KANĪSAH AL-QIYAMAH (GEREJA KEBANGKITAN), YERUSALEM: SAKSI BISU PASANG SURUT TOLERANSI DI KOTA SUCI

Text to Speech




(Suatu Refleksi Menyambut Pilpres 2019)
1. CATATAN AWAL

Kota suci Yerusalem dikuasai Muslim sejak Khalifah Umar bin Khattab, yang mengirim pasukannya di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Ekspedisi militer yang dikenal dengan perang Yarmuk ini merupakan pukulan maut bagi Bizantium. Sejak saat itu sejumlah kota jatuh ke tangan Muslim, satu demi satu. Setelah Damascus, Syria, disusul kemudian dengan kota suci Yerusalem pada tahun 637 M.

Konon, ketika pasukan Muslim telah mengepung Yerusalem, Shafranius, Patriarkh Gereja Ortodoks Yunani di Yerusalem, tak bersedia menyerah kecuali Khalifah Umar sendiri yang datang untuk menerima peralihan kekuasaan itu secara langsung. Sang Khalifah yang terkenal bersahaja itu memutuskan berangkat dari Madinah ke Yerusalem. Setibanya di kota suci, Umar disambut ramah oleh Shafranius, lalu diajaknya untuk mengelilingi kota Yerusalem, tak terkecuali Gereja Kubur Suci, tempat tubuh suci Sang Kristus pernah dimakamkan.

Sebenarnya Gereja Kubur Suci adalah situs kubur kosong, sebab akhirnya Kristus bangkit dari antara orang mati dan ارْتَفَعَ إِلَى السَّمَاءِ "irtafa'a ila as-sama'i" (Mrk.16:19, The Arabic Gospel: "terangkat ke surga"). Karena itu, nama asli dari gereja ini dalam bahasa Yunani adalah Ναὸς τῆς Ἀναστάσεως "Naos tes Anastaseos", yang sekarang lebih populer dikenal dalam bahasa Arab: كنيسة القيامة "Kanīsah al-Qiyāmah" (Gereja Kebangkitan). Nah, gereja paling penting bagi umat Kristiani di seluruh dunia ini menjadi saksi bisu pasang surutnya sejarah toleransi antarumat beragama, khususnya antara Islam-Kristen di Tanah Suci.

2. ANTARA TOLERANSI UMAR DAN SHALAHUDDIN VS. FANATISME AL-HAKIM

Relasi kekerabatan Kristen-Islam di Yerusalem dibuka dengan kisah toleransi luar biasa yang ditunjukkan oleh Umar. Sejarawan Muslim Ibnu Khaldun (1333-1406 M) mencatat, ketika Sang Khalifah mengunjungi Kanīsah Al-Qiyamah, tibalah waktu shalat, Patriarkh mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja ini, namun Umar menolaknya. Mengapa? "Kalau aku shalat di gereja ini", kata Umar memberi alasan, "kaum Muslim kelak sesudahku akan mengambil gereja ini dan berkata: "Di sini dahulu Umar pernah shalat". Umar menjamin hak-hak orang Kristen di Tanah Suci yang dituangkan dalam ميثاق إيليا, "Mitstāq Iliyā" (Perjanjian Iliya).

Lalu Khalifah Umar minta ditunjukkan situs بيت المقدس "Bait al-Maqdis" (Ibrani: בֵּית־הַמִּקְדָּשׁ "Beit HaMiqdash"), yang disebutnya dalam term Islam مسجد "masjid". "Sekarang tunjukkan padaku tempat itu", pinta Umar kepada Shafranius, "yang di atasnya aku dapat mendirikan sebuah masjid!". “Di atas Karang Suci (Shakhrah)", jawab Sang Parriarkh, "tempat dahulu Allah berfirman kepada Nabi Ya’qub". Umar mendapati banyak darah, sampah dan kotoran di atas karang suci itu, lalu membersihkannya, yang diikuti oleh para tentaranya.

Umar dan kaum Muslimin kemudian shalat di atas shakhrah yang sudah dibersihkan itu. Dahulu pernah dibangun masjid sederhana dari kayu, yaitu Masjid Umar yang terletak di Bukit Bait Suci, yang kini berdiri "Masjid Qubbat Al-Shakrah". Masjid yang lebih populer disebut dalam bahasa Inggris "Dome of the Rock" ini, dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (691 M), sedangkan Al-Walid, putranya, pada tahun 715 M juga membangun الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى "al-Masjid al-Aqsha". Penamaan masjid ini diambil dari Al-Qur'an: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى "Subhāna
alladzi bi'abdihi asrā laylan min al-Masjīd al-Harām ila al-Masjīd al-Aqshā". Artinya: "Maha suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha..." (Q.s. Al-Isra'/17:1).

Konon timbunan sampah di atas karang suci itu akibat kemarahan St. Helena, seperti tulis Ibnu Khaldun: وأمرت بطرح الزبل والقمامات على الصخرة حتى غطاهها وخفي مكانها جزاء بزعمها لما فعلوه بقبر المسيح "Wa amarat bitarḥa al-zabalu wa al-qumāmātu 'ala ash-shakhrat hattā ghathāhihā wa khafiya makānuhā jazā'un biza'mihā lahā fa'alûhu bi qabr al-Masīḥ (Dan Helena memerintahkan agar kotoran dan sampah dilemparkan ke atas karang itu hingga seluruhnya tertutup oleh sampah dan kotoran itu dan letak karang itu tersembunyi. Helena menganggap tindakan ini sebagai balasan kepada kaum Yahudi karena perbuatan penghinaan mereka terhadap kubur Kristus).

Toleransi yang sama dari pemerintahan Muslim juga diperlihatkan oleh Sultan Saladin al-Ayubi, bahkan di saat berkecamuknya pernah salib. Saksi hidup yang masih bisa dilihat di Yerusalem sampai hari ini adalah fakta bahwa pembuka pintu Gereja al-Qiyāmah adalah Muslim, yaitu dari عائلة نسيبة 'Āilat Nusaybah" (keluarga Nusaibah) . نسيبة "Nusaybah" (dialek Arab setempat "Nuseibeh") adalah keluarga Muslim tertua di Yerusalem. Nama keluarga ini diambil dari salah seorang kaum Anshar di Madinah, sahabat nabi Muhammad, yaitu Nusayibah binti Ka'ab. Sedangkan pemegang kunci gereja juga seorang Muslim, yaitu keluarga Joudeh Al-Goudia, yang mengemban tugas mulia ini turun temurun sejak zaman Sultan Saladin Al-Ayubi pada tahun 1192.

Meskipun pembukaan pintu gereja ini simbolis, namun pelibatan dua keluarga Muslim sejak zaman Kalifah Umar dan Sultan Saladin ini telah membantu menciptakan stabilitas di kalangan Kristen, karena Kanīsah al-Qiyamah dibagi dalam beberapa kapling gereja yang tak jarang saling bertikai. Aturan yang ditegakkan Umar ini menjadi bukti toleransi yang luar biasa di kota suci Yerusalem sampai sekarang. Namun sejarah panjang relasi Islam-Kristen di Tanah Suci juga pernah mengalami pasang surut.

Lembaran sejarah hitam fanatisme agama, juga dengan mudah dapat dikenukakan di sini. Misalnya, pada zaman dinasti Fathimiyya, era kekuasaan Abu Ali Manshur Al-Hakim (996-1021 M), ditandai tindakan-tindakan kejam, pembunuhan dan penghancuran gereja-gereja di wilayah kekuasaannya, salah satunya pada tahun 1009 penghancuran Gereja Makam Kudus di Yerusalem. Selanjutnya, pada masa dinasti Mamluk Al-Bahri, umat Kristen Koptik kehilangan lebih dari separuh anggotanya karena pemaksaan agama, penganiayaan dan pembunuhan. Donald P. Little dalam "Coptic Conversion to Islam under the Bahri's Mamluk (692-755/ 1293-1354) mencatat bahwa masa ini benar-benar "was a key turning point in the history of the Copts under Islamic rule because it was at this time that they were reduced to a small minority" (1976:552-569).

3. "KHALIFAH" DALAM SISTEM KHILAFAH HIZBUT TAHRIR: NEGARA ABSOLUT DAN PEMERINTAHAN AUTOKRATIS

Para pendukung ideologi khilafah suka mengutip dan mengulang-ulang kisah toleransi Khalifah Umar untuk meyakinkan bahwa kaum non-Muslim akan dilindungi kalau mereka berkuasa. Padahal kisah-kisah toleransi seperti yang diperlihatkan pada kasus Umar dan Saladin lebih disebabkan oleh kebijakan personal sang pemimpin, bukan terletak pada keunggulan ideologisnya yang menjamin kesetaraan di setiap warga negara di depan hukum (the equality before the law).

Jadi, sebaik-baik sistem teokrasi yang ditawarkan selalu mengandung kelemahan, karena klaim kebenaran agama penguasa yang men-"subordinasi"-kan agama-agama lain di bawah Islam, sehingga kedudukan warga negata tidak setara. Sebaliknya, seburuk-buruk sistem demokrasi, kelemahannya lebih terletak pada penegakannya, sedangkan asas-asasnya relatif lebih universal. Apalagi kalau teokrasi yang ditawarkan adalah "Khilafah" a la Hizbut Tahrir, yang mengidentikkan Sang Khalifah dengan negara itu sendiri. "Khalifah adalah negara", tegas Taqiyuddin an-Nabhani (1909-1977), pendiri Hizbut Tahrir dalam bukunya ميثاق الأمة Mitstāq al-Ummah, "dan ia mempunyai seluruh kekuatan dan fungsi negara" (Rofiq, 2012:182-183).

Jelaslah bahwa model seperti ini tidak berbeda dengan penyerapan teori personalitas dalam negara absolut dan ciri otoriterianisme dari pemerintahan autokratis. Jadi, dalam sistem teokrasi seperri itu tidak ada jaminan kebebasan beragama, kecuali tergantung belas kasihan khalifahnya. Kasus khalifah Al-Hakim menjadi contoh buruk kehidupan beragama. Ketika khalifah terhasut, secepat putusan hukum yang keluar dari mulutnya, Gereja Al-Qiyamah di Yerusalem dan gereja-gereja lainnya telah diratakan menjadi tanah dan banyak nyawa melayang dalam sekejap. Sebailknya, ketika hatinya tersanjung, Khalifah menjadi bak "dewa penolong" bagi siapa pun juga yang bisa menyenangkan hatinya.

4. REFLEKSI AKHIR

Seperti dikatakan oleh Hendropriyono, Pilpres 2019 bukan lagi sekedar kompetisi antara Jokowi vs. Prabowo, tetapi pertarungan ideologis antara Pancasila vs. Khilafah, antara Demokrasi vs. Otoriterianisme yang bersolek kesalehan Islam. Hanya orang-orang dungu yang memilih "Golput" karena tidak bisa memuaskan idealisme subyektifnya, sementara negerinya darurat Ideologi. Ibarat orang sedang mengecat rumah, bingung memilih warna yang paling "kinclong", percikan api sudah merambat dan seluruh bangunan rumah segera "kobong".

Pihak sana mungkin bisa saja berkata "Kami Pancasilais, mana mungkin mendukung Khilafah". Mungkin benar, mereka bukan pendukung Khilafah. Tetapi mengapa mereka ber-"asyik masyuk" dengan HTI, organisasi yang di negara-negara Islam sendiri justru dilarang? Apakah mereka tidak mengetahui sistem "Khilafah" yang diperjuangkan HTI, sehingga mereka diam saja ada yang menumpangi dengan slogan "2019: Ganti Sistem, Ganti Presiden!"? Jadi. tanpa sadar ditunggangi HTI dengan "Khilafah"-nya, atau malah "main api" dengan mereka? Padahal jelas Khilafah a la HTI adalah Ideologi anti Nasionalisme dan anti Demokrasi.

Karena itu, merujuk kepada Perpu Nomor 2 Tahun 2017, pemerintah membubarkan HTI dengan SK Menkumham Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017. Nah, kalau memang pihak sana tidak mendukung Khilafah, mengapa ketika HTI dibubarkan mereka hanya diam? Malah mereka turut mengajukan gugatan ke MK? Tahukah mereka bahwa kelompok HTI ini pernah berani dengan kurang ajar berkata: البنصاسيلا فلسفة كفر لا تتفق مع الاسلام "Al-Banshāsīlā falsafah kufur lā tattafiq ma'a al-Islām". Pancasila adalah falsafah kafir yang tidak sesuai dengan Islam (Rofiq, 2012:62, Nuruzzaman. 2017:107).

So, jangan diam dan jangan anggap enteng bahaya ideologi transnasional yang kini menabuh genderang perang menantang Pancasila, perjanjian luhur bangsa Indonesia. Orang yang merasa bisa mengendalikan mereka demi ambisi politik sesaat, setelah meraih kemenangan mereka pasti akan mengkhianatinya. Karena dalam "world of views" mereka, dunia ini hanya terbagi dalam 2 kutub: دار الإسلام "Dār al-Islām" (wilayah Islam) dan دار الحرب "Dār al-Harb" (wilayah perang). Di luar sistem politik yang mereka anut adalah kafir yang wajib di perangi.

Dan kalaupun mereka memegang komitmen terhadap sekutu politik mereka dalam Pilpres 2019, bukankah itu hanya lima tahun? Sementara kalian terlanjur menyerahkan masa depan bangsa kepada gerombolan fanatik anti-Pancasila, dan membiarkan mereka mengembangkan ideologi Khilafah mereka dengan segala fasilitas negara melalui "bagi-bagi kekuasaan" di kabinet? Ingat, Bung! Manusia dibatasi dsngan usia, sementara militansi ideologis mereka tidak akan mati selama mental ta'ashub (fanatisme) masih terus mereka tanamkan melalui halakah-halakah mereka. "Mikir!", kata Cak Lontong.

Cairo, 24 Maret 2019.

REFERENSI

1. Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun. Juz. 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1981).
2. Muhammad Suheil Thaqqusy, Bangkit dan Runtuhnya Dinasti Fathimiyah. Alih Bahasa: Masfuro Irham dan M. Abidun Zuhri ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015).
3. Ainur Rafiq al-Amin, Membongkar Proyek Khilafah (Yogjakarta: LkIS, 2012).
4. Donald P. Little dalam "Coptic Conversion to Islam Under the Bahri's Mamluk (692-755/1293-1354)", Bulletin of the School of Oriental and African Studies, London, Vol. 39, No. 3, 1976.
5. Muhammad Nuruzzaman, Catatan Hitam Hizbut Tahrir (Jogjakarta: Bdlibus Pustaka, 2017).

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Kebangsaan

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : (Menyusul)

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK