Teologi

Text to Speech

Berisi artikel-artikel mengenai Teologi milik Dr. Bambang Noorsena.

)

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, namun tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayat­nya di-“tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik gereja-gereja Ortodoks maupun gereja-gereja Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci dengan cara yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melipat ke­dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru­musan Basmalah: سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
"Bismillāh ar-raḥmān ar-raḥīm' (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan di gereja-gereja berbahasa Arab diawali: بِاسْمِ الآبِ وَالاِبْنِ وَالرُّوحِ الْقُدُسِ, الإلهِ الْوَاحِد, امين "Bism al-Abi wa al-Ibni wa ar-Rūḥ al-Qudus, Al-Ilāh al-Wāḥid, Amin" (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

 Read More
)

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Bramantyo, menarik untuk diapresiasi. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini, dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang menanggapi biasa-biasa saja, ada yang memuji-muji, tetapi ada pula yang bertanya: "Misi apa di balik novel dan film ini?" Beberapa orang berkomentar, “Ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo". menariknya, ada pula yang serius mencermati kaitan novel dan film ini dengan relasi Kristen-Islam di Mesir. Terlepas dari apresiasi saya atas suksesnya film tersebut, resensi singkat ini sekedar mencermati beberapa kejanggalan tentang tradisi Kristen Koptik yang digambarkan dalam film ini. tentu saja, catatan ini saya ini berangkat dari apa saya ketahui dan yakini sebagai orang Kristen ortodoks. Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi terkuno di Mesir, dan komumitas Kristen Ortodoks yang terbesar di dunia Arab sampai saat ini.

 Read More
)

 

HUKUM MURTAD DAN EKSPLOITASI MUALLAF PERSPEKTIF HAM DAN LINTAS IMAN ;
Narasumber : Dr. Bambang Noorsena ;
Hari : Jum'at, 2 Agustus 2019 ;
Pukul : 18.00 - 21.00 WIB ;
Tempat : Gereja Katholik 'St. Maria Tak Bercela'. Jl. Ngagel Madya 1, Surabaya. ;
NB : Donasi bisa disalurkan ke "BCA No. 7880-210-461 an. Michel Andrew."
Continue Reading
 Read More
)
"Kalau begitu, mengapa Allah berdialog dengan Firman-Nya, kalau Firman itu selalu satu dengan Wujud Allah, yaitu Bapa itu sendiri?", tanya Bilung.
"Itulah kedalaman dan kekayaan Diri Allah yang tidak ada pada makhluk-Nya, Bilung. Untuk menjawab itu, kamu harus mengerti dua misteri Yang Maha Ada dan Yang Maha Esa ini.
Pertama, Allah itu satu tanpa sekutu, berdaulat tanpa bergantung kepada sesuatu; Kedua, Allah itu tunggal tanpa kawan, namun tidak merasa kesepian. Renungkanlah sekali lagi kedua misteri Ilahi ini, Cah Bagus!", jawab Kyai Semar serius.
Pertama, tentang penciptaan dijelaskan: “…bahwa Aku tetap Dia (Ibrani: אֲנִ֣י ה֔וּא "Ani Hû", Yunani: Ἐγώ εἰμι, "Egô eimi"). Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak ada lagi” (Yes. 43:10). Itu artinya Allah adalah yang awal dan yang akhir, tidak ada Allah sebelum Dia, dan tidak ada Allah lain lagi setelah Dia". Renungkan sekali lagi, Bilung!".
 Read More
)
"Tadi saya bilang apa, Bilung? Tritunggal itu "ora loro, ora telu, nanging yen siji dudu sijine watu" (Bukan dua, bukan tiga, tetapi kalau satu tak sama dengan satunya batu). Ngerti?", Kyai Semar mengulang wejangannya.
"Jadi, jangan kita menarik ekstrim sifat ke-"tiga"-an-Nya, dan jangan pula memaknai salah wujud Dzat-Nya yang Esa. Betul gitu, Kyai?"
"Tak pernah kita mendengar", kata Semar mengutip St. Gregorius dari Nyssa, "Allah Bapa berbuat tanpa Putra atau Firman-Nya, begitu pula Putra tak pernah terpisah dari Roh Kudus. Nah, kalau Bapa, Putra dan Roh Kudus secara bersama-sama tak pernah terpisahkan menjalankan kuasa-Nya dan melakukan pemeliharaan ilahi atas kita dan jagad raya, maka tak mungkin kita bicara ada tiga Allah".
 Read More
)

Pikiran Bilung sudah mulai tertata, namun sayang metode “perang ayat-ayat” masih sulit dilepaskan dari otaknya. Maklum, Bilung sudah mengalami “cuci otak” selama bertahun-tahun, karena itu sembuhnya memerlukan proses. Namun Semar, punya “terapi” tersendiri menghadapi berbagai penyakit pikiran, seperti yang kini dialami oleh Bilung.

“Saya, serius Kyai!”, Bilung protes. “Mat. 28:19 sampèyan tafsir Tritunggal? Kalau hanya Bapa, Putra dan Roh Kudus disebut bersama-sama sampèyan tafsir satu, gimana dengan ayat ini: “Di hadapan Allah, Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan …” (1 Tim. 5:21). Apakah para malaikat pilihan-Nya juga masuk dalam zat Ilahi, Kyai?”.

 Read More
)
 Read More
)

Karena itu berbeda dengan Yoh. 1:1 yang menegaskan bahwa Allah sendirilah Logos itu (καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος. "Kai theos en ho logos), maka Philo menyebutnya "Logos Ilahi" (θείος λογος), "theios Logos"), dan bukan θεος "Theos" (Allah) itu sendiri.
Dengan demikian, berbeda dengan Yohanes, Philo tidak pernah mengenai Logos sebagai "hypostasis" pre-eksisten yang selalu bersama-sama Allah dan Allah itu sendiri. Bagi Yohanes yang mengacu kepada דבר "Davar" dalam Perjanjian Lama Ibrani, Allah telah menciptakan dengan Logos-Nya dari tidak ada menjadi ada: "Segala sesuatu djadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang jadi dari segala yang telah dijadikan" (Yoh. 1:3).

Sedangkan mengacu kepada מימרא "Memrā" dalam Targum, Yohanes menegaskan: καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν, "Kai ho Logos en pros ton theon" (Firman itu bersama-sama Allah), sekaligus "kai theos en ho Logos" (Allahlah Firman itu). Karena itu, sebagaimana yang ditekankan oleh Alfred Edersheim (1995:33), Λόγος "Logos" dalam pemikiran Philo yang "impersonal, an intermediary being" jelas-jelas berbeda dengan מימרא "Memra" dalam Targum yang melatarbelakangi prolog Injil keempat (Yoh. 1:1-14). Jadi, relasi Hellenisme dalam teologi Kristen hanya bersifat sampingan, sebatas kesamaan istilah, tetapi maknanya bertolak belakang.

 Read More
)

Philo dari Alexandria (20 SM-50 M) adalah seorang Yahudi Diaspora yang pemikiran teologisnya sangat dipengaruhi oleh filsafat Plato dan para penerusnya. Pemikiran Philo merupakan sintesa yang unik antara Platonisme, filsafat Stoa dan Monoteisme Yahudi. Philo adalah anggota dari masyarakat Yahudi Hellenik yang cukup tersohor, dan merupakan salah satu corong yang menyuarakan pemikiran Yahudi Helenik pada abad pertama. Salah satu pemikiran Philo yang paling menonjol dan dapat dikaji dalam kaitannya dengan studi Perjanjian Baru adalah mengenai Λόγος "Logos" (Firman, Pikiran, atau Sabda Allah).

Istilah Λόγος "Logos" sangat penting bagi Philo, karena ia menggunakan kata ini lebih dari 1400 kali dalam berbagai tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisan para Rabbi pra-Krieten juga tidak luput dari pemikiran Hellenik yang mengelilingi, minimal ada tarik menarik antara 2 aliran pemikiran yang cukup menonjol sebelum dan pada awal-awal tarikh Masehi. Perlu dicatat pula, jauh sebelum zaman Philo, Perjanjian Lama sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh komunitas Yahudi di Alexandria, kira-kira abad III SM. Perlu dicatat pula, kata דבר "Davar" (Firman) TUHAN) juga diterjemaahkan menjadi Λόγος "Logos" dalam naskah yang lazim dikenal sebagai Septuaginta ini.

 Read More
)

Kulo nuwun. Telah beberapa hari berita ini viral, Paus Fransiskus menyetujui perubahan satu frasa dari Doa Bapa Kami. Sebelumnya berbunyi “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”, kini menjadi “Janganlah biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Kontroversi pun bergulir, kaum lemah akal yang kejangkitan “Zakir Naik effect” mulai nuduh-nuduh: “Nah, ini buktinya! Paus setuju mengubah Alkitab!”. “Firman Allah kok direvisi!”. Lagi, “Ini bukti Bible bukan Injil yang asli!”. Padahal yang diubah hanya terjemahan, bukan teks aslinya. Dan hal itu bisa terjadi juga pada kitab-kitab suci agama apapun.

Menurut tim penerjemah New English Translation Bible (NET), permohonan “Janganlah bawa kami ke dalam pencobaan”, sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan sebagai penyebab pencobaan, melainkan sebagai gaya retoris permohonan perlindungan dari dosa. Jadi, Paus tidak salah karena mengijinkan perubahan dalam terjemahan bahasa Itali untuk Misele (buku misa kudus): “Janganlah biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”.

 

 Read More

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK