SALIB, KA'BAH DAN BUTA LOCAYA (Catatan Kecil untuk Ustadz Abdul Somad)

Text to Speech
ET'PATAH ISCS,
Jumat, 23 Agustus 2018

(Catatan Kecil untuk Ustadz Abdul Somad)

1. CATATAN AWAL

Beberapa hari terakhir ini viral di media sosial ceramah Ustadz Abdul Somad tentang Salib dan Jin kafir. Beragam reaksi muncul, baik dari kalangan Kristiani maupun Muslim. Ada yang yang marah dengan sekedar menulis puisi, bahkan ada yang menuntutnya secara hukum. Sebagian besar prihatin dan menyayangkan pernyataan ustadz lulusan Timur Tengah itu. Sebagai seorang pengikut Kristus, saya tidak mau ikut-ikutan marah. Saya berkata sejujurnya, karena apa yang saya bayangkan dari Somad adalah keterusterangan dalam mengungkapkan keyakinannya. Memang, dalam setiap agama itu ada penghayatan yang di mata orang lain, bahkan yang seagama dengannya, dianggap kelewat fanatik, sehingga tidak peka dengan nilai yang dijunjung tinggi oleh orang lain di sekelilingnya.

Bagi saya, Somad adalah salah satu varian penghayatan agama yang sejujurnya ada di tengah-tengah kehidupan keberagamaan kita. Ada penghayatan yang liberal, eksklusif dan inklusif. Somad hanyalah contoh salah satu dari ketiga tipe pemikiran keagamaan tersebut. Mungkin banyak yang sealur pikir dengannya, namun tidak terucap karena tenggang rasa membungkus penghayatan teologisnya yang sebenarnya juga eksklusif. Karena itu, setuju dengan Gus Aan Anshari, sahabat Gusdurian saya, yang sedang
disampaikan Somad sejujurnya justru doktrin "mainstream" kebanyakan santri tradisional. So, cukup banyak orang yang mengikuti doktrin seperti ini, hanya saja mereka sungkan mengucapkannya terus terang.

2. MEMANDANG SIMBOL-SIMBOL AGAMA DALAM PERSPEKTIF BERBEDA

Sejak awal sejarah Kekristenan, salib telah dipandang dari multi perspektif yang berbeda. "Untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan", demikian tulis St. Paulus dalam 1 Kor. 1:19. Jadi, sebenarnya Somad hanya mewakili pandangan "meanstream" itu, hanya saja diekspresikan secara vulgar, "lebay" berlebihan. Pandangan seperti ini mirip dengan penilaian orang Kristen Barat abad pertengahan tentang Nabi Muhammad dan Islam, namun seiring dengan semakin intensnya pengalaman perjumpaan, kini kesalingpahaman antara keduanya menjadi lebih baik.

Barangkali Somad dan yang sehaluan pandang dengannya, tidak berniat menistakan Iman Kristiani, sebab ini hanya produk "salah persepsi" abad-abad lalu akibat pengalaman buruk masa lampau yang terabadikan lewat sejumlah literatur klasik, seperti yang sebagian tertulis dalam kitab-kitab kuning. Karena itu, kalau ada orang Kristen yang marah, memperkarakan atau mempertanyakan dalil yang dilandasi pemikiran Somad, jawabnya tentu saja ada. Ayo, kita jujur membedah agama kita masing-masing tanpa buruk sangka dalam semangat "agree in disagreement", dan dalam aksi "tidak sama, tetapi bisa bersama-sama".

2.1. SALIB DAN NUZUL ISA PADA AKHIR ZAMAN DALAM ESKATOLOGI HADITS

Entah bagaimana para ulama menafsirkan ungkapan فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ "fayaksira ash-shalīb" (maka 'Isa akan memecahkan salib) dalam eskarologi Hadits, namun yang jelas dalil mengenai penentangan terhadap salib tersebut, memang ada. Misalnya, seperti yang termaktub dalam Hadits Riwayat Bukhari (Kitāb "Ahādīts al-Anbiyā', Bab "Nuzûl 'Isa Ibn Maryam", No. 3448), Hadits Riwayat Muslim (Kitāb "Al-Imān", Bab "Nuzûl 'Isa Ibn Maryam ḥakiman bi syari'ati Nabiyyinā Muhammad s.a.w.", No. 155), yang mencatat sabda Nabi s.a.w. demikian:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.
"Walladzī nafsī biyadihi layûsyikanna 'an yanzila fīkum bnu Maryama a.s. ḥakamān 'adlan, fayaksira ash-shalīb, wa yaqtula al-kinzīr, wa yasha'a al-yizyah, wa yafīdha al-māl, ḥatta lā yaqbalahu aḥadun".
(Artinya: "Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya akan turun pada kalian Putra Maryam a.s. sebagai Hakim yang adil. 'Isa akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, dan harta benda akan melimpah ruah hingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya").

2.2. SINDROMA SALIB: KENAPA HARUS TAKUT?

Lalu mengapa banyak orang takut melihat salib? Salah satu literatur kitab kuning yang masyhur di pesantren tradisional, menjawab pertanyaan itu. Setidaknya, itulah yang tertulis dalam Kitab "Ta'līm al-Muta'alim Tharīq at-Ta'allum", karya Al-'Allamah Sheikh Burhanuddin as-Zarnuji (wafat 620 H/1223 H). Kitab klasik yang menjelaskan metode belajar yang baik ini, terbagi dalam 13 bab, yang semuanya mengajak semua santri untuk mendapatkan ilmu dengan baik dan berguna bagi diri sendiri dan sesama manusia.

Saya akan mengutip Bab XII, supaya orang Kristen bisa memahami "etika menuntut ilmu" yang diwarisi oleh sebagian orang dari kitab kuning itu. "Sebab-sebab yang membuat mudah lupa", tulis Kitab Ta'līm al-Muta'alim, "yaitu makan ketumbar mentah, buah apel masam, melihat orang yang disalib..." (Teks Arab: وأما أسباب نسيان العلم: فأكل الكزبرة الرطبة، والتفاح الحامض، والنظر إلى المصلوب "Wa ammā asbābu nisyānil-'ilmi: fa-aklul kuzbaratir rathbati wattufāḥil ḥāmidhi wan-nadharu ilal-mashlûb...")

Dari uraian di atas, mungkin latar belakang ini dapat menjelaskan sindroma “salib Kristus” di kalangan masyarakat Islam yang mewarnai penilaian mereka terhadap Kekristenan. Apalagi santri yang hanya baca
Kitāb Ta'līm Muta'alim. Nah, supaya orang Kristen bisa membayangkan suasana ngajinya, begini kira-kira penerjemahkannya a la pesantren Jawa dengan aksara Arab Pegon: وأما "Wa ammā" (Anapun), أسباب "asbābu" (pira-pira sebab), نسيان العلم "nisyānil-'ilmi" (lali marang ilmu).... والنظر
"...wan nadharu" (lan ningali marang wong), إلى المصلوب "ilal-mashlûb" (kang dipentheng), dan seterusnya. "Karena itu, singkirkanlah!", tulis Syeikh Zarnuji, "semua itu menjadikan orang pelupa" (K.H.Misbah Zain al-Musthafa, Ta'līm Muta'alim li Syeikh Zarnujī
Raḥmatullah. Tarjamah ila al-Lughat al-Jāwī (Surabaya: Maktabah Salim bin Sa’d Nahban, tanpa tahun, hlm. 65-66).

Kepada orang Kristen, sebenarnya tak perlu marah dengan Somad, sebab itu toh hanya disampaikan kepada jama'ahnya sendiri. Bukankah di kalangan Kristen sendiri juga sering para pengkhotbah kita juga menilai Islam dari perspektifnya sendiri, yang tak jarang nadanya juga kurang lebih sama? Lagi pula, pandangan Abdul Somad juga bukan pandangan tunggal dalam Islam. Malahan, seiring dengan berkembangnya berbagai metode kritis terhadap Kitab Suci, kini makin disadari, ternyata "sindroma salib” yang didasarkan atas tafsiran teologis semata tidak cukup untuk merekonstruksi sosok Yesus yang sebenarnya.

2.3. "JIN KAFIR" DI BALIK SALIB, BUTA LOCAYA MENGHINA KA'BAH

Sebaliknya, untuk sahabatku Muslim, percayalah tidak ada golongan jin yang kerasan tinggal di dalam Salib. Mengapa? Sebab biasanya Salib yang dipasang di depan, tempatnya selalu bersih dan tidak ada kotoran. Padahal dalam Hadits Riwayat Bukhari, makanan jin adalah tulang dan kotoran: هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ "humā min thā'am al-jinn" (keduanya termasuk makanan jin). Percayalah, sahabatku, salib itu hanyalah sepotong kayu, bersih dan tak ada tulang berserakan di sekitarnya. Lagi pula, tidak ada orang Kristen yang memberhalakan salib. Kalau begitu, kenapa simbol Kekristenan harus salib? Karena sejarah mencatat, Yesus yang sangat mengasihi sesamanya itu wafatnya di kayu salib.

Dan itu bukan hanya kata Injil lho, tetapi juga catatan sejarah pada zamannya. "Auctor nominis eius Christo" (Kristus, dari siapa nama Kristen itu berasal), tulis Cornelius Tacitus, senator dan sejarawan Roma (116
M), "Tibero emperitate per procuratorem Pontium Pilatum supplicio advectus erat" (telah dihukum mati pada zaman Kaisar Tiberius di tangan prokurator kita, Pontius Pilatus). Caranya mati-Nya? ΣΤΑΥΡΩ ΕΠΙΤΕΤΙMHΚΟΤΟΣ ΠΙΛΑΤΟΥ "Stauró Epitetimikotos Pilatou" (Pitatus telah mengeksekusinya dengan disalib), tulis Flavius Yosephus, sejarawan Yahudi (90 M). Kapan? Bukan hanya tahun yang bisa ditentukan, tetapi juga tempat, hari, tanggal dan jamnya: בערב פסח "Be Erev Pesaḥ" (Pada hari persiapan Paskah), begitu kaum Yahudi yang menggantung-Nya mencatat dalam Talmud, Tractat Sanhedrin 43a (120 M). Dan masih banyak catatan sejarah non-Kristen sezaman, yang menyimpulkan Yesus memang mati disalibkan.

Kalau bukan berhala, kenapa ada arak-arakan salib? Nah, ini kan masih suasana bukan kemerdekaan. Coba, kenapa pula selalu muncul simbol bambu runcing di setiap perayaan 17 Agustus? Karena dengan bambu runcing, senjata apa adanya itu, para patriot kemerdekaan itu gagah berani "menyabung nyawa" demi kemerdekaan kita. Bambu runcing itu simbol perjuangan kemerdekaa Indonesia. "Kita orang Kristen membuat tanda di dahi kita dengan tanda salib", tulis St. Tertulianus (155-220 M), "...dalam setiap aktivitas dan pekerjaan, kita menandai dahi kita dengan tanda salib". Mengapa? Kalau untuk kemerdekaan dunia yang sementara ini simbol perjuangan bambu runcing saja kita abadikan, apalagi salib sebagai pangkal kemerdekaan rohani kita yang kekal.

Sekali lagi, bukti bahwa salib tidak pernah menjadi berhala, karena bukan bendanya yang dipentingkan, tetapi makna di balik yang disimbolkannya. Bukankah tiada agama yang nir-simbol, seminim apapun simbol itu? Bukankah Ka'bah juga sebuah simbol, dan mencium حَجَرُ الْأسْوَدْ "ḥajar al-aswad" (batu hitam) juga wajib dalam rukun haji? Hanya orang-orang kurang ajar yang berani menghina dan melecehkannya. “Sungguh aku menciummu", kata Umar bin Khattab, "dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudharat, tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah s.a.w. menciummu, maka tidak akan aku menciummu.” (HR. Muslim No. 1270).

Seperti salib disalahfahami, begitu juga Ka'bah pernah dijadikan pertentangan dalam literatur Jawa, Serat Darmogandhul. "Tuan tetaplah orang jahil", kata Buta Locaya, roh danyang penunggu kota Kediri itu, "merusak dan menyia-nyiakan sesama makhluk Tuhan" (Panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makhluking Pangeran).
"Kurusak patung ini, karena supaya tidak disembah", jawab Sunan Bonang, "agar tidak diberi sesaji, agar tidak dipersembahkan dupa. Pemuja berhala itu kafir, rusak lahir batin".

Mendengar jawaban itu, Bota Locaya terus meradang. "Orang Jawa juga sudah tahu", jawabnya, "patung itu hanya batu yang tidak berdaya dan berkuasa. Bukan Tuhan....", Sang Baureksa itu terus saja mengomel. "Lebih baik orang Jawa", serangnya lebih agresif, "....ketimbang orang Arab yang hormat kepada Ka'batullah, wujudnya hanya tugu batu, itu lebih sesat lagi" (wangsul tiyang
bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar). Sudah barang tentu, kisah Buta Locaya itu hanya legenda, tidak bernilai sejarah. Namun di balik dongeng rakyat itu, terekam pengalaman traumatis polemik agama yang lahir dari pemaksaan sudut pandang, pembenturan perspektif dan sikap imperialisme doktriner yang berlagak paling benar sendiri. Itulah suasana tajamnya konflik Santri-Abangan di Jawa dua abad silam.

3. WUSANA KATA

Pada akhirnya, kenapa harus marah kepada Ustadz Abdul Somad? Percayalah, ini hanya akibat pemaksaan perspektif saja. Bunga Jepun di Jawa identik dengan kembang kuburan, sebaliknya di Bali dirangkai apik untuk menyambut tamu, menjadi hiasan penari dan bunga persembahan untuk sembahyang. Begitu juga simbol salib Kristus. "Sebab pemberitaan tentang salib", demikian dalilnya yang tercatat dalam 1 Kor. 1:18, "adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah".

Ah, andai saja Somad tahu dongeng Buta Locaya, tentunya apa yang di-"mispersepsi"-kannya tentang salib itu, sudah dijawab oleh si Mbah Danyang. Seperti mencium Hajar Aswad tidak berarti menyembah batu, begitu juga memasang salib juga bukan berarti memberhalakannya. Namun yang lebih penting bagi orang Kristen, meneladani jalan salib-Nya. Jadi, kalau kita sekarang masih marah kepada Pak Ustadz, bukan hanya kuasa pengampunan dari salib belum mengalir kepadamu, tetapi juga anda belum memahami jalan-Nya. Mengapa? Sebab salah satu dari "sapta wacana" (tujuh ucapan di kayu salib): “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34).

Pulau Dewata, 19 Agustus 2019
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK