VOICE OF PANCASILA

Text to Speech
HINNEH MA TOV UMANAIM
Demi kejayaan Indonesia, bagian dari tamansari dunia, seharusnya kita bersatu. Tapi mengapa kita lebih suka bertikai, hanya karena suku, adat, budaya dan keyakinan kita berbeda? Sampai kapan salib terpisah dengan bulan sabit di hadapan sang merah putih? Padahal kebhinnekaan adalah warisan perjalanan bangsa kita selama berabad-abad. Jangankan satu generasi, sepuluh generasipun tidak ada yang bisa menghilangkan rahang Batak atau sipit Tionghoa, ikal mayang Papua atau kuning langsat Minahasa. Lidah Bali atau sawo matang Jawa. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi satu. Marilah kita kokohkan persatuan kita. Kita satu, satu, satu laksana satunya lima jari dalam satu kepalan. Seperti tertulis dalam Kitab Zabur: “Alangkah baiknya dan indahnya kalau semua saudara diam bersama dalam rukun”. Hinneh matov umanaim syevet akhim gam yakhad (Mazmur 133:1).
NA’TIY ILAIYKA
Qari’ :   Wa kaana waahduhum yunaadal akhar, wa hakadza yaquulu lirraab (Koor: Barakatullaah ‘alaina Amiin):
Qari’ :     Quddus, Quddus, Quddusur rabbul Qadiir. Wal ardhu kulluhaa mamluu’atun min majdih (2x).
(Koor: Almajdu lillahi da’iman).
Artinya: “Dan berseru seorang kepada yang lain, demikian katanya kepada TUHAN. Berkat Allah kiranya atas kita semua. Kudus, kuduslah, kuduslah TUHAN Allah Yang Maha Kuasa. Dan seluruh bumi dipenuhi dengan   kemuliaan-Nya).
Intro lagu: Ya Ayyuhal Muhkhalish, Anta huwa Malik al-muluk. Ya Masih, na’tiy ilaika. ***
VOICE of PANCASILA
Realitas kemajemukan bangsa  adalah  warisan sejarah panjang perjalanan Indonesia selama berabad-abad sebagai karunia SANG PENCIPTA. Dengan luas wilayah yang hampir 2 juta kilometer persegi, terdiri dari sekitar 13.700 pulau besar dan kecil, lebih dari 300 ragam etnis,  dengan adat istiadat, budaya dan keyakinan agama yang berbeda-beda, menyimpan potensi keretakan yang kapan saja bisa mengemuka apabila tidak ada alasan atau raison de’etre sebagai bangsa untuk bersatu.
Semakin suatu bangsa menerima warisan kemajemukan, semakin bangsa itu arif mengelola perbedaan. Heterogenitas Mesir yang menerima warisan peradaban-peradaban besar dunia, mengembangkan pemikiran keagamaan yang jauh lebih toleran, insklusif dan terbuka, dibanding negara-negara padang gurun atau negara-negara Barat abad pertengahan yang lebih homogen. Baru tahun 1882, setelah pemisahan Belgia dari Belanda karena faktor Katolik-Protestan, Ernest Renan menyadari bahwa kesamaan agama tidak bisa dijadikan dasar yang kokoh mendirikan suatu bangsa. Padahal lebih dari 500 tahun sebelum itu, Mpu Tantular pada tahun 1380 sudah menyadarinya, tercermin dari ucapannya seperti tercantum dalam Kakawin Sutasoma: Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa (Berbeda-beda tetapi Satu, tidak ada kebenaran spiritual yang mendua).
Raison de’etre  untuk menjadi satu bangsa, bukan sekedar perasaan subjektif para pendiri bangsa menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, melainkan mendapatkan pijakan sejarah selama berabad-abad bahkan beribu-ribu tahun, sebuah Philosophie Gronslag  yang kini kita sebut Pancasila. NKRI lahir karena Pancasila, dan tidak mungkin mempertahankan NKRI tanpa Dasar Negara Pancasila. Merdeka! ***
VOICE of PANCASILA
Jauh sebelum kedatangan Hindu, Buddha, Islam dan Kristen, bangsa Indonesia sudah ber-Tuhan. Sebagai bangsa yang besar, laksana samudara luas yang menampung aliran anak-anak sungai, semua pengaruh luar disambut dan diterima. Dalam sebuah naskah Sunda kuno yang berasal dari paroh abad V Masehi berjudul Sang Hyang Siskakanda ng Karesian, Hindu disambut ramah: Hongkara Namo Siwa, dan Buddha dipersilakan masuk: Sembah ring Hulun Sang Pancatatagata, namun keduanya direfleksikan kembali dalam semangat “Bhinneka Tunggal Ika”. “… mangkubhumi bakti di ratu, ratu bhakti di dewata, dewata bakti di Hyang”. Artinya: “Mangkubumi berbakti kepada raja, raja berbakti kepada dewata, dan dewata berbakti kepada Hyang.
Dewata adalah simbol pengaruh Hindu-Buddha, dan Hyang adalah sebutan asli Indonesia untuk Tuhan Yang Maha Esa. Dari kata ini muncul kata sembahyang (“menyembah Tuhan”). Pada puncak keemasan Majapahit, prinsip KeTuhanan Yang Maha Esa disebut Sri Parwata Raja, yang bukan Hindu dan bukan Buddha, tetapi memberi ruang terbuka bagi Hindu dan Buddha. Tuhan disebut nataning anatha, patining jagadpati, hyang ning hyang inisthi (Pelindung mutlak, raja segala raja, Tuhan dari segala Tuhan menurut agama masing-masing. Meskipun majoritas beragama Hindu, tetapi Majapahit bukan negara agama, melainkan sebuah Nationale Staat (negara nasional). Karena bukan tanpa kebetulan, para Founding Fathers kita banyak merujuk kepada negara nasional Sriwijaya dan Majapahit “sebagai sebuah model” bagi NKRI yang mereka dirikan.  
Saudara-saudara, para pendiri Republik ini telah menyelesaikan tugas sejarahnya. Indonesia bukan “negara teokrasi” yang hanya didasarkan atas agama tertentu, karena bertentangan dengan kemajemukan agama-agama menjadi warisan sejarah bangsa selama ribuan tahun. Tetapi Indonesia juga bukan “negara sekuler”, karena degub dada setiap rakyat Indonesia memuliakan Tuhan, menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kini tugas sejarah kita adalah mempertahankan NKRI, dan tidak mungkin NKRI tetap tegak berdiri tanpa PANCASILA. Merdeka!  
VOICE of PANCASILA
Alkisah, Iring-iringan kapal Nabi Sulaiman sampai di Ofir dari Ezion-Geber di Teluk Akaba, dengan menggunakan kapal-kapal Tarsis, kapal yang biasanya untuk mengangkut biji-bji besi, untuk mengimpor 14.000 ton emas dari Ofir. Selain emas, darti Ofir juga diimpor ke Yudea perak, gading, kayu cendana dan batu-batu permata yang mahal. Pelayaran ke Ofir memerlukan waktu lamanya 3 tahun.
Jalur perdagangan dari Laut Tengah  ke Ofir ini juga dibuktikan dengan temuan inskripsi lempengan yang ditemukan di Tell Qasileh (Afek), timur Laut Tel Aviv modern, tahun 1946. Inskripsi itu tertulis dalam bahasa Ibrani: Zehab ‘Ofir le Beyt Horon (Emas ‘Ofir untuk rumah Horon).
Sejarawan Yosephus dari abad I mengidentikkan dengan Supara, 75km dari utara Bombay, India. Semua barang dagangan yang disebut termasuk kera, memang ada di India purba, dan sejak millennium 2 SM memang sudah ada jalur perdagangan laut dari Teluk Persia dan India. Masalahnya, India sendiri bukan penghasil emas yang besar, dan sumber-sumber sejarah India justru menyebut bahwa Sumatra sebagai “Suvarna Dwipa” (pulau emas). Hal ini dibuktikan dari seloka Srimad Valmiki-Ramayana (abad pertama M), yang berbunyi: Yatnavanto Yavadwipam, Saptarajyo-pasohitam, Suvarnarupyakapwipam, Suvarnakamanditam. Artinya: “Jelajahilah tanah Jawa, dan tujuh wilayah kerajaan menjadi hiasan. Nusa merah putih, tanah Sumatra yang bertambang emas”.
Selanjutnya, sabda Nabi Ayub: Ia tidak dapat dinilai dengan emas India -- Non conferetur tincis Indiae (Ayub 28:16, Vulgata), harus dimaknai bukan benua India, tetapi “negeri-negeri di pulau-pulau laut India”. Negeri ini eksistensinya sudah disebut dalam Kitab Yesaya 24:15-16 sebagai “negeri-negeri di pulau-pulau laut”. Jadi, Tanah Nusantara bukan hanya sudah diagungkan penulis Ramayana India dari abad I Masehi, tetapi jauh sebelum itu sudah dikenal pada zaman Nabi-nabi, khususnya Nabi Daud dan Sulaiman pada abad IX SM. Saudara-saudara, kita adalah bangsa yang besar. Dinding berlapis emas Baitul Maqdis  di Yerusalem didatangkan dari Ofir, yang tidak lain adalah Tanah Nusantara, Nusa Merah-Putih. Marilah kita bangun NKRI yang berdasar Pancasila, tiada NKRI tanpa Pancasila. Merdeka!
 
The VOICE of PANCASILA
Minat bangsa Romawi untuk mengetahui “negeri di lautan yang jauh” sudah terjadi saat Kaisar Agustus berkuasa, antara tahun 27 – 14 SM. Tetapi mereka tidak berhasil, seperti dilaporkan ahli ilmu bumi Roma, Strabo. “Tidak ada 20 orang kapten kapal”, tulis Strabo, “yang berani berlayar ke Teluk Arab, sampai mereka dapat mengetahui apa yang dijual di wilayah sebelah sana lagi”. Bahkan Plinius, penulis Romawi lain dari abad yang sama, dalam bukunya Perilplous tes Erythras Thalasses, mengakui kegagalannya: “Di sebelah sungai gangga masih ada pulau di tengah-tengah samudara, namanya Pulau Emas (Chrysos chersonesos). Daerah-daerah di sebelah timurnya lagi tidak dapat diselidiki, sebab disatu pihak dimustahilkan oleh badai dan hawa dingin yang hebat, dan di pihak lain karena kehendak para Dewa”.
Barulah pada awal tarikh Masehi, wilayah Nusantara bukan lagi daerah tertutup yang tidak diketahui bagi mereka. Padahal jauh sebelum itu, para pelaut Indonesia sudah menjadi pelopor utama dalam bidang perkapalan internasional antara India, Tiongkok dan Afrika. Sejarah Negara Madagaskar mengakui, bahwa penduduk mereka yang disebut suku Malagasi, ternyata adalah keturunan para pelaut Nusantara.  Kita adalah turunan bangsa yang besar, tetapi mengapa kini kita terpuruk? Salah satu sebabnya kita telah kehilangan jatidiri bangsa, kita lebih suka mengekor pada bangsa-bangsa lain, yang sebenarnya tidak mempunyai warisan sejarah gemilang seperti kita. Marilah kita kembali kepada jatidiri bangsa kita, dan mencintai “Tanah-Air” kita. Tanah tempat kita berpijak, Ibu pertiwi yang menghidupi kita. Air yang melingkupi pulau-pulau kita, yang juga memberi hidup dengan kekayaan lautnya. Sekali lagi, marilah kita kembali ke Jati diri bangsa kita, NKRI yang berdasarkan Pancxasila. Merdeka!
Voice of PANCASILA
Acena sardham viharambudares, tiresu taliva-namarmaresu dwipantaranita lawanga purpair, apakertsavedalama marudbih. “Bermain-main bersama di tepian samudara, penuh suara riuh daun-daun palma, ketika tetes-tetes keringat diterpa oleh angin sepoi-poi yang membawa kembang cengkih dari tanah Nusantara”. Demikianlah bunyi syair Kalidasa dari India, ditulis abad IV M, yang memuliakan tanah Indonesia yang disebutnya Dwipantara, “negeri diantara dua benua dan dua samudra”.
Salah satu kekayaan Nusantara adalah rempah-rempah, yang sejak zaman kuno menjadi komoditi yang diperebutkan pasar India, Cina dan Eropa. Sejarah mencatat, bahwa Mongolia pernah menjadi negara adikuasa pada zamannya. Kaisar Jenghis Khan menguasai sepertiga dunia. Kublai Khan pun mengincar kekayaan tanah Nusantara. Untuk itu, Kertanegara, Raja Singasari, melahirkan konsep Persatuan Nusantara. Ekspedisi yang dikenal dengan Pamalayu, sesungguhnya adalah jalan diplomatis untuk menyatukan Nusantara. Karena posisinya yang strategis, Swarnabhumi dan Campa harus dijadikan pangkalan militer menghadang kekuatan asing Mongolia.
Jawa atau Nusantara tidak pernah menjadi bagian dari sepertiga dunia yang ditaklukan Mongol. Karena setelah perngusiran tentara Tartar dari Jawa, Mongol berkonsentrasi ke wilayah lain untuk ditaklukkan. Namun bayang-bayang akan terjadinya serangan Mongol, selalu menghantui para pembesar Majapahit, penerus dinasti Singasari. Itulah yang melatarbelakangi ide penyatuan Nusantara dari Gajah Mada dengan “Sumpah Palapa”. Gajahmada mengaggap bahwa serangan balasan Khubilai Khan hanya bisa dicegah jika kerajaan-kerajaan di Nusantara bisa bersatu, meskipun Gajahmada tak luput dari kesalahan.
Hanya dengan “palu godam” persatuan Indonesia, kekuatan asing yang hendak memecah belah dan menguasai negeri ini dapat kita halau. Hanya dengan memandang wilayah Nusantara sebagai satu kesatuan IPOLEKSOSBUDHANKAM (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan), maka NKRI yang berdasarkan Pancasila dapat kita pertahankan. Merdeka!
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Dan kesadaran sebagai putra-putri dari sebuah bangsa yang besar, telah melahirkan ksatria-ksatria Nusantara mengemban tugas sejarah untuk terus memperjuangkan dan mewujudkan kesdatuan bangsa, dan menjadi obor penyuluh, ketika sebagian anak-anak bangsa ini mulai dijangkiti penyakit sektarian sempit, fanatisme agama, dan egoisme kelompok dan golongan yang mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa.
Bahwa lahirnya para patriot Nusantara  dengan tugas sejarah pada zamannya masing-masing telah dicatat dengan tinta kencana sejarah bangsa, antara lain sebagai berikut:
Dharma Ksatria yang diucapkan di Bukit Siguntang masa Kerajaan Sriwijaya pada abad XIII M, telah mencatat kesadaran seorang pemimpin  bangsa, Dapunta Hyang,  yang mengandalkan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa demi membangun kejayaan negerinya: Sriwijaya jayasiddhiyatra subhika. “Sriwijaya melakukan arak-arakan suci (memohon berkat Ilahi) demi kejayaan Negeri Sriwijaya”.
Selanjutnya, dharma patriot yang diucapkan oleh Mahapatih Gajahmada di puncak kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan “Sumpah Palapa” (1334), demi tegaknya Nusantara Bersatu:  Lamun huwus kalah Nuswantara,  isun amukti Palapa, lamun huwus kalah  ring Gurun, ring Seram, Tanjung-pura, ring Daru, ring Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasek,  Samana isun amukti Palapa. Artinya: “Sesudah saya mengalahkan Nu-santara saya baru bisa menikmati istirahat, sesudah kalah wilayah Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tu-masik, waktu itu saya baru akan istirahat”.
Setelah era modern, dharma patriot Indonesia, yang dikenal dengan “Sumpah Pemuda” di Jakarta, 28 Oktober 1928, dengan meyakini bahwa persatuan Indonesia ha-ruslah didasarkan atas kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kepanduan, maka telah diucapkan ikrar “Sumpah Pemuda” sebagai berikut: Pertama.  Kami  putra  dan putri  Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indo-nesia. Kedua. Kami putra dan putri  Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga.  Kami putra dan putri  Indonesia, menjunjung  bahasa persatuan,   bahasa Indonesia.
Dalam rangka itu, para patriot Indonesia:  Bung Karno,  Hatta, Supomo, Yamin, K.H. Maskur, Maramis, dan masih banyak lagi, yang dengan segala jiwa kenegarawanannya dan didorong oleh semangat Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei 1908, dan Sumpah Pemuda yang diucapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia, tanggal 28 Oktober 1928, telah merealisasikan dan mengkristalisasikan kehendak untuk bersatu itu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan di Jakarta, tanggal 17 Agustus 1945, dan didasarkan atas Dasar Negara PANCASILA.
 
 
  1. Ofir: Dimanakah Letak Sesungguhnya?
Ia tidak dapat dinilai dengan emas Ofir (Ayub 28:16).  Non conferetur tincis Indiae (Ayub 28:16, Vulgata)
‘Al ben be erim kevodu Yahweh Elohe be iyyim hayyam shem Yahweh Elohe Yssra’el;   mi kenek ha arets zemerot syamenu tsevi le Tsedeq.
Artinya: “Sebab itu permuliakanlah TUHAN di negeri-negeri Timur, Nama TUHAN, Allah yang disembah Israel, di tanah-tanah pesisir laut. Dan dari ujung bumi  kami dengar nyanyian pujian: “Hormat bagi Yang Maha Adil” (Yesaya 24:15-16).I
  1. Negeri-negeri di Pulau Laut
Kesaksian sejarah para penulis Romawi dan Yunani dari abad II M, yaitu Strabo, Plinius dan Claudius Ptolemaus. Strabo dan Plinius menyebut wilayah berdaulat di sebelah timur India sebagai Chryse (Tanjung Emas), sebuah sebutan yang lazim untuk pulau Sumatra. Sedangkan Ptolemaus menyebut beberapa pulau dari gugusan Indonesia, antara lain: Iabadiou, Sabadeibei, dan Barousai bentuk ejaan Yunani dari Yawadwipa (pulau Jawa), Sabadwipa dan Barus (wilayah Sumatra).
Sumber-sumber sejarah India, khususnya Srimad Valmiki Ramayana (150 M) dalam bahasa asli Sanskerta oleh Maharshi Valmiki, telah menyebut wilayah kedaulatan Nusantara, yang membentang mulai dari Sumatra, Jawa Bali, terus ke arah timur sampai Papua. Yatnavanto Yavadwipam, Sapta-rajyopasohitam, Suvarnarupyakapwipam, Suvarnakamanditam. Artinya: “Jelajahilah tanah Jawa, dan tujuh wilayah kerajaan menjadi hiasan. Nusa merah putih, tanah Sumatra yang bertambang emas”.
Masih banyak sumber-sumber India lain. Kitab Vayu Purana menyebut “tujuh pulau yang dikelilingi tujuh samudra”, tidak lain menunjuk tanah Nusantara, yang didalamnya termasuk Yawadwipa (pulau Jawa) dan Keserumat (Semenanjung Sumatra). Masih banyak sumber India antara abad V-VI M (Aryabhata, Suryasidanta, dan Manjusrtri Mulakalpa) yang menyebut  Yawa (Jawa), Bali, Warusaka (Barus), dan Nadikera (Nusa Tengara). Bahkan, Suryasiddanta mengagumi Yawakoti (Jawa dan Kutai) yang  disebutnya “memiliki gerbang yang terbuat dari emas”.
Dokumen  Gereja  purba, Didascalia Apostolorum  (“Konstitusi Apos-tolik”, edisi bahasa Arab: Kitâb Ta’lim ar-Rusul), yang diedit oleh St. Hypolitus dari akhir abad II Masehi, menyebut diutusnya St. Thomas Rasul ke wilayah “India besar dan negeri di kepulauan jauh”.  Tidak diragukan, bahwa “negeri di pulau-pulau yang jauh” adalah tanah Nusantara, negeri kepulauan  yang kini disebut dengan Indonesia.
Pada abad-abad selanjutnya, berbagai sumber sejarah Arab-Islam, Barat, Cina dan India juga menyebut wilayah Nusantara telah mempunyai ke-daulatan sendiri sebagai bangsa yang besar. Sumber-sumber sejarah Cina (I Tsing, Chau Ju Kua dan Ma Huan banyak menyebut Sriwijaya, sedangkan sejarah Arab-Islam dapat dibaca dari laporan perjalanan Ibnu Batutah dalam bukunya Tuhfat an-Nuzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Ajaib al-Asfar, yang menyebut wilayah Sumatra.  Selanjutnya,  ahli hukum kaliber dunia Hugo Grotius (1625), menulis dalam bahasa Latin dan menyebut wilayah Indo-nesia dengan kedaulatan hukumnya: “pulau Jawa, Sumatra dan kepulauan Maluku” (puta Javae, Taprobanae, parties maximae Moluccarum).
Para pelaut kita jauh sebelum tarikh Masehi sudah mengarungi lautan luas, bahkan bangsa Malagasi (Madagaskar) mengakui bahwa mereka adalah keturunan para pelaut dari Nusantara. Dan masih banyak catatan sejarah yang membuktikan bahwa tanah Nusantara adalah bangsa dan Negara yang ber-daulat, bahkan meraih keja-yaannya di masa lampau.
 
Category:  Premium Artikel

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK