APAKAH TAURAT DAN INJIL DIJAMIN ASLI?+)

Text to Speech
Et'patah ISCS,
Jum'at, 22 Nopember 2019

+) Bahan untuk Seminar "Pekan Alkitab" yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Keuskupan Malang dan Malang Raya Partnership (MRP), di Malang, 13 Nopember 2019.

1. MASIH ADAKAH NASKAH ASLI ALKITAB?

Dalam perjumpaan teologis dengan umat non-Kristiani, sering kali dipertanyakan: "Apakah Alkitab dijamin asli?" "Adakah Naskah Asli Alkitab?". Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2011), batasan "asli" antara lain bukan salinan, saduran atau terjemahan (hlm. 94). Sedangkan "naskah" didefinisikan sebagai karangan yang masih ditulis dengan tangan" (hlm. 954). Jadi, kalau yang dituntut dengan "naskah asli" adalah αὐτόγραφον "autographon", yaitu tulisan tangan dari penulis aslinya, harus jujur dikatakan bahwa naskah asli Alkitab seperti itu sudah tidak ada lagi. Sebagaimana juga tidak ada naskah asli al-Quran atau Tipitaka dari tangan Nabi Muhammad atau Samg Buddha.

Faktanya, yang kini ada adalah salinan-salinan kuno ke sekian dari autograph. Makna kedua ini sejajar dengan kata "manuskrip" (dari kata Latin "manu" = tangan, dan "scriptum" = tulisan). Jadi, tulisan tangan tidak harus berasal dari dari penulis aslinya. Dalam makna yang demikian, kita memiliki ribuan naskah-naskah kuno Alkitab dalam bahasa asli, tak tertandingi oleh naskah-naskah kuno manapun. Bahkan kita masih memiliki gulungan-gulungan manuskrip kuno dari Qumran di Laut Mati, yang berusia lebih dari 2O00 tahun dari zaman kita sekarang.

2. BAGAIMANA MEMBUKTIKAN KEASLIAN ALKITAB PERJANJIAN LAMA?

2.1. Satu TANAKH, Dua Agama

Alkitab yang ada di tangan umat Kristiani (baik Gereja Ortodoks, Gereja Katolik dan gereja-gereja Protestan) terdiri dari dua bagian besar, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Uniknya, Kitab yang oleh umat Kristiani disebut dengan Perjanjian Lama adalah kitab-kitab yang sama dengan Kitab Suci agama Yahudi, yang disebut TANAKH, yaitu תּוֹרָה נְבִיאִים כְּתוּבִים "Torah Nevi'im Khetuvi'im" (Taurat, Kitab Nabi-nabi dan Tulisan-tulisan Suci). Menariknya, umat Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus sebagai Sang Mesiah, meyakini kitab-kitab yang persis sama dengan umat Kristiani yang meyakini bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang menggenapi semua yang dinubuatkan kitab-kitab Yahudi tersebut.

Keduanya mengacu kepada Kitab Suci yang sama, hanya penafsirannya saja yang berbeda. Fakta langka ini membuktikan bahwa tuduhan pemalsuan Kitab Suci adalah tuduhan yang tidak beralasan. Sebab kalau seandainya umat Kristiani memalsukan Alkitab hanya untuk membuktikan tafsiran teologisnya, pastilah Kitab Sucinya sudah berbeda dengan Kitab Suci Yahudi. Begitu juga sebaliknya, umat Yahudi juga bisa mengubah ayat-ayat Kitab Suci yang selama ini digunakan orang Kristiani untuk membuktikan kehadiran Kristus. Misalnya, nubuat עִמָּנוּאֵל "Immanuel" dalam Yesaya 7:14 atau Hamba TUHAN yang menderita dalam Yesaya 53. Faktanya, naskah Perjanjian Lama yang ada di tangan Kristen dan TANAKH yang dipegang umat Yahudi adalah sama.

2.1. Satu Taurat, Tiga Agama

Malahan, khususnya kelima Taurat Musa, satu Taurat serempak diterima oleh 3 agama yang sudah berpisah sekitar 2000 tahun silam, yaitu Yahudi, Samaria dan Kristiani. Kaum Samaria telah berpisah dengan Yahudi sejak abad ketiga sebelum Kristus, tepatnya sejak pulang dari pembuangan dari Babel. Sedangkan umat Kristiani benar-benar telah terpisah dari induknya, agama Yahudi, sejak Konsili Yamnia tahun 90 M, hampir 2000 tahun silam. Faktanya, sekali pun ada varian-varian teks antara Taurat Samaria dan Taurat Yahudi-Kristiani, tetapi ketiga agama ini mendasarkan imannya pada Kitab Taurat yang satu.

Contoh varian teks ini, dapat dikemukakan ayat tentang 'Aqedah Yitshaq (Pengikatan/Pengorbanan Ishak), putra Abraham, yang berbunyi: וַיֹּאמֶר קַח-נָא אֶת-בִּנְךָ אֶת-יְחִידְךָ אֲשֶׁר-אָהַבְתָּ אֶת-יִצְחָק וְלֶךְ-לְךָ אֶל-אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה וְהַעֲלֵהוּ שָׁם לְעֹלָה עַל אַחַד הֶהָרִים אֲשֶׁר אֹמַר אֵלֶיךָ "Wayyomer Qaḥ-na et binka we yeḥideka asher aḥavta et yitsḥaq we lek leka El arets ha-Moriyah we ha'alehu sam ha-'olah 'al aḥad he-Harīm asher omar eleka". Artinya: "Firman-Nya: Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu" (Kej. 22:2, TB). Dalam Kitab Taurat Samaria, kalimat אֶל-אֶרֶץ הַמֹּרִיָּה “el arets ha-Moriyah” (ke tanah Moria) tertulis אל ארץ המוראה “el arets ha-Moreh” (ke tanah Moreh).

2.3. Bukti Naskah-naskah Kuno Perjanjian Lama

Karena perjalanan panjangnya selama ribuan tahun, keberadaan naskah Alkitab Perjanjian Lama tidak hanya dijaga oleh umat Kristiani, tetapi juga umat Yahudi sebelum Kristiani, dan telah mewariskan bagi kita naskah-naskah kuno. Selain naskah Masorerik yang paling tua berasal dari abad IX M, sejak tahun 1947 kita juga memiliki fragmen-fragmen seluruh Perjanjian Lama (kecuali Kitab Ester) dari naskah-naskah Gulungan Laut Mati (The Dead Sea Scrolls) yang 1000 tahun lebih tua dari naskah Masorerik.

Selanjutnya, selain naskah-naskah kuno berusia ribuan tahun yang masih eksis sampai hari ini, keaslian Alkitab juga didukung oleh terjemahan-terjemahan kuno, baik yang berasal dari kaum Yahudi maupun Kristen. Terjemahan dari Yahudi dapat disebut beragam Targum dalam bahasa Aramaik yang berasal dari abad 1 M, seperti Targum Onqelos sampai abad VIII M, seperti Targum Yonathan, dan terjemahan Yunani yang dikenal dengan Septuaginta (LXX) dari abad III SM. Sedangkan terjemahan dari Kristen, antara lain terjemahan dalam bahasa Latin kuno (Vetus Latina) dari tahun 150 M, Vulgata dari abad IV, bahasa Syriac (Syro-Aramaic), baik Old Syriac dari abad II M maupun Peshitta dari abad IV M, bahasa Koptik dari abad III M, bahasa Armenia dari abad V M, dan masih banyak lagi.

3. BAGAIMANA MEMBUKTIKAN KEASLIAN ALKITAB PERJANJIAN BARU?

3.1. Lebih dari 500O Naskah Kuno Perjanjian Baru

Perjanjian Baru telah diabadikan dalam lebih dari 5000 naskah kuno, suatu jumlah yang melebihi naskah kuno manapun. Selain naskah bahasa asli Yunani, kita juga memiliki 10.000 terjemahan Latin, dan lebih dari 9000 naskah kuno dalam bahasa Syriac/Suryani, Slavik, Etiopia, Gothic, Koptik dan Armenia. Seperti diakui oleh Bruce M. Metzger, naskah-naskah Perjanjian Baru ini, baik ditinjau dari segi jumlah dan jarak waktu antara penulis dan naskah tertua yang ditemukannya, tergolong spektakuler karena jauh melebihi naskah-naskah kuno manapun juga di dunia.

Dari berbagai naskah kuno, lliad karya Homer, paling banyak diabadikan dalan 643 naskah, dan jarak naskah tertua yang berasal dari tahun 400 SM dan penulis aslinya tahun 800 SM adalah 400 tahun. Karya Homer ini yang paling banyak dengan "time gap" antara penulis asli dan naskah tertuanya yang paling dekat. Dibandingkan dengan kitab-kitab Perjanjian Baru? "Sangat singkat", tulis Bruce M. Metzger, "Bukan berselang satu milenium lebih, seperi karya-karya pengarang kuno lain, beberapa naskah papyrus yang memuat bagian-bagian Perjanjian Baru merupakan salinan masih dalam rentang waktu kurang dari seabad dari penulis aslinya" (Bruce Metzger, The Text Of The New Testament, 1992:33-35).

Naskah bahasa asli Yunani dari Injil Yohanes ditulis dalam bentuk papyrus, paling kuno berasal dari awal abad kedua. Misalnya, P52 (John Rylands) yang berasal dari tahun 115 M, berisi sebagian Injil Yohanes. Jadi, kalau Rasul Yohanes wafat di Efesus tahun 96 M, berarti hanya berjarak 19 tahun antara penulis asli Injil dengan naskah tertua yang ditemukannya. Selain dalam papyrus sejak abad IV M Alkitab mulai ditulis, dan dari zaman ini kita memiliki Codex Vaticanus (400 M), Codex Alexandrinus (359 M), Codex Sinaiticus (325 M), dan masih banyak yang lainnya, yang semuanya lebih mudah diakses langsung sekarang ini.

Contohnya, pada zaman polemikus Ahmed Deedat, orang mudah percaya dibohongi bahwa teks asli Yoh. 14:26 tidak berbunyi Παράκλητος "Parakletos" (Penghibur, Penolong atau Pengantara), tetapi Περικλητος "Perikletos" (yang mereka artikan "Terpuji"), dan dipaksakan menjadi bukti nubuat Nabi Muhammad. Tetapi pada masa sekarang ini, pembohongan publik seperti itu mudah sekali dipatahkan, sebab anda tinggal "online" klik P66 www.earlybible.com, dengan mudah kita menemukan P66 (Papyrus 66) yang memuat naskah kuno Injil Yohanes dari tahun 120 M.

Tidak ada naskah kuno manapun yang memuat kata Περικλητος "Perikletos", tetapi "Parakletos", seperti tertulis dalam semua naskah bahasa aslinya:
ὁ δὲ Παράκλητος, τὸ Πνεῦμα τὸ Ἅγιον ὃ πέμψει ὁ Πατὴρ ἐν τῷ ὀνόματί μου, ἐκεῖνος ὑμᾶς διδάξει πάντα καὶ ὑπομνήσει ὑμᾶς πάντα ἃ εἶπον ὑμῖν ἐγώ. "Ho de Paraklētos, to Pneuma to hagion, ho pempsei ho Patēr en tó onomati mou, ekeinos humas didaxei panta kai hupomnēsei humas panta ha eipon humin egó".* Artinya: "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh. 14:26, TB).

3.2. Bukti dari Bapa-bapa Gereja Generasi Rasuli dan Terjemahan Kuno

Secara kritik salinan, kita mengakui bahwa ada naskah kuno yang tidak memuat Mrk. 16:9-20. Tetapi ternyata kita menemukan kutipan ayat-ayat yang kita masalahkan ini pada karya-karya bapa rasuli (Apostolic Fathers), murid-murid para rasul sendiri, seperti St. Ignatius dari Antiokhia (29-107 M), St. Klemens dari Roma (30-97 M), St. Papias dari Hierapolis (60-163 M), St. Polycarpus dari Smyrna (60-156 M), dan bapa-bapa gereja sesudahnya. Nah, dalam karya-karya kuno dari zaman yang sangat dekat dengan Perjanjian Baru, dan lebih tua dari Codex Vaticanus yang tidak memuat Mrk.16:9-20, ternyata secara implisit mengutip bagian yang sering kita permasalahkan dari segi kritik salinan.

Malahan, dalam rangka menemukan "autograph" dari 1 Yoh. 5:7, yang sering kita anggap "Comma Johaneum" (Klausa Yohanes), sekalipun tidak ditemukan dalam naskah-naskah Yunani terbaik, ternyata malah ditemukan dalam 2 terjemahan Latin kuno (Vetua Latina) dari tahun 150 M, jauh lebih tua dari naskah-naskah Yunani yang kita beri bobot lebih tinggi. Masih bisa dicontohkan lagi, kutipan ayat-ayat Perjanjian Baru bahkan sudah kita jumpai dalam karya bapa-bapa rasuli yang paling awal. Misalnya Doa Bapa kami (lengkap dengan "doxologia"-nya yang tidak dimuat dalam Codex Vaticanus) dalam Mat. 6:9-13, ternyata sudah dimuat dalam Didache yang ditulis tahun 95 M.

3.3. Teks dan Konteks: Iman Rasuli yang melampaui Kajian Teks Naskah Asli

Gereja Kristus berdiri di Yerusalem tahun 33 M, saat pencurahan Roh Kudus (Kis. 2:1-13, kira-kira dwidasa warsa sebelum kitab-kitab Perjanjian Baru terawal ditulis. Jadi, Gereja melahirkan Perjanjian Baru, bukan sebaliknya. Setajam apapun peegumulan kita untuk menemukan "autograph" dari kitab-kitab Perjanjian Baru, Iman rasuli tidak akan pernah goyah.

Mengapa? Karena selain dalam garis besar varian-varian teks itu tidak mengubah isi firman-firman-Nya, juga melampaui kajian naskah-naskah asli Yunani, bergema suara rasuli yang diterus-sampaikan secara tanpa putus dari rasul-rasul, murid-murid para rasul, para murid dari murid-murid para rasul, dan generasi-generasi selanjutnya. Dan generasi paling awal dari masa murid-murid para rasul (Apostolic Fathers)" ini, ternyata juga mewariskan bagi kita dokumen-dokumen tertulis yang mendampingi perjalanan panjang naskah-naskah Perjanjian Baru.

Kembali ke pembahasan naskah asli Perjanjian Baru. Karena bahasa Yunani adalah "lingua franca" yang dipakai lebih merata pada.zaman itu, maka Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Meskipun demikian, Yesus sendiri pasti berbicara lebih dari satu bahasa. Selain bahasa Ibrani dan Yunani, bahasa sehari-hari yang digunakan Kristus adalah bahasa Aramaik. Dan masih di era bapa-bapa rasuli, Injil dalam bahasa Syriac (bentuk Krisiani dari bahasa Aramaik) sudah tersedia, terbadikan dalam naskah Old Syriac dan disusul kemudian dengan Peshitta.

Kajian Syriac (Suryani) atas "Ipsisima fox Iesu" (suara asli Yesus), dapat menjadikan naskah-naskah Aramaik dalam "bahasa sehari-hari Kristus" ini, menjadi lebih menantang. Bahkan kalau makna "asli" tidak hanya sebatas "autograph" (naskah asli dari masa penulisnya), melainkan merujuk "bahasa asli Kitab Suci"(yang bahasa yang dipakai para penulis aslinya), kita juga mempunyai "bahasa asli yang dipakai Yesus", yaitu bahasa Suryani. Bahasa ini bukan hanya diabadikan melalui eksistensi naskah-naskahnya, tetapi juga dijadikan bahasa liturgis yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh gereja-gereja Syriac (baik Gereja Syriac Ortodoks, Gereja Assyria Timur, Gereja Maronit dan Gereja Katolik ritus Timur lainnya).

Bahkan, dalam perjumpaan dengan Islam, naskah Suryani Peshitta ini telah banyak meminjamkan sejumlah "vocabulary" yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab murni. Misalnya, istilah المسيح الدجّال‎ "Al-Masīḥ ad-Dajjāl" sosok Anti Kristus dalam eskatologi Islam, ternyata bisa dilacak dari bahasa Syriac ܡܫܺܝܚܶܐ ܕ݁ܰܓ݁ܳܠܶܐ "Mešhīha Dagāla" (Mat. 24:24; 1 Yoh. 2:18 dan 22). Lebih jelasnya, inilah salah satu contoh sabda Isa Al-Masih dalam bahasa Suryani/Syriac:
ܢܩܽܘܡܽܘܢ ܓ݁ܶܝܪ ܡܫܺܝܚܶܐ ܕ݁ܕ݂ܰܓ݁ܳܠܽܘܬ݂ܳܐ ܘܰܢܒ݂ܺܝܶܐ ܕ݁ܟ݂ܰܕ݁ܳܒ݂ܽܘܬ݂ܳܐ ܘܢܶܬ݁ܠܽܘܢ ܐܳܬ݂ܘܳܬ݂ܳܐ ܘܬ݂ܶܕ݂ܡܪܳܬ݂ܳܐ ܘܢܰܛܥܽܘܢ ܐܶܢ ܡܶܫܟ݁ܚܳܐ ܐܳܦ݂  ܠܰܓ݂ܒ݂ܰܝܳܐ .
N’qûmûn geir Mšhīḥē d'Dagalūta wa Nbiye d’kadābūtā, wnetlūn ātwatā wtedmrātā wnatūn en meshḥa ap lagvayyā.
Artinya: "Sebab Mesias-mesias palsu (Mšhīḥē d'Dagalūta) dan nabi-nabi palsu akan muncul, dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat, agar sedapat mungkin mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga" (Mrk. 13:22, Peshitta).

4. CATATAN PENUTUP

Metode kritik salinan sangat penting dalam menemukan teks yang paling mendekati "autograph". Dalam menanggapi kritik terhadap keakuratan Alkitab, sayangnya metode yang sama tidak diterapkan untuk naskah-naskah kuno selain Alkitab, sama ketatnya Misalnya, karya-karya Plato, Aristoteles, Pytagoras, dan para filsuf lainnya, hampir semua kita percaya tanpa reserve. Di bangku kuliah, di luar kepala kita menghafal ucapan Aristoteles bahwa manusia adalah ζῷον πoλιτικόν "zoon politikon"" (makhluk sosial), padahal sang filsuf hidup pada abad III SM dan naskah tertua karyanya ditemukan dari tahun 900 M, lebih dari 1300 tahun jaraknya, dan kita hanya menyimpan 7 naskah. Kenyataannya, tanpa "kritik teks" pun kita mempercayai Aristoteles, bahkan menerapkan dalil Pytagoras sebagai dalil ilmu Matematika yang terkenal sampai sekarang.

Malang, 13 Nopember 2019

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK