Teologi

Text to Speech

Berisi artikel-artikel mengenai Teologi milik Dr. Bambang Noorsena.

)

Dalam dialog dengan saudara kita Muslim, sering kali dipertanyakan bahwa dalam Alkitab Yesus adalah Nabi (Mat. 21:11), Rasul (Ibr. 3:1), lalu mengapa orang Kristen menyembah-Nya sebagai Anak Allah? Topik ini “laris manis” dan cukup berdampak, sehingga orang-orang Kristen yang lemah iman menjadikannya sebagai alasan meninggalkan Kristus. Penilaian “over simplicity” ini adalah pemaksaan paradigma teologis Islam untuk memahami Iman Kristen, yang bukan hanya salah tetapi juga merupakan bentuk imperialisme doktriner yang tidak fair.

Apakah beda nabi dan rasul dalam Islam? Salah satu definisi yang diberikan oleh ulama Islam, nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah untuk dirinya sendiri, sedangkan rasul menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat. "Inilah yang benar", tulis al-Qurthubi, "semua rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul" (Tafsir al-Qurthubi 12/80). Sekalipun dalam Yahudi-Kristen juga dikenal kedua term tersebut, namun maknanya cukup berbeda. Untuk itu, kita harus memahami makna “nabi” dan “rasul” dalam Iman Kristen yang berakar pada konteks keyahudian, dan bagaimana penerapannya kedua istilah ini pada Yesus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:1, 14; 1 Yoh. 1:1; Why. 29:13).

 Read More
)

Sering dituduhkan bahwa konsep penebusan dosa dalam Iman Kristen berasal dari "kepercayaan kafir pra-Kristen", yaitu ritus tumbal darah. Mereka mempertentangkan penahan yang salah tentang penebusan tersebut dengan Alkitab yang menekankan “pertobatan” dan pengampunan dari Allah secara langsung, tanpa melalui korban berdarah. Bukankah Daud berdoa: “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku” (Maz. 51:4).

Lagi, Maz. 51:9 mencatat: “Bersihkanlah aku dari dosaku dengan hyssop, maka aku menjadi tahir. Basuhlah aku, maka akan menjadi lebih putih daripada salju”. Dengan mengutip kedua ayat di atas, mereka lalu menyerang liturgi Ekaristi Suci “memakan daging Yesus dan meminum darah-Nya”. "Ajaran seperti ini ", lsgi-lagi serang para polemikus itu, "jelas-jelas  asal-usulnya dari ritus kafir". Benarkah tuduhan tersebut? Bagaimanakah Iman Kristen sendiri memahami pengampunan dosa melalui kurban salib Kristus?

 Read More
)

Dalam perspektif Kristiani, Isa adalah Firman Allah (Kalimatullah) yang menjadi manusia (Yoh. 1:1; 1 Yoh. 1:1). Dalam sosok Sang Juru Selamat itu, kerinduan manusia untuk bersatu dengan Allah mendapatkan kepastian keselamatan kekal. Salah satu ungkapan menarik Mar Ignatius dari Antiokia (29-107 M) adalah sebutan Sang Kristus sebagai "Sang Manunggaling Kawula Gusti" (Yunani: εν ανθρωπω θεος, "En Anthropo-Theos"). Demikianlah Mar Ignatius merumuskan Kodrat ganda "Ilahi-Insani" Kanjeng Gusti Al-Masih, Kalimatullah yang menjadi Manusia:

"... σαρκικος και πνευματικος, γεννητος και αγεννητος, εν ανθρωπω θεος, εν θανατω ζωη αληθινη, και εκ Μαριας και εκ θεου, πρωτον παθητος και τοτε απαθης, Ιησους Χριστος ο κυριος ημων. "...sarkikos kai pneumatikos, gennetos kai agennetos, en thanató zóe alethion, kai ex Marias kai ex theou, próton pathetos kai tote apathes, Iesous Khristos ho Kurios hemón". Artinya: (....)

 Read More

SEKITAR 400 peserta suntuk menyimak uraian para narasumber dalam kegiatan bertajuk Trialog Hindu-Kristen-Islam “Bhinneka Tunggal Ika: Teologi Kerukunan Dalam Bingkai Keindonesiaan. Para narasumber I Wayan Suraba, SH, M.Pd.H (Ketua Parisadha Hindu Dharma Surabaya),Dr.Bambang Noorsena (Pendiri Institute for Syriac Culture Studies), Prof. Sumanto Al-Qurtuby, Ph.D (Pengajar di King Fahd University of Petroleum and Minirals, Saudi Arabia). Dan Pdt.Chrysta B.P. Andrea (Majelis Agung GKJW) sebagai Moderator.
Diskusi berkisar tentang gagasan untuk mengembangkan teologi kerukunan, dalam rangka menjawab kecenderungan sektarian diantara masyarakat.
Paparan I Wayan Suraba, SH, M.Pd.H bertajuk Bhinneka Tunggal Ika: Dari Zaman Majapahit Hingga NKRI. Menggali sejarah munculnya seloka Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari masa keemasan Majapahit. Seloka ini telah menginspirasi para founding fathers karena dapat mewakili kemajukan Indonesia. Seloka Bhinneka Tunggal Ika yang pada zaman Majapahit mengungkapkan kesatuan transendental aliran Siwa-Buddha, oleh para bapa bangsa dimaknai secara lebih luas untuk membingkai warisan keberagaman masyarakat Indonesia , baik dalam suku bangsa , budaya, adat istiadat, agama dan kompleksitas lainnya.

 Read More
)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kaum Unitarian menerjemahkan akhir ayat Yoh. 1:1 καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος “kai ho theos en ho logos”, persis sama dengan Saksi-saksi Yehuwa (SSY) : “... and the Word was a god” (NW). Dalam logika mereka, Yesus sebagai Firman bukanlah Allah, tetapi “a god” (suatu ilah). Jadi, Yesus adalah “allah kedua” yang berbeda dengan Allah Yang Maha Esa, dan karena itu berada di luar Allah, atau tidak sehakikat dengan Allah dalam Dzat-Nya Yang Esa.

Selanjutnya, marilah kita masuk dalam kajian linguistik, khususnya ditinjau dari kasus pemakaian bahasa Arab di mana kata “ilah”, “al-ilah” dan “Allah” itu berasal. Karena kaum Unitarian di Indonesia mengaku diri “Kristen Tauhid”, maka mau tidak mau kita akan masuk dalam konteks hubungan Kristen-Islam. Dalam pembahasan ini saya akan banyak mengutip Alkitab dalam terjemahan bahasa Arab, dan sumber-sumber literatur Kristen Timur Tengah. Perlu ditegaskan, kita tidak mungkin menyebut adanya suatu ilah lain selain Allah, tanpa mencederai keesaan-Nya. Keyakinan yang lazim disebut syrik atau mempersekutukan Allah.

 Read More
)

(Catatan Kecil untuk Ustadz Abdul Somad)

Beberapa hari terakhir ini viral di media sosial ceramah Ustadz Abdul Somad tentang Salib dan Jin kafir. Beragam reaksi muncul, baik dari kalangan Kristiani maupun Muslim. Ada yang yang marah dengan sekedar menulis puisi, bahkan ada yang menuntutnya secara hukum. Sebagian besar prihatin dan menyayangkan pernyataan ustadz lulusan Timur Tengah itu. Sebagai seorang pengikut Kristus, saya tidak mau ikut-ikutan marah. Saya berkata sejujurnya, karena apa yang saya bayangkan dari Somad adalah keterusterangan dalam mengungkapkan keyakinannya. Memang, dalam setiap agama itu ada penghayatan yang di mata orang lain, bahkan yang seagama dengannya, dianggap kelewat fanatik, sehingga tidak peka dengan nilai yang dijunjung tinggi oleh orang lain di sekelilingnya.

Bagi saya, Somad adalah (...)

 Read More
)

Dalam berbagai publikasi mereka di Indonesia akhir-akhir ini, kaum Unitarian menyebut diri “Kristen Tauhid.” Maksudnya mudah ditebak, dengan menolak ajaran keilahian Yesus dan ketritunggalan Allah, mereka merasa diri “memurnikan keesaan Allah.” Bagi orang Kristen awam, kampanye “anti-Trinitas” mereka, mungkin saja bisa membingungkan. Malahan, ada yang merasa diri menjadi pembela Trinitas, meskipun hanya meladeninya dengan “perang ayat-ayat Alkitab.” Tidak ada kajian teologis metafisik di sana, misalnya apa makna yang dimaksud bapa-bapa gereja kuno mengenai kata “persona” (Latin), ὑπόστασις "hypostasis” (Yunani), ܩܢܘܡܐ “Qnoma” (Aramaik), dan bagaimana perubahan makna kata itu dalam era modern.

Memahami term-term teologis ini mutlak penting, sebab dari tulisan-tulisan kaum Unitarian, sejak para pendirinya sendiri, seperti Michael Servetus (1511-1553), Francis David (1510-1578), John Biddle. (1615-1672) hingga kaum Unitarian di Indonesia, memahami kata “persona” itu dalam makna pribadi secara psikologis, padahal yang dimaksudkan oleh bapa-bapa gereja kuno adalah “persona” secara metafisik (Yunani: μετά "meta" = "di balik", dan φύσικα "phúsika" = "fisik, yang kelihatan"), mengatasi aspek ruang dan waktu.

 Read More
)

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, namun tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayat­nya di-“tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik gereja-gereja Ortodoks maupun gereja-gereja Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci dengan cara yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melipat ke­dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru­musan Basmalah: سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
"Bismillāh ar-raḥmān ar-raḥīm' (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan di gereja-gereja berbahasa Arab diawali: بِاسْمِ الآبِ وَالاِبْنِ وَالرُّوحِ الْقُدُسِ, الإلهِ الْوَاحِد, امين "Bism al-Abi wa al-Ibni wa ar-Rūḥ al-Qudus, Al-Ilāh al-Wāḥid, Amin" (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

 Read More
)

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Bramantyo, menarik untuk diapresiasi. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini, dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang menanggapi biasa-biasa saja, ada yang memuji-muji, tetapi ada pula yang bertanya: "Misi apa di balik novel dan film ini?" Beberapa orang berkomentar, “Ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo". menariknya, ada pula yang serius mencermati kaitan novel dan film ini dengan relasi Kristen-Islam di Mesir. Terlepas dari apresiasi saya atas suksesnya film tersebut, resensi singkat ini sekedar mencermati beberapa kejanggalan tentang tradisi Kristen Koptik yang digambarkan dalam film ini. tentu saja, catatan ini saya ini berangkat dari apa saya ketahui dan yakini sebagai orang Kristen ortodoks. Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi terkuno di Mesir, dan komumitas Kristen Ortodoks yang terbesar di dunia Arab sampai saat ini.

 Read More
)

 

HUKUM MURTAD DAN EKSPLOITASI MUALLAF PERSPEKTIF HAM DAN LINTAS IMAN ;
Narasumber : Dr. Bambang Noorsena ;
Hari : Jum'at, 2 Agustus 2019 ;
Pukul : 18.00 - 21.00 WIB ;
Tempat : Gereja Katholik 'St. Maria Tak Bercela'. Jl. Ngagel Madya 1, Surabaya. ;
NB : Donasi bisa disalurkan ke "BCA No. 7880-210-461 an. Michel Andrew."
Continue Reading
 Read More

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK