INDONESIA DARURAT IDEOLOGI

Text to Speech


Refleksi dari Kekawin Baratha Yuddha: Dari Jayabaya, Bung Karno, Hingga Pilpres 2019


1. CATATAN AWAL

Kisah Barathayuddha di Nusantara mula-mula ditulis dalam bentuk kekawin, yaitu ꦏꦏꦮꦶꦤ꧀​ꦨꦴꦫꦠꦪꦸꦢ꧀ꦝ "Kekawin Bhāratayuddha". Karya yang berasal dari kerajaan Kadiri ini, termasuk diantara karya-karya sastra Jawa kuno yang termasyhur. Istilah भारतयुद्ध; "Bhāratayuddha" berasal dari bahasa Sanskerta (भरत "Baratha", artinya "dinasti Baratha", dan युद्ध "Yuddha", artinya "perang"), mengisahkan heroiknya perang saudara antar keturunan Baratha, Pandawa dan Kurawa.

Berdasarkan kronogram pembukaan ꦏꦏꦮꦶꦤ꧀​ꦨꦴꦫꦠꦪꦸꦢ꧀ꦝ "Kekawin Bhārata Yuddha", dapat ditentukan karya ini ditulis pada surya sengkala "Sanga-Kuda-śuddha-candramā", yaitu tahun Saka 1079 atau 1157 M, pada zaman Maharaja Jayabaya. Kisah apakah yang terjadi di balik penulisan Kekawin Bhāratayuddha? Sebagaimana "perang saudara" antara Korawa dan Pandawa yang keduanya berasal dari darah Baratha, begitu juga Prabu Jayabaya dan Hemabhupati, keduanya juga anak-anak raja Airlangga, pendiri dinasti Kadiri.

Jadi, penulisan Kekawin ini dilakukan oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh atas perintah Jayabaya sebagai "sastra ruwat" untuk melegitimasi tindakan Sang Raja sendiri ketika mengalahlan kerajaan Hemabhupati (Kakanda Raja), yang adalah saudaranya sendiri.

2. PILPRES 2019: "BARATHA YUDDHA" IDEOLOGI PANCASILA VS. "PENUNGGANG GELAP" KHILAFAH

Perang Baratayuda, sebagai "perang saudara", dengan segala kompleksitas masalah dan pihak-pihak yang memanfaatkannya, ternyata selalu berulang dalam sejarah. Kalau pertarungan politik Jokowi vs. Prabowo murni kompetisi Pilpres, ucapan Amin Rais bahwa Pilpres 2019 sebagai perang Baratha Yuddha, rasa-rasanya berlebihan. Namun bila kita cermati di balik layar adalah kelompok-kelompok internasional dan Islam transnasional anti-Pancasila, yang sedang menunggangi Prabowo-Sandi, ini benar-benar Baratha Yuddha.

Siapa saja aktor di balik layar itu? Mereka adalah kelompok yang dahulu disebut Bung Karno sebagai NEKOLIM (Neo-Kolonialisme dan Neo-Imperialisme), yaitu kekuatan-kekuatan kapitalis dunia yang akhir-akhir ini murka kepada pemerintahan Jokowi, seperti divestasi Freport, pengambilalihan blok Mahakam & Rokan, penenggelaman kapal-kapal ilegal fishing, pembubaran Petral dan kebijakan lain yang menghabisi kepentingan kapitalis mereka.

Dan seperti yang terjadi di belahan bumi lain, kepentingan asing ini biasanya dijalankan oleh aktor-aktor politik dari bangsa kita sendiri, yang dahulu pernah berkuasa, karena mengganggu kepentingan ekonomi mereka. Sisa-sisa laskar lama dengan kekuatan yang yang tak terbatas ini, kini bersekutu dengan Ideologi Khilafah yang jelas anti-Pancasila. Mereka sementara "ketemu taktis" pada Pilpres 2019 untuk menghadapi musuh bersama, yaitu Jokowi. Persekutuan jahat yang kini menjadi "penumpang gelap" dalam Pilpres ini, benar-benar mengancam ideologi negara Pancasila. Indonesia kini benar-benar darurat Ideologi.

Lalu, sampai dimanakah batas-batas suatu konflik antar "saudara-saudara sebangsa" bisa disebut Barathayuddha? Batasan itu adalah benturan ideologis. Lebih-lebih memasuki abad XXI, ketika Komunis bukan lagi ancaman bagi Barat, maka kekuatan Islam politik yang "dipancing keluar" oleh skenario Amerika Serikat melalui tesis Samuel P. Hunstington "The Clash of Civilization" (1998), kini benar-benar riil mewujud dalam bentuk Islam transnasional, yang menabrak batas-batas bangsa dan otomatis anti-Nasionalisme.

Itulah gerakan Khilafah a la HTI yang didukung kelompok-kelompok sealiran (PKS, FPI, FUI dan lain-lain) yang khabarnya telah merebut 15.000 masjid dan mushala di wilayah Jabodetabek untuk gerakan mengalahkan Jokowi melalui hoax, fitnah dan ujaran kebencian yang dijalankan dengan sangat masif menjelang Pilpres 2019. Keberhasilan mereka menumbangkan Ahok-Djarot pada Pilgub DKI Jakarta, akan dijadikan model untuk mengalahkan Jokowi-Ma'ruf, 17 April 2019 nanti.

Karena itu, Pilpres kali ini bukan sekedar pertarungan Jokowi vs. Prabowo, tetapi antara Pancasila vs. Khilafah, antara Islam Nusantara vs. Islam transnasional. Gerakan Khilafah ini tentu saja menolak mentah-mentah credo kebangsaan yang dijarkan oleh Hadratusy Syeikh K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdhatul Ulama (NU): حب الوطان من اليمان "Hub al-Wathan min al-Iman" (Cinta Tanah air adalah bagian dari iman).

Mungkin saja, Prabowo-Sandi sadar bahwa mereka sedang ditunggangi, karena mereka sendiri juga menunggangi gerakan ideologis militan ini, demi mengalahkan lawan politiknya. Saya yakin, kalau Prabowo-Sandi menang, justru mereka yang akan segera digulingkan, karena tidak ada yang bisa menandingi militansi ideologis HTI and his gank, sementara yang ada pada barisan pendukung Prabowo adalah berbagai kelompok dengan beragam kepentingan masing-masing.

3. LEBIH BAHAYA DARI KARTOSOEWIRJO

Perbedaan Ideologi pernah membawa 2 orang sahabat harus berpisah. Mereka adalah Bung Karno dan Sekarmadji Kartosowiryo, keduanya murid H. Oemar Said Tjokroaminoto. Pertentangan keduanya tak terelakkan, ketika Kartosowiryo memproklamasikan negara Islam di wilayah NKRI. Kalau sudah begini, relasi Soekarno-Kartosoewirjo melampaui relasi sesama murid Pak Tjokro, tetapi antara NKRI vs. NII, antara Pancasila vs. Negara agama, karena sejatinya Kartosoewirjo telah mendirikan negara dalam negara.

Sejak itu, Kartosoewirjo menjadi buron. Dan bukan kebetulan pula, kalau sandi penangkapan Kartosoewirjo dinamakan "Barathayuddha". Ini membuktikan bahwa TNI memang menganggapnya sebagai perang ideologis antara NKRI yang berdasarlan Pancasila vs. Negara Islam Indonesia (NII) sebagai "pementasan ulang" perang besar yang dahulu pernah terjadi di padang Kurusetra. Seperti lakon "Kresna Duta', berbagai upaya akomodatif telah dilakukan oleh Bung Karno untuk menjinakkan sahabatnya yang "sesat ideologis" itu.

Terbukti ketika Bung Karno terpilih sebagai Presiden pertama dari NKRI yang diproklamasikannya bersama Hatta, 17 Agustus 1945, Kartosoewirjo pernah direkrutnya sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Namun ideologi garis kerasnya tak berubah, bukan mendukung republik yang baru diproklamasikan, tanggal 7 Agustus 1949 Kartosoewirjo justru mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) dan memaklumkan perang terhadap NKRI, seraya menyerukan: "Bunuh Sukarno, penghalang Negara Islam".

Serentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilancarkan (mulai peristiwa Cikini, penembakan di istana oleh Maukar dan Idul Adha di Masjid Istana), yang semua dilakukan oleh anak buah Kartosoewirjo. Meskipun TNI berhasil menggagalkan percobaan pembunuhan itu, namun ancaman teror terus menghantui masyarakat. Sampai tanggal 7 Juni 1962, ketika operasi TNI dengan sandi "Barathayuddha"-nya berhasil menangkap Kartosoewirjo di gunung Geber, yang akhirnya dijatuhi dengan hukuman mati karena tindakan makar.

Jadi, jangan anggap enteng bahaya ideologisasi agama. Bahkan, gerakan Khilafah yang kini mengancam di depan mata, jauh lebih berbahaya. Mengapa? Karena Kartosoewirjo hanya gerakan lokal, sedangkan Khilafah sifatnya transnasional, tak mengenal batas-batas negara, memiliki jejaring internasional yang saling terkait dan bersinambung. Jadi, terlalu naif "merangkul" mereka sekedar untuk memenangkan Pilpres. Pilpres sekedar pesta demokrasi 5 tahunan, sedangkan khilafah melampai semua itu. Sekali memberi angin, sangat sulit menghentikan amukan badai gerakan mereka.

4. REFLEKSI AKHIR

Suatu pagi, di tahun 1964. Bung Karno menangis di depan S. Parman, yang menyodorkan kepadanya surat putusan eksekusi mati Kartosuwirjo. Bung Karno tak sanggup menandatangani vonis mati terhadap sesama murid Pak Tjokro, bahkan teman masa kecilnya tersebut. "Kembalilah setelah maghrib", pinta Bung Karno. Sepanjang hari Sang Proklamator gundah, berdoa bersimbah air mata. Setelah shalat maghrib, barulah Bung Karno mantap melangkah, tegas bertindak. Putusan itu ditandatangani, Kartosoewirjo, gembong DI/TII itu, akhirnya ditembak mati dan tamatlah riwayat NII.

Yang kini ada di depan mata, lebih dari Kartosoewirjo dan DI/TII. Kita bisa merasakan gejolak jiwa Bung Karno untuk menyetujui hukuman mati bagi rekannya sendiri. Sebab sesesat apapun ideologi Kartosoewirjo, harus diakui ia juga punya andil perjuangan. Sama-sama pernah melawan penjajah. Tetapi gerakan Khilafah tidak ada andil juangnya sama sekali. Relakah kita serahkan NKRI, Ibu pertiwi kita, yang merebut kemerdekaannya dengan kristalisasi keringat dan cucuran darah seluruh anak-anaknya, apapun suku, agama dan warna kulitnya, kepada "Khalifah gurun Syria", dan ramai-ramai kita berbai'at kepada orang yang tidak pernah ikut memeras keringat merebut kemerdekaan, bahkan kenalpun sama sekali tidak?

Kalau kamu diam, golput atau egois mengejar diskon tiket liburan ke luar negeri dan meninggalkan bilik suaramu, bisa jadi ketika kamu pulang liburan nanti, jangan-jangan merah putih tidak berkibar lagi, digantikan bendara hitam yang menyeramkan. Seperti Arjuna yang sudah diwejang Krisna berhasil mengatasi "ewuh pakewuh"-nya karena harus melawan guru dan saudara-saudaranya, seperti Bung Karno yang akhirnya berhasil melewati romantisme pertemanannya dengan Kartosoewirjo demi tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan keselamatan rakyatnya, maka tegas berkata "No!" kepada ideologi Khilafah yang anti-Pancasila ialah panggilan suci dari Ibu Pertiwi itu sendiri.

Dalam gejolak jiwa yang mungkin sama, saya memohon tuntunan Ilahi agar mampu bersikap senetral mungkin, menghindari kutub-kutub pilihan politik praktis. Namun akhirnya saya harus berpihak, yaitu berpihak kepada akal sehat: "Jangan memilih yang berteman dengan kaum teroris!" Mengapa? Kebaikan apapun yang kamu dambakan dari mereka yang tidak bisa menghormati ibumu sendiri, mustahil kamu akan mendapatkannya".

Bagaimana kita mendamba rahmat dari mereka yang menganggap semua pihak yang berbeda adalah kaum kafir? "In the world of the mind", di kota suci Yerusalem, tatkala saya bermazmur dalam iringan kecapi Nabi Daud, kudengar ucap Raja Israel itu dalam keluh: אֲ‍ֽנִי־ שָׁ֭לוֹם וְכִ֣י אֲדַבֵּ֑ר הֵ֝֗מָּה לַמִּלְחָמָֽה "Anī shalom we kī adabber ḥemmah lamilḥamah" (Maz. 120:7 "Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang!"). Semoga kita cerdas membaca tanda-tanda zaman.

Jerusalem, 4 Maret 2019.

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Kebangsaan

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : (Menyusul)

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK