GUS DUR DAN AGAMA-AGAMA: ANTARA ORTHODOXIA, ORTHOPRAXIA DAN ORTHOLATRIA*)

Text to Speech

*) Makalah disampaikan dalam “Simposium Kristalisasi Prinsip Pemikiran Gus Dur”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid, di Hotel “Best Western”, Jakarta, 16 Nopember 2011.

Perkenalan saya dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur terjadi sekitar awal tahun 1990-an, ketika saya aktif sebagai pengurus Pusat GMKI. Sebagai seorang aktivis gerakan maha-siswa yang sering terlibat diskusi dengan ”Kelompok Cipayung”, dan dari teman-teman PMII saya banyak mengakses pemikiran-pemikiran Gus Dur. Saya selalu mengikti tulisan-tulisannya di beberapa Koran, khususnya Kompas. Kesan pertama saya, Gus Dur seorang yang sangat humanis, demokratris, dan mepunyai komitmen yang kuat kepada pluralisme, khususnya dalam hal kemajemukan agama-agama.

Pada tahun 1996, setelah peristiwa kerusuhan Situbondo, sekalipun saya tidak diundang dalam pertemuan tokoh-tokoh agama di Malang, yang antara lain didukung penuh oleh Prof. Wismoady Wahono dari GKJW, tetapi saya terus mengikuti perkembangan. Kala itu Gur Dur memerintahkan agar Ansor aktif dalam membantu gereja-gereja yang menjadi korban kerusuhan, bahkan juga melakukan investivigasi pasca-kerusuhan itu, yang hasilnya di balik kejadian itu memang ada “invisible hand” yang bermain di belakang peristiwa itu. Pada saat kejadian tersebut, kalau tidak salah, Gus Dur baru pulang dari Vatican, juga dalam rangka dialog lintas agama, berkaitan erat denganaktifitasnya di World Conference on Religion and Peace (WCRP). Dengan mengambil-alih tanggung jawab atas peristiwa Situbondo, bahkan “pasang badan” membela gereja-gereja, Gus Dur telah membuktikan komitmennya untuk membela kaum minoritas yang sering dikorbankan. Begitu juga dengan pembelaannya terha-dap umat Konghucu khususnya dan minoritas Tionghoa pada umumnya. Pada zaman Suharto budaya Cina terpinggirkan, Gus Dur pun “pasang badan” untuk membela perkawinan umat Konghucu.

Pembelaannya terhadap kaum minoritas di negeri ini berbasis pada pemahamannya teologisnya terhadap Islam yang moderat dan kultural. Saya masih tertingat, dalam sebuah artikelnya di Jawa Pos (maaf saya sudah lupa tanggal, bulan dan tahunnya), Gus Dur mengkritisi gaya dakwah K.H. Zainuddin MZ. yang lagi “booming” kala itu. Kritik Gus Dur khususnya dalam kaitan dengan ceramah Zainuddin yang sering mengangkat isu kristenisasi, dan komentar-komentarnya yang agak panas tentang pokok-pokok Iman Kristiani, khususnya berkaitan dengan gelar “Putra Allah” bagi Yesus, yang selama ini memang sering menjadi sumber salah paham Islam terhadap Kekristenan. Dengan pembelaannya terhadap umat Kristiani, tidak berarti Gus Dur menerima konsep Trinitas, misalnya. Bahkan berbareng dengan penolakan eksplisit Gus Dur atas ajaran Kristiani itu, tidak berarti lantas Gus Dur kehilangan sikap hangatnya terhadap ummat Kristiani.

Jadi, kalau saya memakali terminologi gereja, bahwa ada 3 kriteria kebenaran. Pertama, ajaran atau akidah yang benar (orthodoxia); Kedua, perilaku hidup yang benar atau praktek ajaran yang benar (orthopraxia); dan Ketiga, penyembahan atau peribadatan yang benar (ortholatria). Dalam hal ini, secara orthopraksi Gus Dur telah menunjukkan perilaku hidupnya yang benar, sesuai dengan pengalamannya ajaran “rahmatan lil ‘alamin” yang dihayatinya, tetapi secara orthodoksi berbareng dengan penghormatannya atas keyakinan agama-agama yang berbeda-beda, Gus Dur tetap berakidah Islam ahl as-sunah wa al-jama’ah seperti yang menafasi kiprah perjuangannya di NU, dan secara ortholatria Gus Dur tetap melaksanakan salat dan ibadah-ibadah lainnya menurut ajaran Islam.

Nah, pada hemat saya secara ortohoxia Gus Dur adalah seorang Muslim 100%, sedangkan dua kriteria kebenaran sisanya, yaitu orthodoxia dan ortholatria, Gus Dur justru me-nyiapkan “ruang-ruang dialog” – paling tidak meskipun tidak bisa mencapai kalimatun sawa’ (titik temu) seperti ayang diamanatkan Al-Quran, surah Al-Ma’idah ayat 64 – tetapi dengan dibukanya ruang-ruang dialog tersebut, maka diantara penganut agama yang berbeda-beda dapat saling membangun kesalingfahaman. Mungkin dalam rangka itu, Gus Dur (bersama Hasyim Wahid, saudaranya) pernah menerjemahkan buku seorang teolog Syi’ah, Sayyed Husein Nasr, Ideals and realities of Islam, diterbitkan dengan judul Islam dalam Cita dan Fakta, diterbitkan Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional (Leppenas), Jakarta, 1981. Catatan saya ini, minimal dapat menepis kesalahfahaman beberapa kolompok Islam yang berse-berangan dengannya melalui kampanye “anti-pluralisme” mereka, yang sejatinya hanya me-nyalahfahami gagasan Gus Dur. Bagi para penentang pemikiran Gus Dur, pluralisme dipahami seolah-olah “menyamakan semua agama”, padahal bagi Gus Dur tidak mungkin menyamakan semua agama, melainkan mem-“bersama”-kan umat beragama yang berbeda-beda.

Dan dalam hal ini, tidak ada ruang yang sama sekali tdak dapat didialogkan secara terbuka, termasuk masalah perbedaan teologi. Seyyed Hussein Nasr, memberikan contoh yang menarik, bahkan perbedaan teologis yang sangat krusial pun ternyata dapat didialogkan. Nasr mencontohkan, selama ini membandingkan Islam dan Kristen dengan membandingkan Muhammad dan kristus, Qur’an dan Injil, dan seterusnya, mungkin dapat menjelaskan struktur dari kedua agama. Tetapi untuk memahami arti Qur’an bagi Muslim dan mengapa mereka yakin Nabi Muhammad buta huruf, Nasr harus membandingkannya dari sudut lain. Dalam Islam Qur’an adalah Firman Allah, sedangkan dalam Kristen, Kristuslah yang menjadi Firman-Nya. Dalam Kristen Maria adalah alat yang digunakan Allah untuk turunnya Firman menjadi manusia, dan dalam Islam alat itu Muhammad. Muhammad buta huruf, seperti Maria adalah perawan, karena firman dan petunjuk Tuhan harus disampaikan melalui sesuatu yang murni. Dan kemurnian itu keperawanan Maria, seperti kebutahurufan Muhammad dalam Islam, sehingga Firman-Nya terjaga secara murni tanpa campur tangan manusia (hlm. 22-23).

Ini sekelumit contoh bahwa tema yang selama ini dianggap sensitif pun, ternyata bisa didialogkan. Saya yakin, ketika Gus Dur menerjemahkan buku Nasr ini, harapannya bisa terbangun dialog teologis yang lebih fair antara kedua agama Ibrahim (The Abrahamaic religions) tersebut, disamping dialog antar sesama Muslim sendiri, dalam hal ini adalah Suni-Syiah. Selanjutnya, mengenai kebenaran secara ortholatria, Gus Dur juga sangat menghormati ekspresi peribadatan yang berbeda-beda dari berbagai agama. Ini tampak dari sambutan yang antusias, bahkan kehadirannya di acara-acara Ashram Gandhi Bali Vidyapith, yang dahulu sering digelar oleh Ibu Gedong Bagoes Oka, salah seorang sahabat Hindu yang cukup disegani Gus Dur. Lalu (nah, ini yang sering menimbulkan protes dari teman-teman Muslim yang tidak sepaham) penerimaan dan pembelaan Gus Dur atas aliran-aliran sempalan dari agama-agama, seperti Mormon dan Jehovah’s Witnesses di lingkungan Kristen, Ahmadiyah di lingkungan Islam, Hare Krisna di lingkungan Hindu, bahkan agama-agama baru seperti Bahai dan Brahman Kumaris, dan sebagainya. Tetapi bagi Gus Dur yang harus dibela bukan keyakinan Mormon atau Ahmadiyah, tetapi hak hidup mereka sebagai warga negara. Disini Gus Dur sekali lagi membuktikan komitmennya kepada nilai-nilai HAM dan realitas kemajemukan yang menjadi minat sejak semula.

Pada awal-awal reformasi, saya diundang teman-teman MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama) untuk da bersama lintas Agama di rumah Gus Dur, sebuah “acara ritual lintas agama” yang marak pada zaman Gus Dur. Saya datang sebelum acara dimulai. Gus Dur semat nanya, “Sampeyan mewakili agama apa?” “Saya Kristen Ortodoks Syria, tapi saya bukan Abuna (Pastor). Ini hanya komunitas studi”, jawab saya. Gus Dur mendorong saya untu turut mengisi doa menurut tatacara Kristen Syria, padahal saya merasa tidak pas, karena saya tidak berhak mewakili hirarki. Karena itu saya hanya pakai baju biasa, karena memang saya bukan imam. “Tidak apa-apa, ini bisa menjadi wacana yang penting”, kata Gus Dur. Sayapun mencontohkan doa dalam bahasa Arab, setelah sebelumnya saya menyanyikan beberapa lagu pujian dalam bahasa Aramaik. Sejak saat itu Kristen Syria menjadi wacana dalam menembus kebuntunan dialog Islam-Kristen, baik teologis maupun terutama secara kultural. Karena selama ini Kristen yang berkembang di Indonesia semua dari Barat, dan merepresentasikan budaya Barat, sehingga secara kultural sering benturan dengan Islam yang merepresentasikan budaya Timur Tengah.

Dialog-dialog keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan adalah merupakan tema-tema yang selalu digumuli Gus Dur, khususnya dalam rangka membangun kesalingpahaman demi membangun masa depan bersama. Setelah Gus Dur menjadi Presiden, suatu kali saya bertemu beliau. Saya sampaikan bahwa saya mau menulis spiritualitas para Founding Fafhers, misalnya bagaimana “Islam”-nya Bung Karno, Bung Hatta, dan sebagainya, yang bisa member ruang kepada “yang lain”. Saya minta saran Gus Dur, karena saya mau menulis tentang “Islam”-nya Sukarno, yang “agak aneh” menurut ukuran orthodoksi, karena Bung Karno lebih banyak hapal Baghawad Gita Hindu, ayat-ayat Injil, dan cerita pewayangan. Juga, kritiknya sangat tajam terhada dunia pesantren. Bahkan justru ayat-ayat Baghawad Gita yang dibacanya dalam pidatonya berjudul “Tauhid adalah Jiwaku”, ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa di bidang ilmu Tauhid oleh Universitas Muhammadiyah, Jakarta, 3 Agustus 1965.

“Apa ini nggak menimbulkan tantangan yang eras, Gus?”, tanya saya. “Kalau takut ya jangan nulis”, jawabnya seenaknya. Tatapi itu justru memacu semangat saya untuk menyelesaikannya. Dan ketika buku Religi dan Religiusitas Bung Karno itu terbit (2000), Gus Dur bersedia memberikan “Kata Sambutan”. Sudah saya duga, Gus Dur pasti setuju dengan “passing over” spiritualitas Bung Karno. Bung Karno yang engakrabi semua tradisi spiritual, dengan bahasa teologisnya yaang gapang dituduh sinkretis, justru dipuji Gus Dur sebagai pemikiran dan penghayatan keagamaan yang lapang, inskusif dan toleran yang mendasari tindakan dan kiprah perjuangannya (hlm. xiii-xiv). Menurut Gus Dur juga, buku Religi dan Religiusitas Bung Karno, menghadirkan sebuah pandangan keagamaan yang unik dan khas bergaya soekarnois. Sebagai sebuah wacana, pemikiran kristis terhadap Bung Karno harus tetap terbuka, kendati tak ada yang meragukan perigiusitas dan penghayatannya yang mendalam terhadap Islam yang dipeluknya (hlm. xiv). Jadi, Gus Dur mengakui bahwa tidak semua pemikiran Bung Karno harus disetujuinya.

Akhirnya, pemikiran Gus Dur yang tidak kalah kontroversialnya adalah soal hubungan agama dan negara. Gus Dur pernah menegaskan, bahwa maraknya peristiwa-peristiwa keke-rasan atas nama agama, seharusnya penerintah segera menegaskan arah perjalanan kebangsaan kita: “Memilih negara agama atau negara sekuler?” Mungkin mksud Gus Dur dengan “negara sekuer”, tidak seekstrim praktek sekularisasi di negara-negara Barat, dimana agama didepak dari percaturan politik. Tetapi alih-alih, statement Gus Dur itu membuat orang sibuk memperdebatkan kembali definisi sekularisme. Begitu juga penegasan Gus Dur bahwa dalam Islam tidak ada kewajiban untuk membentuk negara Islam. “Kita tidak usah mencari-cari negara yang ideal, karena memang tidak ada yang ideal. Islam tidak menyebutkan negara yang ideal, dan juga tidak mengharuskannya. Saya lebih melihat kepada pencapaian cita-cita Islam yang sebenernya, misalnya keadilan dan kemakmuran, dan kesamaan diantara semua umat manusia. Kalau kita masih berpikiran bahwa Islam harus lebih dari yang lain, itu tidak islami dan justru bertentangan dengan Islam”. Dalam konteks Indonesia, memang tidak pena hada kesepakatan ideologisasi Islam, karena dalam rentangan sejarahnya yang panjang Islam di Indonesia justru muncul sebagai Islam kultural.

Bagi Gus Dur, ideologisasi Islam yang kemudian dijadikan sebuah upaya politik yang didasarkan atas penafsiran tekstual dan radikal terhadap teks-teks keagamaan, sama sekali tidak mencerminan mayoritas Islam di Indonesia. Dalam artikelnya berjudul “Surga dan Agama”, yang ditulisnya 23 Oktober 2005, beberapa hari setelah tertembaknya Dr. Azhari di Batu, Guss Dur kembali mengutuk gerakan terorisme dengan segala bentuknya. “Negara kita berpegang kepada ungkapan Mpu Tantular, “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda namun tetap satu), tegas Gus Dur. “Kaum Muslimin di negeri ini telah sepakat untuk menerima adanya negara yang bukan islam. Ia dicapai dengan susah payah melalui cara-cara damai. Jadi paatutlah dipertahankan oleh kaum Muslimin. Karena itu, kita menolak terorisme dengan segala bentuk-nya. Jika mereka yang menyimpang belum tentu masuk surga, apalagi mereka yang merekomendasikan untuk itu”.

Masih banyak pemikiran-pemikiran Gus Dur yang tetap relevan, khususnya di tengah-tengah bangsa dan negara yang mengalami krisis multi dimensi seperti sekarang ini. Gus Dur memang sudah meninggalkan kita, tetapi pemikiran-pemikirannya dan komitmennya kepada ke-bangsaan melalui humor-humor segarnya, yang selalu mewasiatkan kesetaraan dan per-saudaraan umat manusia mengatasi sekat-sekat agama dan aliran, akan terus bergema dalam hati kita. Spirit itu tidak akan pernah mati, dan bahkan ketika ia terus berkobar-kobar di setiap dada kita, saat itu serasa Gus Dur selalu bersama kita. ***


***) Penulis adalah pengamat hubungan linta agama dan pendiri Institute for Syriac Culture Studies (ISCS), kini tinggal di Malang.


Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Premium Artikel

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK