APAKAH AJARAN PENEBUSAN DOSA BERASAL DARI RITUS KAFIR PRA-KRISTEN?

Text to Speech
1. CATATAN PENDAHULUAN

Sering dituduhkan bahwa konsep penebusan dosa dalam Iman Kristen berasal dari "kepercayaan kafir pra-Kristen", yaitu ritus tumbal darah. Mereka mempertentangkan penahan yang salah tentang penebusan tersebut dengan Alkitab yang menekankan “pertobatan” dan pengampunan dari Allah secara langsung, tanpa melalui korban berdarah. Bukankah Daud berdoa: “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku” (Maz. 51:4).

Lagi, Maz. 51:9 mencatat: “Bersihkanlah aku dari dosaku dengan hyssop, maka aku menjadi tahir. Basuhlah aku, maka akan menjadi lebih putih daripada salju”. Dengan mengutip kedua ayat di atas, mereka lalu menyerang liturgi Ekaristi Suci “memakan daging Yesus dan meminum darah-Nya”. "Ajaran seperti ini ", lsgi-lagi serang para polemikus itu, "jelas-jelas  asal-usulnya dari ritus kafir". Benarkah tuduhan tersebut? Bagaimanakah Iman Kristen sendiri memahami pengampunan dosa melalui kurban salib Kristus?

2. PERMOHONAN PENGAMPUNAN DOSA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN PENEBUSAN KRISTUS

2.1. Kelemahan Kodrat Insani

Permohonan Daud agar diampuni dan dilepaskan dari dosa-dosa, tidak bisa dipertentangkan dengan penebusan Kristus. Beberapa bukti dalam teks Mazmur yang mereka kutip yang dengan jelas menolak kesimpulan dangkal itu. Pertama, Nabi Daud sendiri mengakui: הֵן־ בְּעָו֥וֹן חוֹלָ֑לְתִּי וּ֝בְחֵ֗טְא יֶֽחֱמַ֥תְנִי אִמִּֽי "Hen be'awon holaletī u-vaḥet yeḥemetnī". Artinya: “Sesungguhnya dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Maz. 51:7). Kedua, Pemazmur juga berdoa: הַצִּ֘ילֵ֤נִי מִדָּמִ֨ים אֱ‍ֽלֹהִ֗ים אֱלֹהֵ֥י תְּשׁוּעָתִ֑י "Hatsilenī middamīm, Elohīm, Elohe teshū'atī..." Artinya: "Lepaskanlah aku dari hutang darah, Ya Allah, Allah keselamatanku...” (Maz. 51:16). Ungkapan “dalam dosa aku dikandung ibuku", sekali lagi bukan berarti dosa-dosa nenek moyang yang harus kita warisi, melainkan akibat dosa manusia pertama ini telah membuat kita sejak lahir berada dalam kondisi yang merangsang orang untuk berbuat dosa. Itulah “hutang darah” yang dimaksud dalam doa Daud.

Bahwa manusia dilahirkan sebagai makhluk yang lemah, diakui sendiri oleh Al-Qur’an: يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا "yurīdullāhu ay yukhaffifa 'ankum, wa khuliqal-insānu ḍa'īfā". Artinya: "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah" (Qs. an-Nisa’/4:28). Dan seperti diakui oleh Rasul Paulus bahwa ada suatu rangsangan dalam jiwa manusia yang cenderung berbuat kejahatan (Rom. 7:21), Al-Qur’an juga menyaksikan: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ "Wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm". Artinya: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang" (Q.s. Yusuf/12:53).

Karena itu, menurut Nurcholish Madjid, Islam sebenarnya juga mengakui adanya kejatuhan (Arab: هبوط "hubuth") Adam dan Hawa dari surga, meskipun demikian Islam tidak menjadikan pangkal pokok dalam sistem teologinya.

2.2. Penebusan Dosa berasal dari Ritus Yom Kippur

Jadi, ide penebusan tidak berasal dari ritus pagan, melainkan berasal dari ritus-ritus yang jelas tercantum dalam Taurat, Zabur dan Kitab Nabi-nabi sebelum zaman Yesus. Dalam Perjanjian Lama dikenal ritus יום כיפור "Yom kippūr" (Hari penebusan Dosa). Nah, dari  latar belakang yang sama, khususnya dari ritus  יום כיפור "Yom Kippūr" tersebut, kita dapat mengerti alam pikiran yang melatarbelakangi ide “penebusan dosa” (Arab: كَفَّارَتُ "kaffārat") dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

Memang latar belakang lain, soal “denda tebusan” atau dalam bahasa Yunani λυτρον
 "lutron" (Mrk. 10:45) juga berperan, tetapi sebatas pada formulasi, bukan pada ide dasarnya. Ide dasarnya jelas-jelas berasal dari Kitab Taurat dan kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Misalnya, apabila seekor lembu menanduk orang sampai mati, lembu itu harus dirajam sampai mati dan pemiliknya bebas. Tetapi apabila pemiliknya sudah sering diperingatkan tentang bahayanya lembu itu tetapi tidak menjaganya, apabila lembu itu menanduk orang sampai mati lagi, maka bukan hanya lembunya, melainkan pemiliknya juga harus dihukum mati. Namun ia bisa dibebaskan dengan cara membayar uang tebusan sebagai ganti atau tebusan nyawanya (Kel. 21:28-30).

Inti dari ketentuan ini adalah “hukum balasan setimpal yang adil”, tapi lebih dari itu adalah ditekankan pengampunan (Kel. 21:23-27; Im.19:17-18). Asas pembalasan setimpal itu (Arab: قِصَاصٌ "qishash") disebutkan Taurat, dalam teks bahasa aslinya: וְנָתַתָּ֥ה נֶ֖פֶשׁ תַּ֥חַת נָֽפֶשׁ עַ֚יִן תַּ֣חַת עַ֔יִן שֵׁ֖ן תַּ֣חַת שֵׁ֑ן יָ֚ד תַּ֣חַת יָ֔ד רֶ֖גֶל תַּ֥חַת רָֽגֶל "We natattah nephesh taḥat nephesh, ‘ayin taḥat 'ayin shen tahat shen, yad taḥat yad, tegel taḥat regel". Artinya: “...Dan engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki" (Kel. 21:23-24). Tetapi pada saat yang sama ditekankan supaya berdasarkan kasih, setiap orang tidak menuntut balas (Im.19:17-18).

Asas hukum kuno yang lebih populer disebut sebagai "lex talionis" ini, hampir secara harfiah diterima dalam sistem hukum Islam, seperti disebut dalam Al-Qur’an:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Wa katabnā 'alaihim fīhā annan-nafsa bin-nafsi wal-'aina bil-'aini wal-anfa bil-anfi wal-użuna bil-użuni was-sinna bis-sinni wal-jurụḥa qishāsh, fa man tashaddaqa bihī fa huwa kaffāratu lahu, wa man lam yaḥkum bimā anzalallāhu faulā`ika humudh-dhālimụn. Artinya: "Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, hidung ganti hidung, telinga gsnti telinga, gigi ganti gigi, dan lukapun ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan qishashnya, maka melepaskan hak qishash itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka adalah kaum yang zalim" (Qs. al-Maidah/5:45).

2.3. Prinsip "tebusan" (kaffarat) dalam Fiqh Islam

Mengenai perbuatan tidak sengaja yang menyebabkan kematian, seperti tampak pada kasus lembu yang menanduk mati tersebut, pada pokoknya ada kewajiban bagi pelaku untuk memberikan tebusan (Ibrani: כַּפָּרָה "kapharah", Arab: كَفَّارَتُ "kaffārat"). Sistem kaffarat ini sangat lazim juga dikenal bahkan cukup berkembang dalam fiqh Islam. Misalnya, mengenai kaffarat membunuh secara tidak sengaja orang Islam ialah memerdekakan hamba mukmin, atau berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tanda pertobatan kepada Allah (Q.s. An-Nisa’ 4:92).  Dalam bidang ibadah, orang yang melanggar larangan ber-jima’ (bersetubuh) suami isteri di bulan Ramadhan, kaffarat-nya ialah puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.

Jadi, Islam yang juga mengenal sistem penebusan dalam hukumnya bisa menjembatani untuk memahami ajaran Kristen tentang penebusan dosa. Dalam hukum Yahudi maupun Islam, pembayaran suatu harga untuk pembebasan adalah hak asasi yang didasarkan atas prinsip keadilan. Karena itu, berangkat dari segi antropologis bahwa kealpaan, kelalaian dan kesalahan itu bukan sekedar bersifat kasuistik melainkan berakar dari sifat kodrati manusia, maka logis dan rasional apabila ide kaffarat bukan hanya diterapkan di dalam bidang hukum, tetapi juga menjadi tema sentral dalam teologi Kristen.

2.4. Penebusan dosa: Kenapa harus melalui darah?

Dalam Yudaisme zaman Alkitab, selain dikenal ide penebusan dalam sistem hukum mereka, secara khusus cukup berkembang pula dalam pandangan teologisnya.Tetapi dalam perkembangannya belakangan, khususnya setelah kehancuran Bait Allah pada tahun 70 M, Yudaisme mulai menghilangkan kurban sembelihan, karena Bait Allah sudah tiadanya lagi. Hal tersebut mengakibatkan teolog-teolog Yahudi masa kini mengecilkan arti dosa. Menurut mereka, memang benar manusia dilahirkan dalam “kondisi yang dirangsang dosa” (Ibrani: יֵצֶר הַרַע‎ "yetser haRa"), tetapi hal itu diimbangi oleh “keinsafan batin yang baik” (Ibrani: יצר הטוב "yetser haTov) sama bobotnya, yang apabila ditopang dengan pembacaan Taurat akan lebih unggul. Tekanan pada Hukum Taurat makin berlebih-lebihan, pada salah satu aspeknya juga sebagai reaksi dari semakin pesatnya perkembangan kekristenan waktu itu.

Karena itu dikenal perayaan khusus untuk penebusan, yaitu Yom Kippur (hari penebusan dosa) yang terkait dengan adanya kurban darah. Alasannya, karena nyawa makhluk ada dalam darahnya, karena itu darah mengadakan penebusan dengan perantaraan makhluk hidup (Im. 17:11). Bahkan, Allah disebut sebagai יְהוָה֩ גֹּאֵ֨ל יִשְׂרָאֵ֜ל "Adonay Goel Yisrael" (Yes. 49:7, "TUHAN Penebus Israel"), karena TUHAN yang menebus dosa-dosa umat-Nya, seperti yang tertulis dalam Kitab Taurat, Zabur dan Kitab Nabi-nabi (Ul. 7:8; 24:18; Maz. 107: 2; Yes. 48:20), dan kemudian digenapi dalam Injil Kristus (Mark. 10:45; Ibr. 9:12; Kol.1:14; EF. 1:7).

Untuk memahami makna penebusan melalui darah, umat Islam bisa membandingkannya dengan penyembelihan kurban aqiqah yang juga mengajarkan penebusan melalui darah. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad bersabda: مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَةٌ ، فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَماً وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى "Ma'a al-ghulāmi 'aqīqatun, fa ahrīqū
'anhu damān wa amīthū 'anhu al-adzā".
Artinya: "Setiap anak hendaknya ada ‘aqiqah. Oleh karena itu, tumpahkanlah darah dan singkirkanlah kotoran" (Hadits Riwayat Bukhari).

Selanjutnya, doa penyembelihan aqiqah biasanya berbunyi: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَللّهُم‍َّ رَبِّىْ, هَذِهِ عَقِيْقَةُ … بِنْ…. دَمُهَا بِدَمِهِ وَلَحْمُهَا بِلَحْمِهِ وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ وَجِلْدُهَا بِجِلْدِهِ وَشَعْرُهَا بِشَعْرِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا فِدَاءً لِ…بن….مِنَ النَّارِ "Bismillahirraḥmanirraḥim.
Allahumma Rabbi, hadzihi 'aqīqatu li.....bin....damuhā bidamihi, wa laḥmuhā bilaḥmihi, wajilduḥā bijildihi, wa sya'ruhḥā bisya'rihi. Allahumma aj'alnā fidā'an li...bin...min al-nār". Artinya: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, Tuhanku, binatang ini adalah aqiqah bagi….bin....darah binatang ini untuk menebus darahnya, daging binatang ini untuk menebus dagingnya, tulang binatang ini untuk menebus tulangnya, kulit binatang untuk menebus kulitnya, rambut binatang ini untuk menebus rambutnya. Ya Allah, jadikanlah aqiqah ini tebusan bagi… bin…dari api neraka".

3. CATATAN PENUTUP

Jadi, meskipun makna korban dalam Yahudi, Kristen dan Islam diterapkan secara berbeda-beda, namun ketiganya ternyata mengandung darah. Secara teologis, bertitik tolak dari kenyataan bahwa kelemahan selalu inherent melekat pada kodrat insani, maka konsep penebusan ini begitu bermanfaat, bahkan menjadi satu-satunya jalan keluar yang paling logis. Dalam gereja mula-mula, tentu saja perumusannya antara lain tidak lepas dari metafor-metafor yuridis tersebut. Orang berdosa adalah budak dari dosa (Yoh. 8:34), secara kodrati manusia “bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Rom. 7:14). Secara yuridis, Taurat menentukan bahwa orang-orang berdosa harus mati. Untuk itu harus ada ”tebusan” (Ibrani: כַּפָּרָה "kafarah", Arab: كَفَّارَتُ "kaffārat") sebagai harga yang harus dibayar untuk hak hidup yang sebenarnya sudah tidak ada, yang bagi iman Kristen seluruhnya telah menjadi final sudah kurban agung Kristus, sekali untuk selama-lamanya (Ibrani 10:12).

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK