PHILO DAN TULISAN PARA RABBI: PERANANNYA DALAM STUDI PERJANJIAN BARU*)

Text to Speech


Tulisan Pertama dari Dua Tulisan

") Artikel lama yang nyaris hilang ini ditemukan kembali di www.sarapanpagi.org, pertama kali disajikan di Sekolah Tinggi Teologi Reform Indonesia (STTRI), Surabaya, sekitar April 2008..

I. LATAR BELAKANG

Philo dari Alexandria (20 SM-50 M) adalah seorang Yahudi Diaspora yang pemikiran teologisnya sangat dipengaruhi oleh filsafat Plato dan para penerusnya. Pemikiran Philo merupakan sintesa yang unik antara Platonisme, filsafat Stoa dan Monoteisme Yahudi. Philo adalah anggota dari masyarakat Yahudi Hellenik yang cukup tersohor, dan merupakan salah satu corong yang menyuarakan pemikiran Yahudi Helenik pada abad pertama. Salah satu pemikiran Philo yang paling menonjol dan dapat dikaji dalam kaitannya dengan studi Perjanjian Baru adalah mengenai Λόγος "Logos" (Firman, Pikiran, atau Sabda Allah).

Istilah Λόγος "Logos" sangat penting bagi Philo, karena ia menggunakan kata ini lebih dari 1400 kali dalam berbagai tulisan-tulisannya. Tulisan-tulisan para Rabbi pra-Krieten juga tidak luput dari pemikiran Hellenik yang mengelilingi, minimal ada tarik menarik antara 2 aliran pemikiran yang cukup menonjol sebelum dan pada awal-awal tarikh Masehi. Perlu dicatat pula, jauh sebelum zaman Philo, Perjanjian Lama sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh komunitas Yahudi di Alexandria, kira-kira abad III SM. Perlu dicatat pula, kata דבר "Davar" (Firman) TUHAN) juga diterjemaahkan menjadi Λόγος "Logos" dalam naskah yang lazim dikenal sebagai Septuaginta ini.

Selanjutnya, tulisan-tulisan para rabbi Yahudi juga mengembangkan pemikiran mengenai Firman TUHAN ini. Sebuah terjemahan paraphrase Perjanjian Lama yang dikenal dengan Targum dalam berbagai versinya, juga mengembangkan pemikiraan mengenai מימרא "Memra" (Firman), yang jelas-jelas lebih memberi corak kepada teologi Rasul Yohanes mengenai Firman dalam prolog Injilnya (Yoh. 1:1-14), ketimbang dengan
Λόγος "Logos"-nya Philo, menurut dugaan para teolog abad lalu. Untuk lebih jelasnya, artikel singkat ini akan membahas pemikiran Philo dan tulisan para rabbi dalam kaitannya dengan studi Perjanjian Baru, yang pembahasannya akan dibatasi pada konsep mengenai Logos (Firman). Maksudnya, apakah Logos dalam Injil Yohanes lebih dekat pada pemikiran Philo yang lebih dominan bercorak filsafat Yunani, ataukah Logos menurut LXX dan Memra dalam Targum? Kajian lebih mendalam mengenai masalah ini dirasakan cukup penting, mengngat banyak teolog abad lalu yang berpandangan bahwa Logos dalam prolog Injil Yohanes lebih bercorak Heellenistik ketimbang Yudaistik.

2. Λόγος "LOGOS" DALAM PEMIKIRAN PHILO

Berangkat dari dualisme dalam filsafat Platonisme, Philo membedakan antara dunia fenomenal dan dunia ideal. Dunia Fenomenal "di sini dan kini" adalah merupakan tiruan saja dari dunia ideal "di sana dan akan datang". Dalam kerangka pemikiran yang demikian, Logos dipandang sebagai instrumen untuk menciptakan dunia dan "mediator" antara Allah yang transenden dengan dunia materi. Beberapa teolog yang menyimpulkan bahwa Λόγος "Logos" dalam Injil Yohanes mengambilalih konsep Philo, agaknya disimpulkan dari beberapa tulisan Philo yang membicarakan Logos. Memang banyak kemiripan, tetapi perbedaannya juga sangat besar:

"Logos adalah Anak Sulung Allah, yang sulung dari antara para Malaikat, sejenis malaikat pemimpin, karena aitu Logos dipanggil sebagai "Sang Pemegang Otoritas", dan nama dari Allah..." (De Confusione Linguarum, 146).

"Firman yang sama, yang melaluinya Ia menciptakan alam semesta, itulah yang digunakannya untuk menarik manusia yang sempurna dari benda-benda duniawi kepada Diri-Nya sendiri" (De Saccrificis Abelis et Caini, 8).

"Karena diperlukan maka Logos ditunjuk sebagai Hakim dan peranatara, yang juga disebut "Malaikat" (Questionare et Salutiones in Exodus II,13).

Pemikiran Logos dalam filsafat Yunani ini, sudah berkembang jauh sebelum Philo, bahkan Plato dan Zeno sendiri, meskipun maknanya tidak selalu sama. Dari Heraklitos, Parmenides, Xenopanes, Zeno, Plato dan Neo-Platonisme yang lebih kemudian, sudah digumuli konsep Logos yang meskipun dalam detilnya berbeda-beda, namun semuanya bercorak panteistik. Menurut Heraklitos, Logos adalah "ratio" yang merupakan hukum universal yang menguasai segala-galanya. Logos itu bersifat ilahi, tetapi bukan Allah yang personal dalam pemahaman Yahudi-Kristen (Bertens, 1999:56). Disini Logos disamakan dengan jiwa manusia sendiri. "Dalam perjalananmu", kata Philo, "engkau akan menemui batas-batas jiwa, jalan manapun yang engkau tempuh, begitu mendalam logosnya" (Fragmen 45).

Dalam pemikiran Philo, hanya melalui LogosIah Allah dapat memasuki "dunia fenomenaI" yang berada dalam jangkauan persepsi manusia. Gagasan ini jelas-jelas dilatarbelakangi oleh pemikiran Plato, bahwa Allah (θεὸς, "theos") berada dalam "dunia ide" yang tunggal dan tetap, tidak mungkin menyentuh "dunia manusia" yang majemuk dan berubah-ubah. Itulah sebabnya diperlukan Logos untuk menjembatani antara keduanya. Meskipun demikian, bagaimanapun juga Philo adalah seorang Yahudi, yang sekuat tenaga ingin memahami Logos dala miman Yahudinya, meskipun untuk usahanya itu ia tidak selalu berhasil.

Di bawah ini petikan beberapa tulisan Philo mengenaai Logos, yang dilatarbelakangi oleh pemahaman teologisnya sebagai seorang Yahudi, dan sudah barang tentu dalam "bahasa keagamaan Yahudi". Misalnya, Philo berbicara mengenai Logos sebagai "Imam Besar Surgawi", bahkan sebagai "Anak Sulung"-Nya:

Sebab, sebagaimana telah nyata, ada dua Bait Allah. Satu diantaranya adalah alam semesta ini., yang di dalamnya juga ada imam besar, yaitu Logos Ilahi, Yang Sulung, sedangkan lainnya adalah jiwa rasion al, dan yang menjadi imamnya adlah insan sejati (Opicio Mundi, I: 215).

Jemaah kudus tru dituntunnya sesuai dengan kebenaran dan hukum, memperhadapkan dengan Logos sejati, yaitu Anak Sulung yang akan memegang pemerintahan sebagai seorang raja muda dari seorang maharaja, sebab seperti dikatakan dalam ayat tertentu: Lihatlah, AKU ADA telah mengutus malaikat-Ku di hadapanmu untuk melindungimu pada jalan itu (Quod Deus Immutabilis Sit, 51).

Dari dua kutipan di atas jelas bahwa Philo menyamakan Logos dengan Anak Sulung Allah, tetapi bukan seperti pemahaman Perjanjian Baru, melainkan sebagai Malaikat Allah. Dalam pemikiran Yahudi, setinggi apapun kedudukan Malaikat mereka adalah ciptaan belaka, padahal dalam pemikiran Yunani Logos adalah Hukum abadi yang bersifat Ilahi, perantara antara Allah dan Manusia. Nah, karena Logos haruslah Ilahi tetapi Philo menyamakannya dengan Malaikat Tuhan, konsekuensinya Philo gagal mempertahankan monoteisme Yahudi. Ini terbukti dari pemikiran Philo bahwa Logos adalah Θεός δευτερος "Theos deuteros" (Allah kedua), sebagaimana dikatakan dalam tulisannya yang lain:

"Sebab tidak ada sesuatu yang dapat binasa, yang dibuat menurut Rupa Dia yang Maha Tinggi dan Bapa alam semesta, tetapi hanya dari Allah kedua (theos deuteros) yang adalah Logos-Nya sendiri" (Questiones et Salutiones in Genesis II, 62).

"Walaupun Allah sesungguhnya esa, tetapi keuasaan-Nya yang tertinggi dan utama adalah dua, Kebaikan dan Kedaulatan-Nya. Diantara keduanya ada yang ketiga yang menyatukan keduanya, yaitu Logos, sebab melalui Logoslah Allah adalah pemimpin dan serentak pula yang mahabaik. Dari kekuasaan ini. Kedaulatan-Nya dan kebaikan-Nya, kerubium adalahsimbol-simbol-Nya, seperti pedang yang menyala adalah simbol dari nalar cerdas" (Cerubim, 27-28).

3. YUDAISME: TARIK MENARIK ANTARA PEMIKIRAN SEMITIK DENGAN HELLENISME

Yudaisme, yang mengacu kepada agama Yahudi yang direfleksikan dari ajaran-ajaran Musa dalam Kitab Taurat, mulai menemukan bentuknya sejak reformasi Yosia yang mencapai puncaknya tahun 612 SM. Sejak pembuangan ke Babel dan jauhnya mereka dari בֵּית־הַמִּקְדָּשׁ "Bēt HaMīqdash" (Bait Suci) Yerusalem, menyebabkan pusat ibadah tidak lagi terletak pada korban-korban di kota suci Yerusalem, melainkan si sinagoge-sinagoge. Upacara korban bergeser pada pendalaman ajaran Taurat, dan sejak itu peranan Taurat semakin menonjol. Pada tahun 538 SM kebanyakan orang Yahudi di pembuangan menolak kembali ke Tanah Suci, telah mengharuskan pembaruan hidup religius agar mereka tetap mmpertahankan identitas keyahudian mereka.

Hidup keagamaan tanpa Bait Allah dan tanpa korban di Yerusalem terpaksa dikembangkan, tetapi ditemukan rujukannya dari Taurat sendiri, sebab ketentuan ibadah korban harus ke Yerusalem belum dijumpai pada zaman Musa, dan baru dilembagakan pada masa Salomo. Dalam rangka penempatan kembali Taurat sebagai pusat keagamaan Yahudi itu, Ezra disebut bapa Yudaisme, sebab sekembali dari pembuangan di Babel ia tidak memperkenalkan hukum yang baru, melainkan sekedar menemukan cara baru untuk memberlakukan hukum lama yang sudah ada

Akibat reformasi Ezra ini, yang disatu pihak dapat dianggap menghalau pengaruh Hellenisme dalam tubuh Yudaisme, dirasakan mulai meruncing setelah para imam kaya di Yerusalem menentangnya pada zaman Antiokhus Ephifanes (175-163 SM). Mayoritas masyarakat umum (Ibrani: עם הארץ "am ha arets") berusaha menyikirkaan hal-hal lain dalam kehidupan keyahudian mereka, kecuali yang jelas-jelas ada dalam Taurat. Pada masa Diaspora tersebut, Hellenisasi dalam pola pikir Yahudi taampak dari berkembangnya tafsiran Taurat secara alegoris. Sebelum itu, dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi diaspora di Alexandria, Perjanjian Lama sudah diterjemahkan dalam bahasa Yunani, dimana דבר "Davar" (Firman) YHWH diterjemahkan menjadi Λόγος "Logos". Seperti akan kita lihat dalam pembahasan di bawah, bahwa sekalipun Perjanjian Lama menggunakan kata Λόγος "Logos", tetapi sama sekali tidak memindahkan pemikiran filsafatnya. Dalam menghadapi arus besar Hellenisasi para imam di Yerusalem dan kemerosotan moral imam-imam Hasmonean, khususnya Alexander Yanneus, kaum Farisi mencoba sekuat tenaga untuk mempertahankan tradisi-tradisi Yahudi dan mengembangkan ibadah di sinagoge-sinagoge.

Kaum Eseni, tidak hanya memertahankan tradisi-tradisi mereka, tetapi malahan menarik diri dalam masyarakat ramai, membelakangi Bait Allah, dan mengasingkan diri mereka ke Wadi Qumran.
Penemuan naskah-naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls) membuktikan adanya pandangan Yahudi yang berbeda dengan Yudaisme belakangan, yang mengembangkan semakin jauh, dan yang salah satu merupakan reaksi dari pesatnya perkembangan Kekristenan. Yudaisme belakangan ini, mulai memang sudah mengambil jarak tegas dengan Kekristenan yang mengklaim sebagai "penggenapan nubuat Taurat dan Nabi-nabi", khususnya dengan kedatangan Yesus sebagai Sang Mesiah, khususnya sejak mereka menyelenggarakan konsili mereka di Yamnia (dekat Tel Aviv sekarang) kira-kira tahun 85 M. Dalam konsili ini umat Kristen yang mereka sebut "Nasrani" (Ibrani: נצרים "Notsrim"), telah mereka masukkan juga sebagai salah satu sekte sesat ( הַמִּינִים - "HaMinim"), dimana kutukan itu ditambahkan dalam שמנה עשרה "Shemoneh Esreh", yaitu Delapan Belas Berkat (Jacob Jocs, 1979:60-63)

Salah satu konsep yang mereka kembangkan adalah hilangnya konsep dosa asal, sebagai reaksi dari doktrin penebusan melalui Sang Mesiah. Dalam pandangan Yudaisme belakangan ini, memang benar manusia dilahirkan dalam lingkungan dan kondisi kedosaan (Ibrani: יֵצֶר הַרַע‎ "yetzer hara"), tetapi hal itu diimbangi dengan keinginan batin yang baik (Ibrani: יֵצֶר הַטּ֭וֹב
"Yetzer hatov") yang sama bobotnya. Konsep Mesiah Ilahi pun akhirnya hilang dari Yudaisme belakangan, dan sebagai gantinya Mesias hanya dipandang sebagai pembebas dari kekuasaan asing, dan pelaksana Taurat yang benar. Sebaliknya, naskah-naskah Laut Mati mengenal konsep Sang Mesias Ilahi, yang bahkaa diakui kelahiran Ilahi-Nya dari Allah: עם יולד אל את המשיח "Yolid El et ha Mashiah". Artinya: "Ketika Allah melahirkan Sang Mesiah" (Martinez dan Tigchelaar, ed.,1997 :494-495).

Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK