PAUS FRANSISKUS DAN KONTROVERSI “PERUBAHAN” DOA BAPA KAMI. *)

Text to Speech

 

ET’PATAH ISCS
Jum’at, 14 Juni 2019


) Artikel *“Tombo Teko Loro Lungo" yang ditulis di atas Kereta Api Argo Dwipangga dalam perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta, 10 Juni 2019.


1. PERUBAHAN TERJEMAHAN: KENAPA DIMASALAHKAN?

Kulo nuwun. Telah beberapa hari berita ini viral, Paus Fransiskus menyetujui perubahan satu frasa dari Doa Bapa Kami. Sebelumnya berbunyi “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”, kini menjadi “Janganlah biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Kontroversi pun bergulir, kaum lemah akal yang kejangkitan “Zakir Naik effect” mulai nuduh-nuduh: “Nah, ini buktinya! Paus setuju mengubah Alkitab!”. “Firman Allah kok direvisi!”. Lagi, “Ini bukti Bible bukan Injil yang asli!”. Padahal yang diubah hanya terjemahan, bukan teks aslinya. Dan hal itu bisa terjadi juga pada kitab-kitab suci agama apapun.

Kalau saya tak salah ingat, sebenarnya berita ini sudah muncul tahun 2017, yang kala itu saya tanggapi enteng. “Terjemahan diubah aja ribut, yang penting teks aslinya kan tetap!”, tulis saya. Jujur, saya males. Terkadang saya heran, kenapa saudaraku seiman ini sering “kagetan”(gampang terkejut), gampang “gumunan” (gampang terheran)? Nah, beberapa hari terakhir saya dihujani pertanyaan yang sama, seiring dengan merebaknya kembali berita ini. Saya jawab agak panjang. “Cukup, ya?”, pikir saya. Ééééé ... Nyatanya, belum juga! Pagi-pagi tadi, baru saja saya buka HP, pertanyaan serupa muncul lebih banyak lagi. “Oooo...serius juga ternyata”, pikirku. Baru sadar saya, ternyata kalimat “Paus setuju mengubah...”, tanpa sadar telah menyimpan “kecemasan teologis terselubung”, gara-gara mungkin seringnya tuduhan “tetangga” kalau Injil kita sudah diubah-ubah. Makanya, jawaban “yang penting teks asli tidak berubah”, tak terlalu menendang, sebab umat Kristen biasanya tidak selalu akrab dengan bahasa asli Kitab Suci.


2. NASKAH ASLI TIDAK PERNAH ADA PERUBAHAN

Pelu dicatat, berbeda dengan Kitab Taurat yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, sementara Injil ditulis dalam bahasa Yunani Koine. Sejak abad-abad sebelum dan saat munculnya Kekristenan, Israel adalah wilayah “multi bahasa”. Bahkan Kristus sendiri berkarya di “Gallilea, wilayah bangsa-bangsa” (Yes. 8:23, Mat. 4:15, Ibrani: גְּלִיל הַגּוֹיִם “Gelil HaGoyim” ), karena itu, bahasa Yunani juga bukan bahasa asing bagi Kristus dan para rasul-Nya, tentunya selain bahasa Ibrani sebagai bahasa pengajian Taurat dan bahasa Aramaik sebagai bahasa sehari-hari percakapan mereka.

Yesus pasti mengajarkan doa Bapa kami dalam bahasa Aramaik, namun tak lama setelah itu sabda-sabda-Nya oleh ilham Roh Kudus segera diabadikan dalam bahasa Yunani Koine, demi jangkauan pewartaan Injil kepada segala bangsa (Mat. 28:19). Mengapa? Karena bahasa Yunani Koine adalah bahasa internasional pada zaman itu. Meskipun Injil telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, tetapi teks aslinya masih terpelihara dengan sangat baik sampai hari ini. Dan ini bukan isapan jempol belaka, sebab kita mempunyai bukti naskah bahasa asli yang jumlahnya lebih dari 5.000 manuskrip (dalam bentuk papyrus, codex, lectionary ), suatu jumlah yang sangat mencengangkan dibandingkan dengan naskah-naskah kuno manapun. Malahan, dengan mudah semua bisa “check and recheck”, karena sebagian manuskrip itu sudah di- “online” -kan. Ayo, mau nuduh-nuduh apa lagi?

Selanjutnya, diantara ribuan naskah itu ada yang jaraknya hanya belasan tahun dari waktu penulisannya. Selain naskah-naskah asli (the original text of New Testament), yaitu bahasa Yunani Koine, kita juga mengabadikan Injil dalam bahasa asli Yesus (the language of Jesus), yaitu naskah Peshitta beraksara Syro-Aramaik. Selanjutnya, karena posisi bahasa Latin pada masa imperium Romawi menjadi bahasa administratif, terbukti dari temuan beberapa papyrus yang berisi sensus penduduk dari akhir abad pertama, maka tak terlalu lama setelah zaman Yesus, kita mempunyai terjemahan Latin kuno (Vetus Latina), kira-kira dari tahun 150 M, yang kemudian disusul dengan terjemahan Vulgata dari abad IV M.


3. KEBIJAKAN SRI PAUS DAN TERJEMAHAN DINAMIS KITAB SUCI

Jadi, yang dilakukan Sri Paus itu hanya penyesuaian terjemahan Itali modern dalam rangka bacaan liturgis, mirip dengan gereja-gereja berbahasa Inggris menggunakan terjemahan Good News English Bible (GNE) atau dalam bahasa Arab dikenal لكتاب المقدس ترجمة تفسير ية “Al-Kitab Al-Muqaddas Tarjamah Tafsiriyah”. “Tuhan tidak mencobai”, demikian siaran Sri Paus dari sebuah stasiun TV di Italia. “Kita sendirilah yang jatuh ke dalam pencobaan, bukan Allah yang mendorongnya”, tambahnya pula. “Sebab ibarat seorang bapa tidak akan melakukan itu, justru Allah akan segera membantumu bangkit. Jadi, bukan Tuhan, tetapi Setan yang membawa kita dalam pencobaan”.

Apakah dengan begitu terjemahan Alkitab selama ini salah? Tidak juga! Lebih jelasnya, kita harus membaca teks asli dari frasa yang terjemahannya direvisi tersebut: καὶ μὴ εἰσενέγκῃς ἡμᾶς εἰς πειρασμόν, ἀλλὰ ῥῦσαι ἡμᾶς ἀπὸ τοῦ πονηροῦ. Frasa ini kata demi kata bisa diterjemahkan: “Kaí” (dan) mē (jangan) eisenegkēs (membawa) hēmas (kami) eis (ke dalam) peirasmon (pencobaan), alla (tetapi) rusai (lepaskan) hēmas (kami) apo (daripada) tou ponerou (yang jahat). Kata kerja “membawa” dalam ayat ini adalah AORIST ACTIVE SUBJUNCTIVE, yaitu εἰσενέγκῃς “eisenegkēs”, yang bila digabungkan dengan partikel negatif “jangan”, maka sudah tepat diterjemahkan “janganlah membawa”. So, tidak ada masalah apapun ditinjau dari segi kebahasaan.

Perlu ditambahkan juga, dalam Peshitta Syro-Aramaik, yaitu bahasa asli yang digunakan Kristus, maknanya juga tidak berbeda: ܘܠܳܐ ܬ݁ܰܥܠܰܢ ܠܢܶܣܝܽܘܢܳܐ ܐܶܠܳܐ ܦ݁ܰܨܳܢ ܡܶܢ ܒ݁ܺܝܫܳܐ “W'lâ ta'alan l'nesyûnâ ella pasan men b'îshâ” (Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat). Ini terjemahan Alkitab dari naskah Peshitta menurut beberapa ahli bahasa Syriac/Aramaik: “And lead us not into temptation, but deliver us from the evil” (Etheridge). “And bring us not into temptation, but deliver us from evil” (Murdock). “And do not let us enter into temptation, but deliver us from error” (Lamsa). Kalau begitu, apa yang dimasalahkan? Masalahnya hanya pada pemahaman teologis kita. Karena dalam Surat Yakobus dikatakan: ”Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun (Yak. 1:13). Namun, pemahaman teologis kita juga tidak boleh kita masukkan ke dalam teks Kitab Suci (eisegese), melainkan makna dari ayat-ayat suci itu kata demi kata harus digali (exegese) untuk menuntun pemahaman teologis kita.

Jadi, apakah yang dilakukan Paus salah, karena tidak menerjemahkannya secara harfiah? Tidak! Sebab selain metode penerjemahan interlinear dan harfiah, kita juga mengenal terjemahan dinamis (Dynamic Equivallent Translation) dan terjemahan parafrase. Sekedar contoh, umat Muslim bisa membandingkannya dengan metode ترجمة تفسير ية “Terjemah Tafsiriyah”. Formula “Basmalah” بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَنِ الرَّحِيم “Bismillah ar-Rahman ar-Rahim” (baca: “Bismillahirrahmanirrahim” ), kata demi kata bisa diterjemahkan: “Dengan Nama Allah, Yang Pengasih, Yang Penyayang”. Namun berdasarkan metode ترجمة تفسيرية “Tarjamah Tafsiriyah”, Al-Ustadz Muhammad Thalib menerjemahkan: “Dengan Nama Allah Yang Maha Luas belas kasih-Nya kepada orang mukmin, lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya”.

Dasarnya, kata الرَّحْمَنِ “Ar-Rahman” (Yang Pengasih) pada kalimat وَعِبَادُ الرَّحْمَٰ. “Wa 'ibadurrahman” (hamba-hamba Yang Maha Pengasih) dalam Q.s. Furqan 63-68 merujuk kepada umat beriman saja, sedangkan kata الرَّحِيم “ar-Rahim” (Yang Penyayang) penerapannya lebih umum, yaitu untuk semua makhluk-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir : إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ “inallāha bin-nāsi lara`ụfur raḥīm”. Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (Q.s. Al-Baqarah 2:143).


4. CATATAN PENUTUP

Menurut tim penerjemah New English Translation Bible (NET), permohonan “Janganlah bawa kami ke dalam pencobaan”, sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan sebagai penyebab pencobaan, melainkan sebagai gaya retoris permohonan perlindungan dari dosa. Jadi, Paus tidak salah karena mengijinkan perubahan dalam terjemahan bahasa Itali untuk Misele (buku misa kudus): “Janganlah biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”.

Paus juga bukan yang pertama menyarankan terjemahan ini, sebelumnya beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris sudah melakukannya. Misalnya, New International Standard Version (NISV): “And do not subject us to the final test, but deliver us from the evil one”. Begitu juga, New International Reader's Bible (INRB): “Keep us from sinning when we are tempted. Save us from the evil one”. Kebijakan ini menjadi heboh, *hanya karena yang mengucapkan Paus, dan sebab lainnya barangkali karena kita di Indonesia tidak akrab dengan bahasa asli Kitab Suci kita. Karena itu, perubahan terjemahan, yang sebenarnya jamak terjadi pada kitab suci agama manapun, kemudian dianggap seolah-olah Kitab Injil bisa diubah-ubah dengan bebas.

Wasana Kata, saya dan banyak saudara saya dari gereja Ortodoks yang lebih akrab membaca doa ini dalam bahasa Arab, sama sekali tidak pernah terganggu dan “enjoy-enjoy” saja untuk mengakhiri doa yang diajarkan oleh Sayidna Al-Masih Ra'is as-Salam: وَلاَ تُدْخِلْنَا فِي تَجْرِبَةٍ لَكِنْ نَجِّنَا مِنَ الشِّرِّيرِ. “Wa lâ tudzkhilnâ fî tajribah, lakin najjinâ minasysyirîr, Amin” (Dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat), sekalian dengan doxologinya¬ : *لأَنَّ لَكَ الْمُلْكَ وَالْقُوَّةَ وَالْمَجْدَ إِلَى الأَبَدِ آمِينَ “Liana lakal mulka wal quwwata wal majda ilal abad, Amîn” (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya, Amin).

Stasiun Purwokerto, dalam alunan lagu “Di tepinya sungai Serayu”, 10 Juni 2019.


Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK