AL-MASIH NABI DAN RASUL, MENGAPA DISEBUT ANAK ALLAH?+)

Text to Speech
Et'patah ISCS, 26 Oktober 2019

+) Materi Program "Buka Mata", yang telah ditayangkan Pijar-TV, dan diunggah di YouTube, 20 Desember 2018.

1 CATATAN PENDAHULUAN

Dalam dialog dengan saudara kita Muslim, sering kali dipertanyakan bahwa dalam Alkitab Yesus adalah Nabi (Mat. 21:11), Rasul (Ibr. 3:1), lalu mengapa orang Kristen menyembah-Nya sebagai Anak Allah? Topik ini “laris manis” dan cukup berdampak, sehingga orang-orang Kristen yang lemah iman menjadikannya sebagai alasan meninggalkan Kristus. Penilaian “over simplicity” ini adalah pemaksaan paradigma teologis Islam untuk memahami Iman Kristen, yang bukan hanya salah tetapi juga merupakan bentuk imperialisme doktriner yang tidak fair.

Apakah beda nabi dan rasul dalam Islam? Salah satu definisi yang diberikan oleh ulama Islam, nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah untuk dirinya sendiri, sedangkan rasul menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat. "Inilah yang benar", tulis al-Qurthubi, "semua rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul" (Tafsir al-Qurthubi 12/80). Sekalipun dalam Yahudi-Kristen juga dikenal kedua term tersebut, namun maknanya cukup berbeda. Untuk itu, kita harus memahami makna “nabi” dan “rasul” dalam Iman Kristen yang berakar pada konteks keyahudian, dan bagaimana penerapannya kedua istilah ini pada Yesus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:1, 14; 1 Yoh. 1:1; Why. 29:13).

2. MAKNA NABI DAN RASUL
2.1. Yesus Sang Nabi dari Nazaret

Injil Matius 21:1 mencatat: "Dan orang banyak itu menyahut: “Inilah nabi Yesus dari Nasaret di Galilea” (Aramaik: ܗܳܢܰܘ ܝܶܫܽܘܥ ܢܒ݂ܺܝܳܐ ܕ݁ܡܶܢܢܳܨܪܰܬ݂ ܕ݁ܰܓ݂ܠܺܝܠܳܐ "...Hanu Yeshu' Nbīyā d'min Natsrat d'Glīlā", Ibrani: זֶה הַנָּבִיא יֵשׁוּעַ מִנָּצְרַת אֲשֶׁר בַּגָּלִיל "Zeh HaNevī Yeshûa miNatserat ba-Gelīl", Arab: هَذَا يَسُوعُ النَّبِيُّ الَّذِي مِنْ نَاصِرَةِ الْجَلِيلِ "Hadzā Yashû' al-Nabī alladzī min Nāshirat al-jalīl").

Memang benar dalam Yesus dielu-elukan sebagai Nabi Yesus dari Nasaret di Galilea. Namun kita harus mengetahui dahulu perbedaan definisi Nabi dalam Yahudi-Kristen dan Islam. Kata nabi berasal dari bahasa Ibrani הַנָּבִיא "HaNavī", artinya "yang mengabarkan". Istilah הַנָּבִ֔יא "HaNavī" (Sang Nabi) dalam 2 Sam. 24:11 juga dikaitkan dengan kata חֹזֵ֥ה "Ḥozeh" (pelihat), atau dalam 1 Sam. 9:9 הָרֹאֶה "HaRo'eh" (Sang Pelihat). Karena dalam mengabarkan berita dari Allah, Sang Nabi juga dilengkapi dengan karunia untuk melihat masa depan, yaitu bernubuat tentang apa yang akan terjadi. Selain itu nabi-nabi juga disertai dengan mu’jizat, bukti bahwa mereka adalah benar-benar Juru Bicara Allah.

Selanjutnya, dari kata Ibrani הַנָּבִ֔יא "HaNavī" inilah kita mewarisi istilah ini dalam bahasa Aramaik ܢܒ݂ܺܝܳܐ "Nbīyā" dan dalam bahasa Arab النَّبِيُّ "al-Nabī". Sedangkan dalam bahasa Yunani kita mengenal istilah προφήτης "prophêtês”, yang berasal dari kata προ “pro” (sebelum) dan φημι "phēmi" (bicara), artinya Juru Bicara Allah tentang segala sesuatu sebelum semuanya terjadi. Dalam Alkitab, kata Nabi terutama dimaksudkan untuk orang-orang yang diutus Tuhan untuk membimbing umat-Nya, khususnya dalam sejarah besar penyelamatan Allah kepada umat manusia.

Rencana Allah ini mulai diwujudkan sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:15). Adam sendiri tidak pernah disebut Nabi dalam Alkitab. Karya Allah itu kemudian rusak karena manusia kembali memberontak kepada Tuhan, seperti terbukti dari kisah Menara Babel (Kej. 10:1-9). Lalu TUHAN menimpakan bencana banjir besar pada zaman Nuh, dan setelah banjir reda Allah membarui perjanjian-Nya (Kej. 9:11-17). Akhirnya Allah menyelamatkan manusia melalui pemilihan suatu bangsa yang dikuduskan untuk melahirkan Sang Penyelamat, yaitu melalui Abraham: "Dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej.12:3).

Dalam makna sebagai bapa bangsa-bangsa ini, Abraham disebut juga נָבִ֣יא “navi” (Nabi). “Kembalikan istri orang itu”, firmanTUHAN kepada Abimelek, “karena ia adalah seorang nabi” (Kej. 20:7). Orang pertama yang disebut nabi dalam Taurat adalah Abraham. Adam, Henokh dan tokoh-tokoh yang hidup sebelum Abraham tidak pernah disebut Nabi. Kalau Abraham disebut nabi, “karena ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup”, disini menunjukkan Abraham mewakili otoritas Tuhan, atau wakil Tuhan untuk menyatakan pahala atau hukuman bagi umat-Nya

Nah, kata “nabi” dalam makna khusus itu diterapkan bagi orang-orang yang mengabarkan kehendak Tuhan, baik untuk menegur dan membimbing umat-Nya pada suatu zaman atau mengabarkan masa depan, khususnya dalam kerangka karya keselamatan Allah yang dikerjakan khususnya dalam perjanjian-Nya dengan Abraham (Kej. 12:3). Dalam makna teologis seperti ini, maka Yudaisme (yang kemudian diikuti oleh Kristen) membagi kitab nabi-nabi נביאים "Nevi’im") dalam 2 periode: (1) נביאים ראשונים "Nevi’im Rishonim" (Nabi-nabi permulaan), antara lain: Yoshua, Samuel, Natan, Elia, dan Elisa. (2) נביאים אחרונים "Nevi’im Aḥaronim", (Nabi-nabi akhir) yang terdiri dari nabi-nabi besar: Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan Daniel, dan 12 nabi-nabi kecil, yaitu:Hosea, Amos, Yoel, Yunus, Obadya, Mikha, Habakuk, Nahum, Zefanya, Haggai, Zakharia, dan Maleakhi.

Ini berbeda dengan Islam, yang menyebut seluruh tokoh-tokoh mulai dari Adam, Idris (Henokh), Nuh, Syu’aib (Yethro), Musa, Ibrahim, Ismael, dan sebagainya, semuanya dianggap nabi, bahkan sebagian dari mereka sekaligus disebut rasul. Karena itu, menilai term keagamaan Kristen dalam makna Islam adalah sumber salah paham dalam dialog teologis antara keduanya. Dalam Iman Kristen, Yesus disebut nabi sama sekali tidak bertentangan dengan keilahian-Nya sebagai Anak Allah. Malahan, dalam gelar הַמָּשִׁיחַ "HaMashiah" (Sang Mesias) sudah termasuk tiga jabatan sekaligus, yaitu Nabi, Imam dan Raja. Jadi, Yesus Kristus disebut Nabi karena justru inilah salah satu matra dari kemesiahan-Nya.

Kenabian Yesus menggenapi nubuat nabi Musa dalam Taurat, Devarim/Ul. 18:15 yang berbunyi: נָבִ֨יא מִקִּרְבְּךָ֤ מֵאַחֶ֙יךָ֙ כָּמֹ֔נִי יָקִ֥ים לְךָ֖ יְהוָ֣ה אֱלֹהֶ֑יךָ אֵלָ֖יו תִּשְׁמָעֽוּן "Navi miqirbeka meaḥeka kamonī yaqīm lekha YHWH eloheka 'elau tishma'ûn" (Seorang nabi ditengah-tengahmu dari antara saudara-saudaramu yang seperti engkau akan dibangkitkan oleh YHWH sembahanmu, dialah yang harus kamu dengarkan). Dalam Kitab Perjanjian Baru, ditegaskan bahwa nubuat Kitab Taurat ini benar-benar digenapi dengan kedatangan Yesus, seperti yang ditekankan dalam khotbah Rasul Petrus (Kis. 3:22) dan kesaksian St. Stefanus (Kis. 7:37) sebelum kematian syahidnya.

2.2. Yesus, Rasul dan Imam Besar kita

ܚܙܰܐܘܽܗ݈ܝ ܠܗܳܢܳܐ ܫܠܺܝܚܳܐ ܘܪܰܒ݂ ܟ݁ܽܘܡܪܶܐ ܕ݁ܬ݂ܰܘܕ݁ܺܝܬ݂ܰܢ ܝܶܫܽܘܥ ܡܫܺܝܚܳܐ
"...Hzawuh l'hana slīhā w'rab kûmrē d'ataudītan Yeshu' Mshīḥā" (Peshitta Aramaik).

لاَحِظُوا رَسُولَ اعْتِرَافِنَا وَرَئِيسَ كَهَنَتِهِ الْمَسِيحَ يَسُوعَ
"...liaḥidû rasûla i'tirāfihā wa ra'isa kahanatihi al-Masīḥa Yasu'ā" (New Van Dyck Arabic Bible).

“....pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus” (Ibr. 3:1, TB).

Dalam Alkitab terjemahan bahasa Arab dan Indonesia, kata رَسُول “rasûl” khususnya diterapkan untuk murid-murid Yesus yang berjumlah 12 orang, dan di gereja Timur murid-murid Yesus lainnya yang berjumlah 70 orang juga disebut “70 rasul”. Hanya dalam satu ayat saja Yesus juga disebut rasul, yaitu Ibr. 3:1. Dalam dialog dengan Muslim, mereka mengembangkan makna رَسُول “rasûl” yang sejajar dengan نبى “nabi” yang ternyata berbeda dengan penggunaan istilah yang sama dengan Yahudi dan Kristen.

Sebagaimana yang telah dikemukakan di depan, dalam definisi Islam seorang rasul sudah pasti nabi, dalam Taurat dan Injil rasul dibedakan sama sekali dengan nabi. Meskipun nabi-nabi "diutus" (kata kerja) oleh Allah, tetapi kata benda رَسُول “rasûl" tidak pernah diterapkan untuk nabi-nabi. Kata رَسُول “rasûl" adalah terjemahan dari kata Ibrani שָּׁלִיחַ "seliaḥ" (bentuk jamak: שְׁלִיחִים "sliḥīm") atau bahasa Aramaik ܫܠܺܝܚܳܐ "slīhā" (jamak: ܫܠܺܝܚܶܐ "slīhē"), artinya “yang dikirim” atau “yang diutus”. Kata Ibrani/Aramaik ini dalam Yudaisme diterapkan untuk para utusan dalam jemaat, yaitu חַזָּן "ḥazzan" (jamak: חזנים "hazzanim"). Misalnya, seorang yang memimpin jemaah dalam doa umum disebut שָּׁלִיחַ ציבור “Shliah tzibur” (emissary of the conggregation).

Selanjutnya, lebih jelas lagi, Talmud: Traktat “Gittin”, memberikan komentar atas Bil. 28:18, bahwa pada hari-hari perayaan “setiap orang Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan, yang terpilih sebagai שָּׁלִיחַ
"shliah", yaitu agen, wakil atau utusan”. Dalam Alkitab Yunani Septuaginta (LXX), kata kerja שָׁלַח "shalaḥ" (mengutus) diterjemahkan dengan αποστελλω "apostellô" (mengirimkan, mengutus). Jadi, meskipun nabi juga berfungsi sebagai “utusan Tuhan”, tetapi kata שָּׁלִיחַ “shliah” lebih ditujukan kepada “yang mewakili dalam ibadah”, dan kalau ibadah itu bersifat sakramental, maka Imam Besar yang bertugas menjadi utusan yang melayani ibadah kurban penebusan dosa. Imam Besar mewakili seluruh umat Israel yang berjumlah 12 suku, 70 tua-tua Israel dan seluruh umat Israel.

Yesus adalah Imam Besar Perjanjian Baru, karena itu Dia adalah שָּׁלִיחַ “shliah” (rasul) dalam kurban penebusan dosa, sedangkan para murid Yesus yang berjumlah 12 juga disebut “kedua belas rasul-rasul” (Mat. 10:2, Ibrani: שנים עשר השליחים “Shenīm 'Ashar haShelīḥīm", Aramaik: ܕ݁ܰܬ݂ܪܶܥܣܰܪ ܫܠܺܝܚܶܐ
D'at resar Shlīhē"). Akhirnya, seperti jumlah suku-suku Israel adalah 12, begitu juga gereja Kristus sebagai Israel baru juga dibangun di atas 12 rasul. Dari kedua belas suku-suku Israel itu, lebih khusus dipilih lagi “70 orang dari para tua-tua Israel” (Kel. 24:1, Ibrani: שִׁבְעִים מִזִּקְנֵי יִשְׂרָאֵל "Shiv'īm miziqne yisra'el"), karena itu Yesus juga memilih 70 murid-murid-Nya (Luk. 10:1, 17).

3. CATATAN PENUTUP

Jadi, gelar Nabi dan Rasul bagi Yesus sama sekali tidak bertentangan dengan hakikat pre-eksistensi-Nya sebagai Putra Allah. Pengakuan bahwa Yesus adalah "Rasul dan Imam Besar yang kita akui" (Ibr. 3:1), justru meneguhkan status kemuliaan-Nya sebagai "Anak yang mengepalai rumah-Nya" (Ibr. 10:6). Memang benar, kata الرسول “al-rasûl” paralel dengan הַשָּׁלִיחַ “HaShaliaḥ”, ܫܠܺܝܚܳܐ "Shlīḥā", dan ὁ ἀπόστολος "ho apostolos", artinya "sang utusan". Tetapi makna utusan dalam Yudeo-Krisriani dan Islam tentu saja tidak sama dan tidak bisa dipukul rata, apalagi memaksakan definisi Islam yang muncul lebih dari 500 tahun setelah kedua istilah itu telah mempunyai makna teologis yang mapan. Meskipun interpretasi teologis Kristiani ini ditolak oleh Yudaisme, namun akar dari kedua term teologis itu dalam adalah sama, dan itu jelas berbeda dengan definisi Islam yang dibakukan para teolog Muslim kemudian. 

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK