnah dan kabar bohong".

Sebelumnya, Rektor UMM Dr. Fauzan, MPd dalam sambutannya mengatakan bahwa Festival Kebangsaan ini sengaja dilakukan berbareng dengan peresmian Gedung Kuliah Bersama UMM, Hotel Kapal, Gedung Rusunawa, dan peresmian Jembatan Sengkaling.

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Kebangsaan

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : (Menyusul)

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK