Teologi

Text to Speech

Berisi artikel-artikel mengenai Teologi milik Dr. Bambang Noorsena.

SEKITAR 400 peserta suntuk menyimak uraian para narasumber dalam kegiatan bertajuk Trialog Hindu-Kristen-Islam “Bhinneka Tunggal Ika: Teologi Kerukunan Dalam Bingkai Keindonesiaan. Para narasumber I Wayan Suraba, SH, M.Pd.H (Ketua Parisadha Hindu Dharma Surabaya),Dr.Bambang Noorsena (Pendiri Institute for Syriac Culture Studies), Prof. Sumanto Al-Qurtuby, Ph.D (Pengajar di King Fahd University of Petroleum and Minirals, Saudi Arabia). Dan Pdt.Chrysta B.P. Andrea (Majelis Agung GKJW) sebagai Moderator.
Diskusi berkisar tentang gagasan untuk mengembangkan teologi kerukunan, dalam rangka menjawab kecenderungan sektarian diantara masyarakat.
Paparan I Wayan Suraba, SH, M.Pd.H bertajuk Bhinneka Tunggal Ika: Dari Zaman Majapahit Hingga NKRI. Menggali sejarah munculnya seloka Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari masa keemasan Majapahit. Seloka ini telah menginspirasi para founding fathers karena dapat mewakili kemajukan Indonesia. Seloka Bhinneka Tunggal Ika yang pada zaman Majapahit mengungkapkan kesatuan transendental aliran Siwa-Buddha, oleh para bapa bangsa dimaknai secara lebih luas untuk membingkai warisan keberagaman masyarakat Indonesia , baik dalam suku bangsa , budaya, adat istiadat, agama dan kompleksitas lainnya.

 Read More
)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kaum Unitarian menerjemahkan akhir ayat Yoh. 1:1 καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος “kai ho theos en ho logos”, persis sama dengan Saksi-saksi Yehuwa (SSY) : “... and the Word was a god” (NW). Dalam logika mereka, Yesus sebagai Firman bukanlah Allah, tetapi “a god” (suatu ilah). Jadi, Yesus adalah “allah kedua” yang berbeda dengan Allah Yang Maha Esa, dan karena itu berada di luar Allah, atau tidak sehakikat dengan Allah dalam Dzat-Nya Yang Esa.

Selanjutnya, marilah kita masuk dalam kajian linguistik, khususnya ditinjau dari kasus pemakaian bahasa Arab di mana kata “ilah”, “al-ilah” dan “Allah” itu berasal. Karena kaum Unitarian di Indonesia mengaku diri “Kristen Tauhid”, maka mau tidak mau kita akan masuk dalam konteks hubungan Kristen-Islam. Dalam pembahasan ini saya akan banyak mengutip Alkitab dalam terjemahan bahasa Arab, dan sumber-sumber literatur Kristen Timur Tengah. Perlu ditegaskan, kita tidak mungkin menyebut adanya suatu ilah lain selain Allah, tanpa mencederai keesaan-Nya. Keyakinan yang lazim disebut syrik atau mempersekutukan Allah.

 Read More
)

(Catatan Kecil untuk Ustadz Abdul Somad)

Beberapa hari terakhir ini viral di media sosial ceramah Ustadz Abdul Somad tentang Salib dan Jin kafir. Beragam reaksi muncul, baik dari kalangan Kristiani maupun Muslim. Ada yang yang marah dengan sekedar menulis puisi, bahkan ada yang menuntutnya secara hukum. Sebagian besar prihatin dan menyayangkan pernyataan ustadz lulusan Timur Tengah itu. Sebagai seorang pengikut Kristus, saya tidak mau ikut-ikutan marah. Saya berkata sejujurnya, karena apa yang saya bayangkan dari Somad adalah keterusterangan dalam mengungkapkan keyakinannya. Memang, dalam setiap agama itu ada penghayatan yang di mata orang lain, bahkan yang seagama dengannya, dianggap kelewat fanatik, sehingga tidak peka dengan nilai yang dijunjung tinggi oleh orang lain di sekelilingnya.

Bagi saya, Somad adalah (...)

 Read More
)

Dalam berbagai publikasi mereka di Indonesia akhir-akhir ini, kaum Unitarian menyebut diri “Kristen Tauhid.” Maksudnya mudah ditebak, dengan menolak ajaran keilahian Yesus dan ketritunggalan Allah, mereka merasa diri “memurnikan keesaan Allah.” Bagi orang Kristen awam, kampanye “anti-Trinitas” mereka, mungkin saja bisa membingungkan. Malahan, ada yang merasa diri menjadi pembela Trinitas, meskipun hanya meladeninya dengan “perang ayat-ayat Alkitab.” Tidak ada kajian teologis metafisik di sana, misalnya apa makna yang dimaksud bapa-bapa gereja kuno mengenai kata “persona” (Latin), ὑπόστασις "hypostasis” (Yunani), ܩܢܘܡܐ “Qnoma” (Aramaik), dan bagaimana perubahan makna kata itu dalam era modern.

Memahami term-term teologis ini mutlak penting, sebab dari tulisan-tulisan kaum Unitarian, sejak para pendirinya sendiri, seperti Michael Servetus (1511-1553), Francis David (1510-1578), John Biddle. (1615-1672) hingga kaum Unitarian di Indonesia, memahami kata “persona” itu dalam makna pribadi secara psikologis, padahal yang dimaksudkan oleh bapa-bapa gereja kuno adalah “persona” secara metafisik (Yunani: μετά "meta" = "di balik", dan φύσικα "phúsika" = "fisik, yang kelihatan"), mengatasi aspek ruang dan waktu.

 Read More
)

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, namun tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayat­nya di-“tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik gereja-gereja Ortodoks maupun gereja-gereja Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci dengan cara yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melipat ke­dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru­musan Basmalah: سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
"Bismillāh ar-raḥmān ar-raḥīm' (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan di gereja-gereja berbahasa Arab diawali: بِاسْمِ الآبِ وَالاِبْنِ وَالرُّوحِ الْقُدُسِ, الإلهِ الْوَاحِد, امين "Bism al-Abi wa al-Ibni wa ar-Rūḥ al-Qudus, Al-Ilāh al-Wāḥid, Amin" (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

 Read More
)

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Bramantyo, menarik untuk diapresiasi. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini, dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang menanggapi biasa-biasa saja, ada yang memuji-muji, tetapi ada pula yang bertanya: "Misi apa di balik novel dan film ini?" Beberapa orang berkomentar, “Ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo". menariknya, ada pula yang serius mencermati kaitan novel dan film ini dengan relasi Kristen-Islam di Mesir. Terlepas dari apresiasi saya atas suksesnya film tersebut, resensi singkat ini sekedar mencermati beberapa kejanggalan tentang tradisi Kristen Koptik yang digambarkan dalam film ini. tentu saja, catatan ini saya ini berangkat dari apa saya ketahui dan yakini sebagai orang Kristen ortodoks. Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi terkuno di Mesir, dan komumitas Kristen Ortodoks yang terbesar di dunia Arab sampai saat ini.

 Read More
)

 

HUKUM MURTAD DAN EKSPLOITASI MUALLAF PERSPEKTIF HAM DAN LINTAS IMAN ;
Narasumber : Dr. Bambang Noorsena ;
Hari : Jum'at, 2 Agustus 2019 ;
Pukul : 18.00 - 21.00 WIB ;
Tempat : Gereja Katholik 'St. Maria Tak Bercela'. Jl. Ngagel Madya 1, Surabaya. ;
NB : Donasi bisa disalurkan ke "BCA No. 7880-210-461 an. Michel Andrew."
Continue Reading
 Read More
)
"Kalau begitu, mengapa Allah berdialog dengan Firman-Nya, kalau Firman itu selalu satu dengan Wujud Allah, yaitu Bapa itu sendiri?", tanya Bilung.
"Itulah kedalaman dan kekayaan Diri Allah yang tidak ada pada makhluk-Nya, Bilung. Untuk menjawab itu, kamu harus mengerti dua misteri Yang Maha Ada dan Yang Maha Esa ini.
Pertama, Allah itu satu tanpa sekutu, berdaulat tanpa bergantung kepada sesuatu; Kedua, Allah itu tunggal tanpa kawan, namun tidak merasa kesepian. Renungkanlah sekali lagi kedua misteri Ilahi ini, Cah Bagus!", jawab Kyai Semar serius.
Pertama, tentang penciptaan dijelaskan: “…bahwa Aku tetap Dia (Ibrani: אֲנִ֣י ה֔וּא "Ani Hû", Yunani: Ἐγώ εἰμι, "Egô eimi"). Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak ada lagi” (Yes. 43:10). Itu artinya Allah adalah yang awal dan yang akhir, tidak ada Allah sebelum Dia, dan tidak ada Allah lain lagi setelah Dia". Renungkan sekali lagi, Bilung!".
 Read More
)
"Tadi saya bilang apa, Bilung? Tritunggal itu "ora loro, ora telu, nanging yen siji dudu sijine watu" (Bukan dua, bukan tiga, tetapi kalau satu tak sama dengan satunya batu). Ngerti?", Kyai Semar mengulang wejangannya.
"Jadi, jangan kita menarik ekstrim sifat ke-"tiga"-an-Nya, dan jangan pula memaknai salah wujud Dzat-Nya yang Esa. Betul gitu, Kyai?"
"Tak pernah kita mendengar", kata Semar mengutip St. Gregorius dari Nyssa, "Allah Bapa berbuat tanpa Putra atau Firman-Nya, begitu pula Putra tak pernah terpisah dari Roh Kudus. Nah, kalau Bapa, Putra dan Roh Kudus secara bersama-sama tak pernah terpisahkan menjalankan kuasa-Nya dan melakukan pemeliharaan ilahi atas kita dan jagad raya, maka tak mungkin kita bicara ada tiga Allah".
 Read More
)

Pikiran Bilung sudah mulai tertata, namun sayang metode “perang ayat-ayat” masih sulit dilepaskan dari otaknya. Maklum, Bilung sudah mengalami “cuci otak” selama bertahun-tahun, karena itu sembuhnya memerlukan proses. Namun Semar, punya “terapi” tersendiri menghadapi berbagai penyakit pikiran, seperti yang kini dialami oleh Bilung.

“Saya, serius Kyai!”, Bilung protes. “Mat. 28:19 sampèyan tafsir Tritunggal? Kalau hanya Bapa, Putra dan Roh Kudus disebut bersama-sama sampèyan tafsir satu, gimana dengan ayat ini: “Di hadapan Allah, Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan …” (1 Tim. 5:21). Apakah para malaikat pilihan-Nya juga masuk dalam zat Ilahi, Kyai?”.

 Read More

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK