DI AMBANG CAKRAWALA TANPA BATAS: REFLEKSI KEBATINAN TRINITAS MENURUT TAWADROS ABU AL-QURRAH

Text to Speech

 

(Tulisan Kedua dari Dua Tulisan*)

*) Disajikan dalam "Forum Kajian Bulanan" yang diselenggarakan oleh Institute for Syriac Culture Studies (ISCS) di Surabaya, 30 Nopember 2018.



2.3. TRINITAS: RELASI "PERICHORESIS" BAPA, PUTRA DAN ROH KUDUS DALAM KEESAAN ALLAH

2.3.1. Terminologi Syro-Arab
Selain dari bahasa Yunani sebagai bahasa asli Perjanjian Baru dan bahasa konsili-konsili gereja awal, Abū Qurrah banyak menerjemahkan term-term teologis dari bahasa Syriac/Aramaik ke dalam bahasa Arab untuk menjelaskan Trinitas (الثالوث المقدس "al-Tsālūt Al-Muqaddas"), Inkarnasi Firman (تجسد الكلمة "Tajjasud al-Kalimah") dan seputar ibadah Kristiani, kemudian menjelaskannya dalam rangka dialog teologis dengan Islam.

Setelah menguraikan penolakan Yahudi terhadap ayat-ayat Taurat dan Nabi-nabi tentang Yesus, yang berakibat murka Allah sehingga mereka diserak-serakkan ke penjuru dunia, Abū Qurrah menulis: ولكن عليك بدين المسيح وتعليمه و ذلك أن الله اب وابن و روح القدس إله واحد ثلاثة وجوه و جوهر واحد وفي هذا الجوهر إله واحد "Walakin 'alaika bi dīn Al-Masīḥ wa ta' līmihi wa dzalika anna Allaha Ab wa Ibn wa Rūh al-Qudus, ilahun wāḥidun tsalātsatun wujuh wa jauhar wāhid wa fī hadzā al-jauhar ilahun wāḥidun". Artinya: "Tetapi kamu mempunyai religi Kristus dan ajaran-Nya, yaitu bahwa Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, Allah yang esa, tiga pernyataan diri dalam satu jauhar dan dan jauhar itu Allah yang Esa" (Louise Cheiko, 1912:767).

Istilah Arab جوهر *jauhar" adalah terjemahan dari bahasa Yunani ουσια "ousia", kadang-kadang hanya dialih-aksarakan ke dalam bahasa Syriac/Aramaik ܐܘܣܝܐ "ausā", atau diterjemahkan ܐܝܬܘܬܐ "ithutha". Abū Qurrah juga memakai istilah وجوه "wujuh" (bentuk tunggal: وجه "wajh") , terjemahan dari bahasa Yunani ραρσορα "parsopa", Alih-aksara Syriac: ܦܪܨܘܦܐ
"parsopa") Sedangkan kata Yunani ὑπόστασις "hypostasis", dalam bahasa Latin "persona" diterjemahkan ke dalam bahasa Arab اقنوم *"uqnum", yg juga alih-aksara dari bahasa Aramaik ܩܢܘܡܐ "qnoma", semua istilah ini dipahami dalam makna metafisik mengatasi ruang dan waktu.

Dalam term Arab-Kristen kata اقنوم "uqnum" juga tidak pernah dimaknai "pribadi" atau "oknum" dalam pengertian bahasa Indonesia sehari-hari. Istilah yg sejajar dengan oknum yang satu dengan oknum lainnya terpisah adalah شخص "syakhshun", bukan اقنوم "uqnum". Kenapa saya jarang memakai kata "oknum" dalam bahasa Indonesia, karena maknanya sudah jauh berubah sejak Sigmund Freud. Kata "oknum" dalam bahasa Indonesia sekarang maknanya berubah menjadi "psychological personality", yaitu pribadi-pribadi yang terpisah, yang apabila diterapkan untuk Tritunggal akan bermakna menjadi شَرِكَ "syirik" "politeis).

Padahal ungkapan "tres personae" (tiga persona) yang dimaksud bapa-bapa gereja adalah personalitas metafisik, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus, yang berbeda-beda namun tidak terpisahkan sebagai Wujud Allah yang esa. Kita memuja Allah yang esa dalam ketritunggalan-Nya dan ketritunggalan dalam keesaan-Nya, tanpa mencampuradukkan persona-persona-Nya, namun tidak pula memisahkan Dzat-Nya.

2.3.2. Relasi "Perichoresis" Abadi Wujud Allah, Firman-Nya dan Roh Kudus

Dalam ungkapan Tawadrus Abū Qurrah, maka Bapa yang disebutnya رئاسة "ri'asah" (pendahulu, pokok asal yang tidak berasal) merujuk kepada الوجود الخالق "al-wujūd al-khāliq" (Wujud Sang Pencipta), seperti diungkapkan oleh Rasul Paulus: وهوَ الآب الذي مِنهُ كُلّ شيءٍ وإلَيهِ نَرجِـعُ، ورَبّ واحدٌ وهوَ يَسوعُ المَسيحُ الذي بِه كُلّ شيءٍ وبِه نَحيا
Falanā naḥnu ilahun wāhid wa huwa al-Abu alladzī minhu kullu syai'in wa ilaihi narji'u, wa huwa rabbun wāhidun wa huwa Yasu' Al-Masīḥ alladzī bihi kullu syai'in wa bihi naḥyā" Artinya: "Maka bagi kita hanya ada satu Allah yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan kepada-Nya semua akan kembali, dan satu Tuhan yaitu Yesus Kristus yang oleh-Nya segala sesuatu diciptakan dan kita hidup" (1 Kor. 8:6, GNB).

Sang Bapa sebagai الذي مِنهُ كُلّ شيءٍ وإلَيهِ نَرجِـعُ "alladzī minhu kullu syai'in wa ilaihi narji'u" (yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan kepada-Nya semua akan kembali) merujuk kepada "Wujud Allah", yang menjadi sumber segala sesuatu. Pertama, sumber dalam Diri-Nya sendiri, yaitu sumber dari Firman-Nya dilahirkan) Yoh. 1:1; 8:42) dan sumber dari Roh Kudus keluar dari-Nya (Yoh. 15:26). Kedua, sumber bagi segala sesuatu yang yang diciptakan-Nya dari tidak ada menjadi ada (makhlūq). Sebagai sumber segala ciptaan, Allah meliputi dan menghidupi seluruh ciptaan melalui kuasa-Nya: “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada" (Kis. 17:27-28). Segala sesuatu ada dalam Allah, tetapi Allah tidak bisa dibatasi oleh segala sesuatu, karena Sang Pencipta mengatasi aspek ruang dan waktu.

Sedangkan sebagai sumber bagi Diri-Nya sendiri, meskipun Firman dilahirkan dari Wujud Allah, dan dari sumber yang satu dan sama Roh Kudus-Nya keluar, namun tidak ada urutan dahulu atau kemudian dalam ruang dan waktu. Karena itu Firman dari "dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad". Dengan kelahiran abadi itu, Firman Allah keluar dari Allah serempak tanpa meninggalkan Allah. Kelahiran Firman itu adalah pernyataan diri Allah, tetapi Firman selalu ada dalam wujud Allah yang satu, bersama-sama dengan Roh Kudus-Nya. Karena itu, "non est quando Filius non Filius fuit“ (Tidak ada waktu di mana Putra Allah tidak ada).

Berkaitan dengan itu, ungkapan يَسوعُ المَسيحُ الذي بِه كُلّ شيءٍ وبِه نَحيا " Yasu' al-Masīh alladzī bihi kāna kullu syai'in wa bihi naḥyā" (Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup), menunjukkan pra-eksistensi Yesus sebagai Firman Allah yang oleh-Nya Allah telah menciptakan segala sesuatu. Abū Qurrah menulis: و نحن نقول ان الابن العزلي المولود من الله قبل كل الدهور الذي هو من جوهر الله "wa naḥnu naqūlu inna al-ibn al-'azalī al-maulūdu min Allah qabka kulli al-duhūr alladzī huwa min jauhar Allah" (Dan kami berkata bahwa Putra yang kekal telah dilahirkan dari Allah sebelum sebelum segala abad, yaitu dari substansi Allah).

Dalam kekekalan yang tidak berawal dan tidak tidak berakhir, meskipun Firman dan Roh Allah itu adalah Firman-Nya dan Roh-Nya sendiri untuk menekankan keesaan dalam ousia-Nya (Syriac: ܐܘܣܝܐ "ithutha", Arab: جوهر "jauhar"), namun Firman dan Roh Allah itu adalah persona-persona (Syriac: ܩܢܘܡܐ "qnome" atau ܦܪܨܘܦܐ "parsope", Arab: اقاوم "aqanim") yang berbeda namun tidak terpisagkan, baik sebelum atau sesudah inkarnasi Firman-Nya (تجسد الكلمة "Tajjasud al-Kalimah") ke dunia (Yoh. 8:42; 17:24).

2.3.3. Misteri Trinitas: Menatap Ambang Cakrawala Tanpa Batas

Dalam Kitab Injil Sang Kristus bersabda: "Ya Bapa, Aku mau supaya di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan" (Yoh. 17:24). Bagaimana relasi kekal Bapa Putra dan Roh Kudus itu dijelaskan? Dalam Wujud Allah yang Esa, sejak kekal hingga ke kekal terdapat gerak hidup kasih kekal yang dinamis, seperti sabda Kristus di atas: ܕ݁ܰܐܚܶܒ݂ܬ݁ܳܢܝ ܡܶܢ ܩܕ݂ܳܡ ܬ݁ܰܪܡܝܳܬ݂ܶܗ ܕ݁ܥܳܠܡܳܐ "d'ahebtanī men qdam tarmyateh d'alama" (sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan).

Jadi, Allah telah mengasihi Putra-Nya sebelum dunia dijadikan. Karena "Allah adalah kasih" (1Yoh. 4:8), maka misteri Trinitas dalam pemahaman ini digambarkan dengan relasi perikhoresis: Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus saling mendiami atau saling tinggal dalam keesaan-Nya. Karena Trinitas berbicara tentang صفة داتية "shifat dzatiyah" yang "beyond times and spaces", maka kita ibarat hanya bisa memandang ambang cakrawala yang tanpa batas.

Dalam keterbatasan manusia, untuk memudahkan pembahasan mungkin kita bisa kira-kira membayangkan: “Sebelum langit dan bumi ini ada, apa yang dilakukan Allah?". Tunggal, tanpa kawan, apa tidak kesepian? Bagi manusia, kesepian dan kesendirian itu beban (Kej. 2:18), karena manusia itu terbatas. Padahal Tuhan itu tidak terbatas, lalu bagaimana ada yang berkata: “Karena Allah ingin dikenal, maka Ia menciptakan manusia”. Kalau Allah menciptakan alam semesta supaya dikenal dan supaya ada yang memuji dan menyembah-Nya, itu berarti Allah butuh aktualisasi diri. Apakah ini sejalan dengan kesempurnaan Allah? Selanjutnya, kalau dikatakan "Allah itu kasih", sedangkan Allah itu kekal, itu berarti kasih-Nya harus juga kekal.

Jadi, dari kekal sampai kekal tentunya kasih Allah itu harus beralamat, kepada siapa kasih-Nya itu dilimpahkan. Nah, kalau kasih itu baru ada sasarannya ketika Allah menciptakan alam semesta, khususnya manusia, berarti pernah ada waktu kasih Allah "bertepuk sebelah tangan”, karena belum ada “yang lain sebagai sasaran kasih-Nya”. Inilah salah satu misteri Allah yang hendak dijawab dengan Trinitas. Allah telah mengasihi Putra-Nya sebelum dunia dijadikan. Karena esensi utama dari Allah adalah Kasih (1 Yoh. 4:8).maka Bapa, Putra dan Roh Kudus saling tinggal dan mendiami dalam keesaan-Nya. Allah adalah subjek yang mengasihi, Firman Allah atau Putra adalah sasaran kasih, dan Roh Kudus yang menyalurkan kasih itu dalam kekekalan Allah sebelum segala abad.

Kalau diungkapkan dalam bahasa kebatina, dalam kekekalan Wujud Dzat Allah, yang dikiaskan Sang Bapa melalui tafakur kekal-Nya “melahirkan” (wiladah) dari Diri-Nya sendiri Firman-Nya atau Putra Allah yang juga kekal. Keberadaan Allah itu tidak terbatas, karena dalam diri Allah ada relasi kasih kekal tatkala Allah ber-"tafakur” dari kekekalan itu dan dalam merealisasikan kasih-Nya, Allah sebagai Wujud atau Sang Pendahulu (ri’asah) mewahyukan diri melalui Firman-Nya, kemudian dipantulkan kembali oleh Firman itu kepada Sang Wujud (Bapa), sehingga Roh Allah mengalir melimpah (inbithaq), tinggal dalam Firman-Nya, untuk kemudian kembali lagi kepada Sang Wujud (Noorsena, 2003: 214-216)

Selanjutnya, gerak dinamis interrelasi perikhoresis Bapa, Putra dan Roh Kudus itu, laksana “tarian trinitaris” menciptakan langit dan bumi. Allah dalam "qudrah" dan "iradah"-Nya hendak menciptakan langit dan bumi (Kej. 1:1), “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2), dan akhirnya segala sesuatu tercipta melalui Firman Allah: "Jadilah Terang, dan Terang itu jadi” (Kej. 1:3).

4. CATATAN PENUTUP
Penerjemahan term-term teologis ke dalam bahasa Arab yang dirintis sejak Tāwadrūs Abū Al-Qurrah, dan teolog-teolog Kristen Timur lain pada masanya dan masa-masa sesudahnya, telah dikembangkan dalam konteks dialog dengan Islam. Sebagian term yang berkaitan dengan Trinitas, yaitu ذات "dzat" dan صفة "shifat" digunakan baik oleh teolog Kristen Syria, ' Abd Al-Masih Al-Kindi (sekitar 800 M), maupun dua teolog Ilmu Kalam Islam, yaitu Abū Mansyūr al-Māturīdī (853-944 M) dan Abū al-Ḥasan al-Asy'arī (853-944 M). Kata صفة "shifat" dalam bahasa Arab berbeda dengan “sifat”, dalam bahasa Indonesia, meskipun asal-usulnya dari bahasa Arab. Kata صفة "shifat" dalam bahasa Arab mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sedangkan kata جوهر "jauhar"), digunakan para teolog Kristen-Arab lainnya, seperti Abū Ra'itah al-Tikriti (775-835 M), di kalangan Islam digunakan di lingkungan Tasawuf, namun maknanya lebih bersifat pantheistik.


Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2018 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Teologi

Connect with Us

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : (Menyusul)

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK