“Bhinneka Tunggal Ika: Teologi Kerukunan Dalam Bingkai Keindonesiaan”*

Text to Speech
Liputan acara seminar:**

*Trialog Hindu-Kristen-Islam

SEKITAR 400 peserta suntuk menyimak uraian para narasumber dalam kegiatan bertajuk Trialog Hindu-Kristen-Islam “Bhinneka Tunggal Ika: Teologi Kerukunan Dalam Bingkai Keindonesiaan. Para narasumber I Wayan Suraba, SH, M.Pd.H (Ketua Parisadha Hindu Dharma Surabaya),Dr.Bambang Noorsena (Pendiri Institute for Syriac Culture Studies), Prof. Sumanto Al-Qurtuby, Ph.D (Pengajar di King Fahd University of Petroleum and Minirals, Saudi Arabia). Dan Pdt.Chrysta B.P. Andrea (Majelis Agung GKJW) sebagai Moderator.
Diskusi berkisar tentang gagasan untuk mengembangkan teologi kerukunan, dalam rangka menjawab kecenderungan sektarian diantara masyarakat.
Paparan I Wayan Suraba, SH, M.Pd.H bertajuk Bhinneka Tunggal Ika: Dari Zaman Majapahit Hingga NKRI. Menggali sejarah munculnya seloka Bhinneka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari masa keemasan Majapahit. Seloka ini telah menginspirasi para founding fathers karena dapat mewakili kemajukan Indonesia. Seloka Bhinneka Tunggal Ika yang pada zaman Majapahit mengungkapkan kesatuan transendental aliran Siwa-Buddha, oleh para bapa bangsa dimaknai secara lebih luas untuk membingkai warisan keberagaman masyarakat Indonesia , baik dalam suku bangsa , budaya, adat istiadat, agama dan kompleksitas lainnya.
Pancasila Sebuah Exegese Multikultural disampaikan Dr.Bambang Noorsena. Menurut DR.Bambang Noorsena, Pancasila sebagai dasar negara adalah hasil kesepakatan bersama anak-anak bangsa dalam menyatukan bangsa, negara dan masyarakat Indonesia.Pancasila yang digali dari dari nilai-nilai luhur kebudayaan Indonesia, seperti yang pertama kali dicetuskan oleh Bung Karno, 1 Juni 1945, akhirnya dicantumkan dalam pembukaan UUD 1945. Kalau dicermati, dari 26 kata dalam Pancasila ternyata cerminan perjalanan panjang bangsa Indonesia, yang secara kultural menyerap berbagai bahasa, berakar dari bahasa-bahasa asli Nusantara pra Hindu-Buddha, kemudian diperkaya dengan bahasa Sanskrit, Arab-Islam, dan budaya modern Yunani dan Latin, yang mencerminkan penyerapan beragam nilai agama, budaya dan peradaban manusia, sehingga Pancasila bersifat pada suatu pihak kontekstual dan pada pihak lain sekaligus universal.
Prof. Sumanto Al-Qurtuby, Ph.D menyampaikan gagasan berjudul Islam, Agama dan Negara Dalam Perspektif Keindonesiaan.Menurut Beliau, memperbicangkan kembali relasi Islam, Agama dan Negara akan selalu relevan. Khususnya berkaitan dengan ancaman ideologi Trans-Nasional. Kita memilih Pancasila sebagai dasar bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pilihan terbaik bangsa Indonesia, yang sejak awal didukung oleh mayoritas umat Islam Indonesia. Namun dengan ancaman ideologi Trans-Nasional, diperlukan penghadiran Islam yang berakar pada nilai-nilai budaya nasional yang berbasis Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi satu).

Low Trust Society
Salah satu poin penting yang sangat patut dicatat, adalah kalimat penutup oleh Prof. Sumanto, yang menyatakan betapa beliau sangat prihatin dengan bangsa ini yang seperti kurang menghargai kelebihan yang dimiliki bangsa Indonesia, baik berupa warisan tanah air, budaya dan juga sejarah. Beliau mencontohkan bahwa banyak bangsa yang belum memiliki tanah air, dan juga beberapa negara yang menjadi puing karena isu sektarian, misalnya Suriah, Lybia dan Afganistan. Beliau mewanti-wanti agar generasi muda khususnya milenial tidak mudah tersekat-sekat oleh isu sektarian.
Ketika mendengar pemaparan tersebut, saya jadi teringat buku yang bagus tapi belum sempat saya selesaikan: Barking up the wrong tree, karya Eric Barker. Buku itu antara lain menyebutkan bahwa sebuah survei menempatkan negara-negara berdasarkan tingkat kepercayaan di antara masyarakatnya, dan yang paling rendah adalah Moldova (menurut survei waktu itu). Begitu rendahnya kepercayaan di antara satu sama lain, sehingga sulit sekali ada yang mau bekerjasama. Bahkan di Moldova, masyarakat yang sakit tidak mau ke dokter karena mereka yakin bahwa para dokter bisa membeli ijazah tanpa kuliah. Ini suatu tanda yang sangat buruk, namun sebenarnya bisa terjadi di organisasi apapun, termasuk pernikahan. Dalam pernikahan yang tidak berjalan baik, mungkin masih ada rasa cinta namun jika sudah tidak ada kepercayaan dan respek, maka keluarga bisa bubar. Lalu bagaimana mewujudkan masyarakat atau organisasi yang level trust nya tinggi? Memang ada berbagai penelitian tentang ini namun pengalaman seseorang yang pernah dipenjara lebih dari 10 tahun mungkin berguna.

Belajar dari Yusuf
Yusuf ketika muda dijual oleh para saudaranya, namun ia diberi kepercayaan untuk mengelola rumah tangga Potifar. Kejadian 39:3-4 (TB) menyebutkan: “Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.”
Lupakan dulu soal Yusuf yang selalu dilindungi Tuhan, sebaliknya bayangkan apa yang Yusuf lakukan ketika ia baru pertama datang di rumah besar Potifar: ia mulai dengan membangun kepercayaan (trust). Demikian juga ketika ia dijebloskan ke penjara, lagi-lagi ia berusaha keras membangun trust, sehingga ia akhirnya dipercaya oleh kepala penjara. Sungguh menarik bukan? Lalu adakah contoh pejabat masa kini yang berusaha membangun trust yang tinggi dengan masyarakat yang dipimpinnya?

Masyarakat High-Trust
Jawabnya: ada. Kemarin sore saya melihat tayangan televisi, dan ada sosok yang begitu unik karena berhasil membangun daerahnya, yaitu Walikota Banyuwangi. Pak Azwar Anas begitu peduli pada masyarakatnya, sehingga mengadakan program beasiswa, sepatu, dan juga layanan antar obat bagi pasien yang tidak mampu. Bahkan beliau berhasil membangun Bandara dengan konsep green energy. Sungguh luar biasa.
Kalau boleh meringkaskan presentasi beliau kemarin, berikut ini adalah ciri-ciri pemerintahan kota yang high-Trust:

Ciri-ciri pemerintahan kota high-trust:
a. Kepemimpinan stewardship (penatalayanan); b. Layanan pendidikan dan kesehatan yang terjangkau; c. Memperhatikan kaum yang tersingkir; d. Penegakan hukum yang tidak pandang bulu dan adil (law enforcement); e. Partisipasi masyarakat yang luas baik dalam kegiatan publik maupun pengambilan keputusan bagi kota.
Demikian rangkuman seminar hari ini ditambah perenungan saya dari kemajuan kota Banyuwangi. Tentu versi ini masih bisa dibandingkan, misalnya dengan konsep high-Trust nya Singapore.
Bagaimana pendapat Anda?

Penutup
Trialog Hindu-Kristen-Islam, “Bhinneka Tunggal Ika: Teologi Kerukunan Dalam Bingkai Keindonesiaan, diselenggarakan oleh Malang Raya Partnership bekerjasama dengan Institute for Syriac Culture Studies di Club House Istana Dieng, Malang, Sabtu, 13 Juli 2019 pukul 08.30-14.30.

(Victor Christianto, penulis tamu)

Catatan:
** artikel ini terbit di Majalah Berkat September 2019, http://www.majalahberkat.com
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK