SEKTE UNITARIAN BUKAN KRISTEN TAUHID

Text to Speech
ET’PATAH ISCS
Jum'at, 30 Agustus 2019


( Tulisan Pertama dari Dua Tulisan +)


+) Dikutip dari bagian akhir artikel “Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid” untuk Kajian Bulanan ISCS di Gedung Keuskupan Surabaya, 1 Maret 2008.


1. YESUS BUKAN “SUATU ILAH” SELAIN ALLAH YANG ESA

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kaum Unitarian menerjemahkan akhir ayat Yoh. 1:1 καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος “kai ho theos en ho logos”, persis sama dengan Saksi-saksi Yehuwa (SSY) : “... and the Word was a god” (NW). Dalam logika mereka, Yesus sebagai Firman bukanlah Allah, tetapi “a god” (suatu ilah). Jadi, Yesus adalah “allah kedua” yang berbeda dengan Allah Yang Maha Esa, dan karena itu berada di luar Allah, atau tidak sehakikat dengan Allah dalam Dzat-Nya Yang Esa.

Selanjutnya, marilah kita masuk dalam kajian linguistik, khususnya ditinjau dari kasus pemakaian bahasa Arab di mana kata “ilah”, “al-ilah” dan “Allah” itu berasal. Karena kaum Unitarian di Indonesia mengaku diri “Kristen Tauhid”, maka mau tidak mau kita akan masuk dalam konteks hubungan Kristen-Islam. Dalam pembahasan ini saya akan banyak mengutip Alkitab dalam terjemahan bahasa Arab, dan sumber-sumber literatur Kristen Timur Tengah. Perlu ditegaskan, kita tidak mungkin menyebut adanya suatu ilah lain selain Allah, tanpa mencederai keesaan-Nya. Keyakinan yang lazim disebut syrik atau mempersekutukan Allah.

Padahal, karena keawaman mereka dalam Ilmu Tauhid, dengan terjemahan Yoh. 1:1 itu mereka bermaksud mempertahankan keesaan Allah dan menurunkan derajat Firman Allah. Tetapi argumentasi itu justru sebaliknya ibarat “senjata makan tuan”. Sebab kalau Yesus, yang adalah Firman itu disebut “a god”, dan kedudukannya lebih rendah dari Allah atau berada di luar Dzat-Nya, maka konsekuensinya akan ada lebih dari satu ilah, yaitu Allah, dan “a god” (suatu ilah) yang bernama Firman. Justru karena alasan itu, Gereja yang kudus dan katolik (am) melalui Konsili Nikea (325 M) menyatakan ajaran Arius sebagai bidat (heresy). Ajaran Arius ini kini muncul dalam bentuk modern, yaitu Unitarian dan Jehovah's Witnesses.

Jadi, Allah Sang Bapa dan Firman-Nya harus sama-sama kekal. Mengapa? Sebab, apabila Firman yang kekal itu berada di luar wujud Dzat-Nya, maka keesaan Allah menjadi tidak jelas. Karena itu, Firman itu harus Allah, sebab “tidak ada sesuatu ilah di luar Allah”. Allah adalah satu-satunya ilah, dan tidak mungkin mengatakan ada “suatu ilah” (a god), kecuali Allah. Itulah makna kalimat Tauhid: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله “Lā ilaha illa Allah” (baca: “Lā ilaha illallah”, artinya: “Tidak ada ilah selain Allah”). Ungkapan ini ternyata juga dijumpai dalam 1 Kor. 8:4, Good News Arabic Bible.1] Menurut tata bahasa Arab, ungkapan: لاَ إِلَهَ “Lā ilah” (tidak ada ilah) adalah النفي “an-nafiyu” (negasi atau penyangkalan) tetapi segera disusul الإثبات “al-Itsbāt” (konfirmasi, penetapan), yaitu إِلاَّ الله “illa Allah” (kecuali Allah).

Sebagai Firman Allah, Yesus memang bisa disebut الإلهة “ilahiyya” (bersifat Ilahi), tetapi itu tetap bukan “di luar Allah”.2] Karena menganggap Kristus sebagai “suatu ilah” selain Allah justru bertentangan dengan prinsip Tauhid dalam Injil : إنّ اللهَ واحدٌ ولا إلهَ سواه “Innallaha wahidun, wa lā ilaha siwāhu”. Artinya: “Allah itu Esa, dan tidak ada ilah selain Dia” (Mrk. 12:32, Good News Arabic Bible). Begitu juga, anggapan mereka bahwa Yesus adalah “suatu ilah” (a god) yang diciptakan oleh Allah, bertentangan dengan penegasan Allah: أَنَا الأَوَّلُ وَأَنَا الآخِرُ وَلاَ إِلَهَ في الكون غَيْرِي “Anā al-awwalu wa anā al-akhiru, wa lā ilaha fī al-kaûni ghairi”. Artinya: “Akulah yang terdahulu, dan Akulah yang terkemudian, tidak ada ilah selain Aku” (Yes. 44:6).

Dalam Yes.43: 10 penegasan: ما كانَ مِنْ قَبلي إلهٌ “mā kāna min qabli ilahun” (sebelum Aku tidak ada ilah), menunjukkan bahwa Allah bersifat “qidam” (terdahulu). Sedangkan ungkapan: ولن يكونَ مِنْ بَعدي “wa lan yakûn min ba'dī, menutup rapat-rapat paham syrik atau politheis bahwa Yesus adalah ”suatu ilah”, “a god”, “bersifat ilahi di luar Allah”, dan semua pandangan serupa yang tanpa sadar justru membuat ”sekutu ilahi” Allah, baik hal itu ada sebelum Allah, atau sesudah Allah, seperti yang diyakini oleh Saksi-saksi Yehuwa dan kaum Unitarian.


2. FIRMAN ITU “...SUATU ILAH”: SEBUAH GELAR BELAKA?

Sebaliknya, mereka berdalih bahwa istilah “suatu ilah” yang diterapkan bagi Yesus itu sebagai gelar belaka, sebab dalam Alkitab Perjanjian Lama tertulis: “Kamu adalah Ilah-ilah (Van Dyck: إِنَّكُمْ آلِهَةٌ “Innakum alihatun”) dan anak-anak Yang Maha Tinggi kamu sekalian” (Maz. 82:6).3] Argumentasi inipun sangat dangkal, sebab kalau “suatu ilah” hanya diterapkan sebagai gelar, lalu bagaimana mungkin seorang ciptaan bisa dikaitkan dengan karya Allah Yang Maha Kuasa dalam menciptakan segala sesuatu? Bagaimana pula Allah bergantung dengan ciptaan-Nya yang membantu-Nya dalam penciptaan?

Pandangan ganjil ini, jelas-jelas sebuah bentuk kemusyrikan (politeisme) di abad modern. “Akulah TUHAN”, tantang Allah kepada mereka yang mempersekutukan-Nya, “yang telah menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi, siapakah yang mendampingi Aku?” (Yes. 44:24). Sekali lagi, TUHAN “seorang diri membentangkan Iangit, dan menghamparkan bumi”, tanpa sekutu, tanpa teman, tanpa pedamping, semulia apapun pendamping tersebut, tidak terkecuali apa yang mereka sebut sebagai “Juru Bicara Allah”.

Harus ditekankan pula, baik Perjanjian Lama (Taurat, Zabur dan Kitab Para Nabi), maupun Perjanjian Baru (Injil, Kisah para Rasul dan surat-surat rasuli), mengatakan dengan tegas bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman dan Roh-Nya (Kej. 1:1-3; Maz. 33:6; Yoh. 1:1-3; 15:26; 1 Kor. 2:10-11; 8:4-6; Kol. 1:15-17). Karena Allah itu Maha Esa, maka Firman dan Roh Allah itu tidak boleh dipahami berada di luar wujud Dzat-Nya. Memang, Firman dan Roh adalah “Allah sendiri”, yang dalam makna azali tidak berpermulaan, dan qadim tidak berkesudahan dalam wujud Dzat-Nya Yang Maha Esa.4]

Merujuk Yoh. 1:14 bahwa Firman Allah telah menjadi manusia, Konsili Nikea pada tahun 325, merumuskan Firman Allah itu ὁμοούσιον τῷ Πατρί “homousion to Patri” (cf. Arab: واحد مع الاب في الذات “wahid ma'a al-Abi fī al-dzat”, satu atau sehalikat dengan Bapa dalam Dzat-Nya), telah menjadi manusia (Yunani: ἐνανθρωπήσαντα “enanthropesanta”, Arab: وتأنّس _“wa ta'anas” ). Lalu konsili Konstantinopel mempertegas kembali dalam rumusan: نزل من السماء، وتجسّد من الروح القدس ومن مريم العذراء وتأنّس “nazala min al-samā'i wa tajjasada min al-Rûh al-Qudûs wa min Maryam al-Adzrā'i wa ta'anas” (dan telah nuzul atau turun dari surga dan menjelma oleh kuasa Roh Kudus, dan dari Perawan Maryam dan menjadi Manusia).5]

Karena hubungan antara keilahian Yesus sebagai Firman Allah dan wujud nuzul-Nya sebagai Putra Maryam itu sedemikian rupa “tidak bercampur, tidak berubah”, tetapi juga “tidak terbagi, tidak terpisah”, maka kesatuan antara keduanya tidak pernah membaurkan kemanusiaan dengan keilahian-Nya. Karena itu, nuzuI -nya Firman menjadi Manusia, “sama sekali tidak memisahkan Firman dari Allah”, dan tidak pula “Allah turut mati karena kematian kemanusiaan-Nya” (1 Pet. 3:18). Penjabaran dalam “bahasa konsili” seperti ini tidak sulit dipahami kalau kita menggunakan “Iogika metafisika”, dan bukan dengan “logika matematik”.

Masalahnya, kaum Unitarian memahami Tritunggal dengan “logika primitif” yang tidak bisa membedakan “satu Allah” (secara metafisik) dengan kesatuan numerik: “satu batu”, “satu bakpao”, “satu pohon” (secara matematis), sehingga kaum Unitarian yang buruk sangka itu membayangkan ajaran Trinitas yang tidak mereka pahami sebagai “monster berkepala tiga”. Padahal sebaliknya, justru bertitik tolak dari argumentasi untuk mempertahankan keesaan Allah itu, *konsili ekumenis (Arab: المجمع المسكونية “al-majma' al-maskûniyyat” ) di Nikea itu pada akhirnya menjatuhkan “anathema” (kutukan) atas ajaran bidat Arius demikian:

“Dan gereja yang satu, kudus, katolik (am) dan rasuli, menyatakan sesat kepada mereka yang mengajarkan “pernah ada waktu dimana Sang Firman pernah tidak ada” (كان وقت لم يكون فيه “kāna waqtun lam yakûn fīhi), “sebelum dilahirkan Sang Putra tidak ada” (قبل ان يولد لم يكون “qabla 'an yûlada lam yakûn”), dan “Firman itu ciptaan” (انه مقلوق “Innahu makhlûqun”), karena “Firman telah diciptakan dari tidak ada” (قد جلق من العدم “Qad khuliqa min al-'adam”.6]

Selanjutnya, karena ajaran rasuli ini sulit dipahami oleh “logika bakpao” kaum Unitarian dan Saksi-saksi Yehuwa, saya akan menjelaskan dalam bahasa yang sesederhana mungkin, Logika bapa-bapa gereja dalam Konsili Nikea pada waktu itu kira-kira begini:

“Kalau Yesus sebagai Firman Allah yang kekal (bukan dalam kemanusiaan-Nya) “pernah tidak ada”, padahal Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya (Maz. 33:6), itu berarti TUHAN bukanlah Allah Yang Maha Sempurna. Mengapa? Karena ada suatu waktu dimana Allah pernah ada tanpa Firman-Nya. Allah pernah tidak memiliki Firman? Allah semacam apakah ini?
Selanjutnya, kalau Firman itu sekedar ciptaan belaka, padahal Allah menciptakan dengan Firman-Nya, lalu dengan Firman mana lagi Allah menciptakan “firman”-Nya?”


Tulisan ini juga bisa di akses di www.bambangnoorsena.com


Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK