SEKTE UNITARIAN DAN SEJARAH BURUK SANGKA MEREKA TERHADAP AJARAN TRINITAS +)

Text to Speech
ET'PATAH ISCS
Jumat, 9 Agustus 2019

+) Artikel ini berasal dari bagian awal makalah "Sekte Unitarian Bukan Kristen Tauhid", dipresentasikan pada Forum Kajian Bulanan" ISCS, di Gedung Keuskupan Surabaya, 11 Maret 2008.

1. PRAWACANA

Dalam berbagai publikasi mereka di Indonesia akhir-akhir ini, kaum Unitarian menyebut diri “Kristen Tauhid.” Maksudnya mudah ditebak, dengan menolak ajaran keilahian Yesus dan ketritunggalan Allah, mereka merasa diri “memurnikan keesaan Allah.” Bagi orang Kristen awam, kampanye “anti-Trinitas” mereka, mungkin saja bisa membingungkan. Malahan, ada yang merasa diri menjadi pembela Trinitas, meskipun hanya meladeninya dengan “perang ayat-ayat Alkitab.” Tidak ada kajian teologis metafisik di sana, misalnya apa makna yang dimaksud bapa-bapa gereja kuno mengenai kata “persona” (Latin), ὑπόστασις "hypostasis” (Yunani), ܩܢܘܡܐ “Qnoma” (Aramaik), dan bagaimana perubahan makna kata itu dalam era modern.

Memahami term-term teologis ini mutlak penting, sebab dari tulisan-tulisan kaum Unitarian, sejak para pendirinya sendiri, seperti Michael Servetus (1511-1553), Francis David (1510-1578), John Biddle. (1615-1672) hingga kaum Unitarian di Indonesia, memahami kata “persona” itu dalam makna pribadi secara psikologis, padahal yang dimaksudkan oleh bapa-bapa gereja kuno adalah “persona” secara metafisik (Yunani: μετά "meta" = "di balik", dan φύσικα "phúsika" = "fisik, yang kelihatan"), mengatasi aspek ruang dan waktu.

2 SEKILAS PANDANG SEJARAH KAUM UNITARIAN

Unitarianisme muncul di Eropa berbarengan dengan munculnya gerakan Reformasi Protestan. Aliran ini tumbuh bersama fajar Rasionalisme yang mulai menggoncang Eropa, tak terkecuali menggerogoti otoritas gereja, yang waktu itu memang cenderung otoriter. Rasionalisme mula-mula dipelopori oleh filosof Rene Descartes (1596-1650), yang terkenal dengan dalilnya: "Cogito erqo sum" (Aku ragu-ragu, maka aku ada). Dalam perkembangan selanjutnya, Unitarianisme banyak dipengaruhi juga oleh filsafat Positivisme Auguste Comte (1798-1857), padahal pada masa sekarang, rasionalisme abad pertengahan ini sudah “ketinggalan kereta.”

Positivisme a la August Comte, yang banyak mengilhami pemikir-pemikir rasionalis zaman itu, kini sudah ditinggalkan. Dapat dicontohkan, menurut Comte, pemikiran manusia berkembang pada 3 tahap: tahap teologis, tahap ontologis/metafisis dan tahap positivistis. Pada tahap positivistis, segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan ada secara fisik dapat dihiraukan saja.1] Tidak ada kenyataan yang diakui kecuali kenyataan riil. Dalam konteks ini, bukan hanya Trinitas yang harus ditolak, tetapi semua ide ketuhanan juga dianggap tidak masuk akal. Karena itu, dalam selain kaum Unitarian tradisional yang masih mengaitkan dengan Kekristenan, pada perkembangannya kemudian muncul Unitarian universalis, bahkan ada yang sudah menjurus kepada Atheisme. 2]

Francis David, salah seorang penggagas Unitarianisme, misalnya, memahami kata “persona” yang dikaitkan dengan ajaran tritunggal sebagai “pribadi terpisah” dari pribadi lainnya. Nah, kalau Bapa adalah Pribadi, Putra adalah Pribadi, begitu juga Roh Kudus, maka dalam positivistis a la Comte memang mustahil satu adanya. Padahal ada kenyataan di balik kenyataan riil ini. Sedangkan Trinitas berbicara “persona” sebagai realitas metafisik, sehingga satu substansi (Yunani: ουσια, "ousia") sekaligus dapat memiliki persona-persona ilahi (Yunani: ὑπόστασις "hupostasis") itu tanpa merusak kesatuan wujud-Nya. Lebih jelasnya, akan diuraikan sekilas beberapa pemikir gerakan “anti-Trinitas” ini pada awal-awal perkembangannya di Eropa.

2.1. Michael Servetus (1511-1553) 

Michael Servetus dilahirkan pada tahun 1511 di Villanueva, Spanyol. Jadi waktu Martin Luther melancarkan reformasinya terhadap gereja Katolik Roma tahun 1517, Servetus baru berusia 6 tahun. Selain peristiwa Reformasi Protestan, zaman ini ditandai dengan menegangnya hubungan Kristen – Islam karena gereja Katolik melakukan “kristenisasi” besar-besaran terhadap orang Muslim Spanyol melalui politik inkuisisi. Hal itu merupakan dampak buruk dari Perang Salib, karena orang-orang Kristen Eropa pada waktu itu melampiaskan kemarahan mereka kepada orang-orang Muslim Spanyol.

Berdasarkan pengalaman traumatisnya atas akibat konflik fisik Islam-Kristen, Servetus mengaku terpanggil meneliti ajaran Alkitab langsung, dan hasil temuannya ia tidak menemukan ajaran Trinitas didalamnya. Servetus menuangkan pemikirannya dalam beberapa buku, antara lain: “The Error of Trinity” dan “Two Dialogues on Trinity” yang terbit tahun 1831. Reformator Calvin menilai pemikiran Servetus “kekanak-kanakan,” dan Luther menolak ajaran-ajarannya pada tahun 1539. Dengan demikian, bukan hanya Gereja Katolik, tetapi juga para perintis gerakan reformasi juga menolak pemikiran-pemikiran Servetus.3]

Pada akhirnya, gara-gara buku Michael Servetus yang berjudul “The Restoration of Christianity,” pada tahun 1553, atas desakan reformator John Calvin, gembong Unitarian tersebut akhirnya dieksekusi mati. harus dicatat, bahwa praktek-praktek persekusi atas nama ortodoksi keagamaan yang bisa terjadi pada agama apapun, tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak ajaran-ajaran pokok Kristiani, seperti yang sering dijadikan argumentasi oleh sekte-sekte anti-Trinitas. 

Rupa-rupanya, Servetus memahami Trinitas sebagai “tiga wujud Allah,” karena persona secara salah dipahaminya secara psikologis sebagai wujud yang terpisah-pisah dan membentuk satu substansi. Tidak ada ajaran seperti yang dituduhkan Servetus, yang ditetapkan dalam konsili ekumenis manapun sejak gereja purba. “Berapa banyak tradisi dari Trinitas ini telah menjadi bahan tertawaan kaum Muslim,” tulis Servetus pedas, “orang-orang Yahudi juga menolak doktrin lucu ini milik kita ini, dan menertawakan kebodohan kita tentang Trinitas”.4]

Menghukum orang yang berpandangan berbeda adalah bagian dari "kembaran hitam" sejarah gereja yang tidak boleh terjadi lagi, dengan alasan apapun. Seandainya gerakan semacam tidak terlalu kita besar-bwsarkan, justru aaran seperti ini pasti tidak akan laku. Sebaliknya, karena gereja menindasnya, maka kaum Unitarian justru mendapat simpati. Kita harus menghadapi mereka dengan argumentasi, bukan dengan persekusi, dan yang selebihnya berlaku perumpamaan Kristus tentang ilalang dan gandum: "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai..." (Mat. 13:30).

2.2. Francis David (1510-1578)

Francis David dilahirkan tahun 1510 di Kolozsar, Transylvania. Mula-mula David bergabung dengan gerakan Reformasi Luther. Tidak perlu disayangkan kalau ia pada akhirnya keluar dari gerakan Protestan, sebab gara-gara titik tolak berpikirnya yang salah David menyalahpahami ajaran Trinitas. Francis David, sebagaimana banyak dari kaum rasionalis abad pertengahan yang hanya mengaku kenyataan riil sebagai satu-satunya kenyataan, gagal mengerti ajaran Tritunggal yang mungkin baginya terlampau metafisik. 

Bayangkan saja, dalam pemikirannya, David menuduh bahwa orang Kristen menyembah kepada empat atau lima Allah. “Ajaran Trinitas yang dipegang teguh Paus di Roma,” tulis Francis David ngawur, “adalah sungguh-sungguh sebuah keyakinan kepada empat atau lima Allah”.5] Luar biasa! Siapa empat atau lima Allah yang dikritik David itu?” Satu substansi, tiga pribadi yang terpisah yang masih-masing disebut Allah, plus seorang manusia Yesus yang juga dipandang sebagai Allah”.6] Sebodoh itukah ajaran Tritunggal di mata "si buruk sangka" ini? Tidak ada ajaran Trinitas seprimitif yang dibayangkannya.

Dari pemikirannya yang sangat dangkal ini, orang bisa menilai titik pijak mula-mula kaum yang mengaku diri memurnikan keesaan Allah ini. Semua orang yang belajar teologi, tahu persis yang yang dimaksud dengan Tritunggal adalah “una substansia, tres personae” (Satu Substansi dalam tiga persona).7] Persona dalam ajaran Trinitas bukan personalitas manusiawi yang terpisah-pisah, melainkan: "Disticti non Divisi, discresi non Separate" (Beragam secara tak terbagi, berbeda secara tak terpisah). Karena itu, "persona" dalam Trinitas merujuk kepada personalitas metafisik yang mengatasi jarak, ruang dan waktu.

Singkatnya, bisa dijelaskan Sang Bapa merujuk kepada Sumber keilahian, yang dari wujud-Nya yang Esa itu melahirkan Firman-Nya (Yoh. 8:42), laksana ”terang dari sumber terang” (Syahadat Nikea), dan Roh Kudus juga “keluar dari Bapa” (Yoh. 15:26). Sedangkan sebagai Firman yang adalah Allah, keilahian Kristus dibedakan dengan wujud inkarnasi-Nya sebagai Manusia, Putra Maryam, yang secara daging “dilahirkan dari seorang perempuan dan tunduk kepada hukum Taurat” (Gal. 4:4), sehingga dalam kemanusiaan Yesus disebut “buah rahim” Maryam (Luk. 1:43). 

Jadi, tidak ada konsili manapun yang mengajarkan bahwa tubuh kemanusiaan Yesus masuk dalam Tritunggal. Sebab yang menjadi “persona kedua” adalah keilahian-Nya sebagai Firman dan Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1). Dan karena Allah itu hanya satu, maka Firman itu bukan “suatu allah” selain Allah, melainkan berdiam kekal dalam keesaan Wujud-Nya.8]

2.3. John Biddle (1615-1662) 

John Biddle dilahirkan tahun 1615, dikenal sebagai “bapa Unitarianisme” Inggris. Katanya, Biddle dikenal cerdas diantara para pengikutnya. Mungkin ia dikenal sebagai seorang cerdas dalam ilmu matematika, tetapi sudah barang tentu bukan dalam ilmu teologi. Decara singkat pemikiran teologis Biddle bisa diuraikan demikian: “Saya percaya kepada satu Allah sebagai esensi ilahi yang Mahakuasa, dan hanya ada satu persona dalam satu esensi Ilahi”, demikian tulisnya untuk mempertanggung jawabkan imannya di depan pengadilan pada tahun 1644.

Selain menuliskan “Dua Belas Argumentasi” untuk menolak keilahian Roh Kudus, pada tahun 1648 Biddle juga menulis artikel yang berjudul “A Confenssion of Faith Touching the Holy Trinity According to the Scriptures.” Pola pikir John Biddle tidak lebih cerdas dari para pendahulunya, misalnya ketika ia merumuskan dalil pertama mengenai Keilahian Roh Kudus diantara “Dua Belas Dalil Menolak Keilahian Roh Kudus,” adalah sebagai berikut: 

✓ Yang berbeda dengan Allah bukan Allah. 
✓ Roh Kudus berbeda dengan Allah. 
✓ Jadi Roh Kudus bukan Allah.

“Premis major di atas sangat jelas,” tulis Biddle menjelaskan penolakannya, “apabila kita mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Allah, tetapi berbeda dengan Allah, maka premis tersebut mengandung suatu pertentangan. Premis major bahwa Roh Kudus dibedakan dari Allah dibenarkan oleh semua ayat-ayat Alkitab. Argumentasi yang mengatakan bahwa Roh Kudus dibedakan dari Allah· tersebut, jika diambil dari secara “person” dan bukan dalam arti “esensi Allah,” maka hal itu bertentangan penalaran rasional.9]

Dari penjelasannya ini, jelas bahwa Biddle memahami kata “persona” dalam Tritunggal secara personalitas manusiawi, dimana satu persona harus terpisah dengan persona Iainnya. Itulah letak kesalahan Biddle, bukan sillogisme untuk menarik kesimpulan yang salah, tetapi premis awalnya yang tidak tepat, karena anggapannya bahwa Trinitas adalah tiga pribadi yang terpisah. Sebaliknya, kesimpulannya akan jadi berbeda kalau kita berangkat dari titik tolak berpikir bahwa Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Esa. Esa dalam Substansi atau Wujud-Nya, sedangkan persona yang berbeda-beda tersebut berada dalam kesatuan substansiaI Allah, karena memang sesuatu yang metafisik “tidak bisa dipisah-pisahkan'. Jadi, benarlah sillogisme di bawah ini: 

✓ Yang berbeda dengan sinar matahari bukan sinar matahari. 
✓ Panas matahari berbeda dengan sinar matahari. 
✓ Jadi sinar matahari bukan panas matahari.

Masalahnya, nalarnya tidak berhenti sampai di sini. Sebab meskipun sinar matahari berbeda dengan panas matahari, tetapi sinar matahari maupun panas matahari adalah satu dengan wujud matahari sendiri. Begitu juga, nalar ini akan benar apabila Biddle berangkat dari premis yang benar. Misalnya, Firman Allah berbeda dengan Roh Allah, tetapi baik Firman maupun Roh Kudus sama-sama lahir dan keluar dari Allah (Yoh. 8:42; 15:26; 1 Kor. 2:10-11). Jadi, sekalipun Firman dan Roh Allah dibedakan dari Sang Bapa atau Wujud Allah, tetapi baik Firman Allah dan Roh Kudus sama-sama berasal dan satu dengan Allah Bapa, Sang Sumber (1 Kor. 8 :6).10]

Apalagi kalau berangkat dari wujud atau keberadaan Allah yang metafisik, sillogisme seperti di atas tidak semuanya bisa diterapkan. Misalnya, kalau kita berkata : Allah beserta orang sabar. Selanjutnya, ambillah suatu contoh, di Surabaya ada 1000 orang yang sabar yang tinggal terpisah di 1000 tempat yang berbeda-beda. Kalau Allah pada saat yang sama harus beserta dengan 1000 orang di 1000 tempat yang berbeda-beda, apakah Allah menjadi 1000? Tentu saja tidak! Dimanakah letak “kerancuan berpikirnya?” Karena berbeda dengan manusia, Allah bukan wujud fisik yang terikat oleh ruang dan waktu, sedangkan manusia karena wujud fisik terbatas yang terikat ruang dan waktu, pada pada saat yang sama tidak bisa berada di lebih dari satu tempat yang berbeda-beda.


CATATAN KAKI

1] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Fllsafat Barat. Jilid II (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1982), him. 111-112. 

2] Herlianto, Kristen Tauhid: Siapa dan Bagaimana Ajaran mereka? (Jakarta: YABINA Ministry, 2007), hlm.16-17.

3] “Kenylenehan” kaum Unitarian dari gereja pada umumnya ini, dimanfaatkan oleh kaum polemikus Muslim untuk menyerang Iman Kristiani, dikesankan seakan+akan sekte Unitarian yang baru tumbuh abad XVI ini adalah ajaran asli Yesus dan para rasul-Nya. Biografi para tokoh Unitarian diabadikan oleh Muhammad Ataur Rahim, Misteri Yesus dalam Sejarah (Jakarta: Pustaka Da’i, 1998), hlm. 179-196.

4] Ibid, hlm. 190. 

5] Ibid, hlm. 200. 

6] Ibid. 

7] ‘Abd al-Masīh Basith Abû al-Khair, Syuhûd Yahûwa: Man Hum? Wa Mā Hiya ‘Aqā'iduhum? (Cairo: 'Abd al-Masīh Basith Abû al-Khair, 2000), hlm. 177.

8] Moffat menerjemahkan Yoh. 1:1c “…and the Word was divine”, namun maknanya pasti bukan “suatu allah" selain Allah Yang Esa, melainkan "was divine except in one God”. Frans Donald mengutip Moffat dan memahaminya sebagai pribadi yang terpisah darl Allah. Frans Donald, Menjawab Doktrin Tritunggal (Semarang: Bodobudur Indonesia Publishing, 2007), hlm. 7. 

9] Muhammad Ataur Rahim, Op. Cit., him. 222-225. 

10] Anna Baba Shenouda III, Qānûn al-Imān (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001), him. 15-16
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK