BATU-BATU PUN BERCERITA: GARDEN TOMB BUKAN GOLGOTHA

Text to Speech


ET’PATAH ISCS
Jum’at, 8 Februari 2019


(Tulisan Pertama Arkheologi Tanah Suci +)


+) Artikel ini hasil re-writing dari Bahan Kajian Refleksi Ziarah “Turkey-Holy Land Biblical Tours”, 17 Desember 2017 sampai 3 Januari 2018.


1. PRAWACANA

Para peziarah rohani ke Tanah Suci Israel sering kali dibuat bingung, karena ketika mengunjungi Golgotha, tempat penyaliban Yesus, seakan-akan harus memilih “dua versi” yang berbeda, yaitu:

Pertama, Gereja Kebangkitan Kristus (Yunani: Ναὸς τῆς Ἀναστάσεως “Naos tes Anastaseos”, Arab: كنيسة القيامة “Kanīsah al-Qiyāmah”, Latin: “Ecclesia Sancti Sepulchri”, Ibrani: כנסיית הקבר‎, “Knesiyat HaQever”), yang juga dikenal sebagai Gereja Makam Kudus (The Holy Sepulchre). Gereja ini dibangun di atas situs yang sangat kuno, dan telah dicatat oleh Melito dari Sardis (wafat tahun 180), Eusebius dari Caisarea (260-340), St Hieronimus (347-420) dan catatan-catatan sejarah lain yang sezaman.

Kedua, “The Garden Tomb” (Taman Makam), yang baru sejak tahun 1883 dijadikan sebagai tempat ibadah dan refleksi Kristen oleh sebuah yayasan Kristen yang berpusat di Inggris, yaitu The Garden Tomb Association. Taman Makam yang baru ditemukan setelah zaman perang Diponegoro ini, semula hanya dikunjungi oleh gereja Anglikan, tetapi sekarang lebih populer di kalangan peziarah yang lebih luas, khususnya para peziarah rohani dari Indonesia.

Padahal menurut arkeolog Paul Lawrence, yang bukunya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Atlas dan Sejarah Alkitab (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2016), Taman Makam temuan Gordon telah dibuktikan bukan kuburan dari zaman Yesus, melainkan dari zaman kerajaan Yehuda, kira-kira abad VII SM. Karena hanya sebagian kecil aliran Protestan yang mengakui Garden Tomb, maka menyebut kedua tempat tersebut sebagai versi Katolik-Ortodoks vs. versi Protestan, seperti opini para peziarah Indonesia, adalah sama sekali tidak benar.


2. UJI ARKHEOLOGI GOLGOTHA YANG SEBENARNYA

2.1. ARGUMENTASI MAKAM SUCI BUKAN GOLGOTHA

Sekurang-kurangnya ada 2 alasan beberapa orang awam arkheologi menolak Gereja Makam Suci, yaitu: Pertama, menurut Alkitab Golgotha terletak di luar kota, sedangkan Gereja Makam Suci ada dalam kota. Kedua, disebutkan bahwa dekat Golgotha ada sebuah taman, sedangkan tidak ada taman dekat Gereja Makam Suci. Semua argumentasi penolakan ini, tampak sekali muncul dari pemikiran orang-orang yang awam sejarah dan arkheologi.

Bahkan Gordon sendiri ketika merasa menemukan “Golgotha asli” alasannya sederhana sekali, ia melihat sebuah gundukan karang mirip sebuah bukit kecil yang mirip tengkorak. Padahal menurut penggalian arkheologi, Yerusalem pada zaman Yesus terletak sekitar 7 meter di bawah kota Yerusalem sekarang, setelah selama 2.000 tahun mengalami penghancuran dan pembangunan kembali. Maklumlah, bukan hanya Gordon yang “awam arkheologi”, namun pada zamannya ilmu ini memang belum berkembang seperti sekarang.

Berdasarkan hasil-hasil penggalian arkheologi yang serius, seperti telah dilaporkan oleh dua arkheolog terkemuka, Dan Bahat dan Chaim T. Rubinstein “The Ilustrated Atlas of Jerusalem” yang diterbitkan dalam rangka menyambut 3.000 Tahun Jerusalem (Carta, Jerusalem, 1996), situs tradisional yang lebih populer dikenal Gereja Makam Kudus (The Holy Sepulchre) secara historis sekarang semakin terbukti sebagai tempat penyaliban yang sebenarnya.

2.2. “BUKIT” GOLGOTHA: GARA-GARA SEBUAH LAGU ROHANI?

Kata Γολγοθά “Golgotha” (Ibrani: גֻּלְגֹּלֶת “Gulgolet”, Syriac/Aramaik: ܓ݁ܳܓ݂ܽܘܠܬ݁ܳܐ “Gagulta”) artinya “tempat Tengkorak” Yunani: Κρανίου Τόπος, “Kraniou Topos”, Latin: “Calvarae Locus”). Jadi, tidak ada rujukan dalam Alkitab yang menyebutkan Golgotha atau Calvari sebagai suatu bukit, tetapi hanya menyebut τόπος (tonos, “tempat”) saja, yaitu Κρανίου (Kraniou, “Tengkorak”), seperti dicatat dalam Mat. 27:33, Mark. 15:22, Luk. 23:23, dan Yoh. 19:17.

Perubahan istilah “Calvarae Locus” (Tempat Tengkorak) menjadi “Calvary Collis” (Bukit Tengkorak) terjadi pada abad-abad belakangan. Minimal di Indonesia, orang membayangkan Golgotha sebagai benar-benar bukit, gara-gara popularitas lagu rohani: “On a hill far away, stood an old rugged Cross...” (Nun di bukit itu tampak kayu salib…), karya George Bennard (1913). Bahkan mungkin Charles Gordon sendiri, ketika pertama menginjakkan kakinya di Yerusalem pada tahun 1883, alam pikiran bawah sadarnya lebih dominan dijiwai oleh himne “Come to Calvary's Holy Mountain”, yang digubah oleh James Montgomery (1771-1854): “Come to Calvary's Holy mountain, sinners, ruined by the fall...”, ketimbang exegese mendalam atas teks-teks Alkitab dan arkheologi yang pada zamannya memang baru dalam tahap perintisan.

2.3. LETAK GOLGOTHA DAN HASIL PENGGALIAN ARKHEOLOGI

Menurut Yoh. 19:20, tempat Yesus di salibkan “letaknya dekat kota”, dan dalam Ibr. 13:12 lebih jelas disebutkan “di luar pintu gerbang”. Berdasarkan ayat Alkitab di atas, dahulu Gordon menyangka bahwa sebuah bukit kecil di Garden Tomb sebagai Golgotha, dan taman yang berada di luar kota Yerusalem modern ini sebagai kubur Yesus, karena letaknya di luar kota. Padahal Golgotha yang di atasnya telah didirikan Gereja Makam Suci, pada zaman Yesus memang terletak di luar kota yang dibatasi dengan Tembok kedua.

Selanjutnya, menurut sejarawan Yahudi Flavius Yosefus (menulis 90 M), pada saat keruntuhan Bait Allah oleh serangan Jendral Titus dari Roma, Kota Lama Yerusalem dikelilingi dengan tiga tembok. Tembok ketiga baru dibangun oleh Herodes Agripa sejak tahun 44 M. Jadi, Agripa memperluas kota Yerusalem sehingga Golgotha yang pada zaman Yesus berada di luar kota, sejak saat itu berada di dalam kota yang dibatasi oleh Tembok ketiga.

Sejak tahun 1967 arkheolog Kathleen Kenyon melakukan penggalian di sebuah tanah kosong sebelah selatan Gereja Makam Kudus. Selama 3 tahun penggalian, Kenyon berhasil menembus 10 meter ke bawah sebelum mencapai bebatuan dasar, mulai dari reruntuhan dari zaman Byzantin-Kristen, Arab-Islam, hingga zaman modern. Di atas bebatuan dasar tampak bekas penambangan batu yang ditimbuni reruntuhan dan di sana ditemukan tembikar dari abad VII SM. Kenyon menyimpulkan pada zaman tersebut penambangan masih berlangsung, lalu ditimbuni oleh reruntuhan pada abad-abad sesudahnya, dan di atasnya ditemukan tembikar yang diperkirakan berasal dari abad I atau II M.

Kenyon menyimpulkan, kalau tembikar ini berasal dari abad kedua M, mungkin penimbunan itu dilakukan oleh Kaisar Hadrian pada tahun 135, ketika sang Kaisar membangun Alia Capitolina, kota baru Roma pagan, untuk menggantikan Yerusalem dan menghapuskannya dari ingatan bangsa Israel. Namun arkheolog lain membuktikan tembikar itu berasal dari abad pertama, karena itu mungkin penambangan tersebut telah ditimbun setelah kehancuran Bait Allah pada tahun 70 M.

Bukti tentang luasnya penambangan terbuka ini telah diungkapkan lebih jelas oleh arkheolog Bruce Schein, yang menemukan batas timur tembok kedua yang dibangun oleh Herodes Agung. Jadi, sesuai dengan catatan Alkitab pada zaman Yesus, memang Golgotha berada “di luar pintu gerbang” (Ibr. 13:12), karena tembok ketiga baru dibangun pada zaman Agripa, cucu Herodes Agung, kira-kira 14 tahun setelah penyaliban Yesus. Yesus disalibkan “di dekat kota” (Yoh. 19:17), karena disimpulkan dari catatan Yosephus, pada masa Yesus batas luar kota Yerusalem hanya berjarak 330 meter saja dari Bait Allah.


Jerusalem, 23 Desember 2017

(Bersambung)


Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Teologi

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : (Menyusul)

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK