KANJENG GUSTI ISA KALIMATULLAH, SANG MANUNGGALING KAWULA-GUSTI *)

Text to Speech
ET'PATAH ISCS
Jumat, 27 September 2019

*) Artikel ini hasil rewriting bagian akhir dari Bab I buku "Menyongsong Sang Ratu Adil (Yayasan Andi, Yogyakarta, 2003).

1. PENDAHULUAN

Dalam perspektif Kristiani, Isa adalah Firman Allah (Kalimatullah) yang menjadi manusia (Yoh. 1:1; 1 Yoh. 1:1). Dalam sosok Sang Juru Selamat itu, kerinduan manusia untuk bersatu dengan Allah mendapatkan kepastian keselamatan kekal. Salah satu ungkapan menarik Mar Ignatius dari Antiokia (29-107 M) adalah sebutan Sang Kristus sebagai "Sang Manunggaling Kawula Gusti" (Yunani: εν ανθρωπω θεος, "En Anthropo-Theos"). Demikianlah Mar Ignatius merumuskan Kodrat ganda "Ilahi-Insani" Kanjeng Gusti Al-Masih, Kalimatullah yang menjadi Manusia:

"... σαρκικος και πνευματικος, γεννητος και αγεννητος, εν ανθρωπω θεος, εν θανατω ζωη αληθινη, και εκ Μαριας και εκ θεου, πρωτον παθητος και τοτε απαθης, Ιησους Χριστος ο κυριος ημων. "...sarkikos kai pneumatikos, gennetos kai agennetos, en thanató zóe alethion, kai ex Marias kai ex theou, próton pathetos kai tote apathes, Iesous Khristos ho Kurios hemón". Artinya: "....menurut daging dan menurut Roh, dilahirkan dan tidak dilahirkan, yang hidup dan yang mati, yang lahir dari Maria dan yang lahir dari Allah, yang pertama terpikirkan dan yang kedua tak terpikirkan, Yesus Kristus Tuhan kita" (J.B. Lightfoot dan J.R. Haemer, The Apostolic Fathers. Michigan: Baker Book House, 1994:107 dan 139).

2. IMAN KRISTIANI DALAM BAHASA NGELMU" KEJAWEN

2.1. Formula Kristolpgi Kodrat Ganda Kristus sudah disebutkan sejak Masa Rasuli.

Jadi, tidak seperti yang sering dituduhkan orang, bahwa formula kristologis tentang Sang Kristus yang كامل بالاهوت و كامل بالناسوت "kāmilu bi al-lāhût wa kāmilu bi an-nāsût" (sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya insani), baru dirumuskan ratusan tahun setelah zaman Kristus dan para rasul-Nya, ternyata sepenuhnya salah. Jauh sebelum konsili-konsili gereja purba, khususnya Konsili Efesus (431 M) dan Khalsedon (451 M), gereja yang kudus, katolik (am) dan rasuli, telah menggumuli misteri kodrat ganda Sang Kristus, melanjutkan refleksi Alkitab sendiri (Yoh. 1:1, 14; 8:42, Luk. 1:42, 1 Tim. 3:16; Ibr. 2:8-9; 1 Yoh. 1:1, dan sebagainya).

Mar Ignatius dari Antiokia yang hidup pada zaman murid para rasul, yaitu generasi The Apostolic Fathers (Arab: الآباء الرسوليون "al-Abā' al-Rasûliyyun"), ternyata sudah tandas menekankannya. Selain menekankan kodrat ganda Ilahi-Insani Sang Keistus, Mar Ignatius yang ditahbis langsung oleh Rasul Petrus sebagai Patriarkh pertama Gereja Antiokia, juga telah menegaskan bahwa Kristus sebagai Firman Allah telah "keluar dari keheningan kekal", yang akhirnya mendasari rumusan Konsili Nikea (325 M): المولود من الآب قبل كل الدهور "al-maulûdi min al-Ābi qabla kulli ad-duhûr" (dilahirkan dari Sang Bapa sebelum segala zaman).

2.2. Kodrat Ganda Sang Kristus dan Manunggaling Kawula-Gusti

Kredo kristologis yang sudah ada sejak dari akhir abad pertama di atas, apabila kita terjemahkan dalam "bahasa ngelmu" Jawa:  "mungguhing daging lan mungguhing roh, pinutra nora pinutrake, mijil saka Maryam lan mijil saka Allah, loro-loroning atunggil" "Allah itu Esa", tulis Mar Ignatius pula, "telah menyatakan Diri-Nya melalui Yesus Kristus, Putra-Nya, yaitu Firman Allah yang keluar dari keheningan kekal..." (Teks asli: οτι εις θεος εστιν ο φανερωσας εαυτον δια Ιησου Χριστου του υιου αυτου, ος εστιν αυτου λογος απο σιγης προελθων. "Hoti dia theos eaton ho phaneosas eauton dia Iesou Khristou tou Hiou autou, his eaton autou Logos api siges proelthón" (J.B. Lightfoot dan J.R. Harmer,1984: 114 dan 144-145).

Jadi, Kanjeng Gusti Isa adalah Kalimatullah, Sabda Langgeng kang mijil saking Wujud Dzat Allah Kang Maha Langgeng ing kelanggengan (Firman abadi yang keluar dari Dzat Allah yang abadi dari keabadian). Kelahiran ilahi Firman dari Wujud Allah "sebelum segala zaman" itu, tentunya bersifat metafisik: المولود من الآب بغير جسد دون أم "bi ghayr al-jasad dûna um" (tanpa jasad dan tanpa seorang ibu). Itulah kelahiran Ilahi Sabda Allah dari Allah itu bukan "Anak Allah" secara biologis: مولود من الآب دون أم "maulûdi min al-Ābi dûna um" (lahir dari Sang Bapa tanpa seorang ibu).

Kira-kira dalam "bahasa ngelmu Jawa" bisa diterjemahkan: "Mijile Sabdagung saking Hyang Agung saderenge wonten jagad bawana gung, tanpa dunung, tanpa biyung". Mengapa ditegaskan Sabda kekal itu lahir dari Wujud Allah yang kekal mengatasi ruang, melompati waktu, tanpa jasad dan tanpa ibu? Sebab Allah adalah "Non et Generans Neque Genita" Artinya? Persis sama dengan dalil al-Qur'an yang sering "salah alamat" diarahkan untuk mengkritik Iman Kristiani: لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ "Lam yalid wa lam yûlad" (Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan (Q.s. al-Ikhlash/112:3). Jadi, tidak ada seorang Kristenpun yang percaya bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan secara fisik, seprimitif yang dituduhkan orang.

2.3. Ngelmu Slamet: "Mulih Marang Mulanira"

Firman Allah itu kemudian nuzul (turun) dari surga dan menjadi manusia untuk mengembalikan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa "mulih mring mulanira" (kembali ke asal muasalnya) "yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah" (Jawa: "tinulad saka pesemon lan citrane Allah"). Sebagai Firman Allah, Kanjeng Gusti Isa adalah "Citrane Gusti Allah kang orang katingal" (Kol. 1:15, "Gambar Allah yang tidak kelihatan"). Firman Allah yang غير المخلوق "ghayr al-Makhlûq" (bukan ciptaan), menjadi model bagi manusia "yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya" (Kej. 1:26-27). Menurut Mar Athanasius dari Iskandriya (296-373 M), setelah kejatuhan manusia dalam dosa, tidak ada seorangpun yang mampu mengembalikan manusia kepada fitrah penciptaannya semula menurut Gambar dan Rupa Allah kalau bukan gambar dan rupa Allah sendiri, yaitu Kanjeng Gusti Isa Kalimatullah (Mār Athanasius al-Rasuli, Tajjasud al-Kalimah. Cairo: Dār al-Nasyr al-Usqûfiyyah, tanpa tahun: 54-55).

Karena itu, dalam penghayatan Kristiani keselamatan manusia tidak hanya digambarkan dengan "munggah swarga" (masuk surga) saja. Apalagi kalau surga masih digambarkan dengan kolam susu, mandi madu, dan para bidadari cantik, serta gambaran kenikmatan duniawi lainnya. Dalam pandangan Kristiani, tujuan keselamatan manusia adalah mencapai "Manunggaling kawula-Gusti". Itulah yang dimaksud dengan "mengambil bagian dalam kodrat Ilahi", atau dalam terjemahan Alkitab bahasa Arab: تَصِيرُوا بِهَا شُرَكَاءَ الطَّبِيعَةِ الإِلَهِيَّةِ "tashirû bihā syurakā'a fī al-thabī'at al-Ilahiyyah" (2 Pet. 1:4, Van Dyck Arabic Bible).

Kalau ayat ini diterjemahkan dalam bahasa Jawa: "dadia tunggal kodrat kaya Gusti
Allah", tampaknya sangat dekat dengan penghayatan "Manunggaling Kawula-Gusti". Apalagi kalau didekati dalam penghayatan ini, sebenarnya ajaran Kristiani tentang kodrat "Ilahi-Insani" Kristus, dapat disebut juga sebagai "ngelmu tuwa", bahkan paling tuwa dibandingkan dengan segala ngelmu, yang dalam Kejawen dianggap sebagai "ngelmu kekeran" (esoteric knowlegde). Meminjam bahasa kaum Kebatinan, dalam kodrat ganda Sang Kristus itu sekaligus ditemukan "Gustining jagad cilik" (Tuhan atas mikrokosmos) dan "Gustining jagad gedhe" (Tuhan atas makrokosmos).

Namun seperti yang dikemukakan oleh Kreamer, "ngelmu tuwa" inilah yang secara blak-blakan "tanpa tedeng aling-aling", telah dibuka dan diwedarkan kepada semua orang. Sebab rahasia tersebut ternyata merupakan inti pewartaan Injil itu sendiri, "pambabaring kekeran kang kasidem wiwit purwaning zaman (pernyataan rahasia, yang didiamkan sejak permulaan zaman)," begitu istilah St. Paulus, "tetapi sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa" (Rom. 16:25-26).

Kenyataan ini dikemukakan bukan dengan tanpa menyangkal perbedaannya, sehingga seolah-olah kita menerima suatu kekristenan sebagai "ngelmu" yang dipahami oleh R. Ng. Ranggawarsita. Mengapa? Sebab dalam hal "Manunggaling kawula-Gusti", Alkitab tidak mengizinkan paham bahwa jiwa manusia nantinya akan lebur dalam Wujud wajib atau Suksma Kawekas. Dalam bahasa sakramental gereja, setiap umat beriman akan manunggal dengan "Salirane Sang Kristus" (Tubuh Kristus) secara mistik melalui Bujana Suci (Ekaristi). Sebab mustahillah manusia akan lebur dalam Dzat Allah, sebab Allah itu الخالق "Al-Khaliq" (Sang Pencipta), sedangkan bagaimanapun juga manusia ialah المخلوق "al-makhluq" (ciptaan) belaka.

Mar Yuhanna Mansyur al-Dimasyqi/St. John of Damascus (652-749 M), mengibaratkan relasi karib kawula-Gusti adalah laksana pedang dan api. Pedang dibakar oleh api menjadi tajam. Manusia ibarat pedang dan Allah ibarat api. Api membakar pedang dan meningkatkan kualitasnya menjadi sempurna. Namun, pedang tetap pedang dan api tetap api (Joseph Allen, et. all., The Orthodox Study Bible. Nashville: Thomas Nelson Publisher, 1993:561). Bentuk paling radikal penghayatan paham ini di Jawa, tampak pada ajaran Syekh Siti Jenar. Meskipun harus ditekankan pula, bahwa paham Kejawen tentang hal itu tidak pernah sama. Beberapa varian penghayatan tetap mempertahankan batas-batas Pencipta dan ciptaan, khususnya yang tampak pada penghayatan Islam Jawa yang lebih ortodoks. Nah, "ngelmu" Kristus ini akan menambahkan satu varian lagi dalam penghayatan Jawa tentang Manunggaling Kawula-Gusti.

3. PENUTUP

Patut untuk dicatat, penghayatan Islam lebih berat kepada aspek tanzih (transedensi Ilahi), sedangkan paham Kejawen dengan latar belakang Hindu-Budha pada aspek tasybih atau imanensi-Nya. Kekristenan tampaknya barada di tengah-tengahnya, tidak lain karena Kanjeng Gusti Isa sebagai model penghayatan "Manunggaling kawula-Gusti". Pada akhirnya semakin paralel antara Kristen dan Kejawen dikumpulkan, tampaknya iman Kristen menabur benih di tempat yang cukup subur di jagad kerohanian Jawa.

"...Last but not least" di dalam banyak ungkapan ngelmu Kejawen, kita telah menangkap bayang-bayang yang mengarah kepada cahaya Sang Kristus yang penuh, yaitu "Kasunyatan Jati" yang menuju keselamatan abadi. Sebuah penantian yang penuh cinta dan kerinduan. Ternyata kita tidak berjaga di malam-malam yang gelap, tetapi lihatlah "langit ring bang wetan wus katon raina dening sunaring hyang bagaskara!". Ya, sebuah penantian kala sayap-sayap fajar telah memekar menuju rembang siang yang kian lama kian benderang.

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK