SELAYANG PANDANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA" (Tulisan Terakhir dari Dua Tulisan.+)

Text to Speech
ET'PATAH ISCS
Jumat, 2 Agustus 2019

+) Artikel lawas yang pernah disajikan dalam "Bedah Novel dan Film Ayat-ayat Cinta" di Gedung "Kasih Hb Bersaudara", Jakarta, 7 April 2008.

4.1. Tradisi Kristen Koptik

Ada kesan kuat saya, bahwa penulis novel ini, sekalipun lama tinggal di Mesir, namun tidak mengetahui budaya dan tradisi Kristen Koptik. Misalnya, penggambaran Maria yang tertarik dengan Al-Qur’an karena ayat-ayat­nya di-“tilawat”-kan dengan indah. Padahal tradisi untuk membaca Kitab Suci dengan tartil bukan hanya tradisi Islam, melainkan tradisi Timur Tengah (baik Yahudi maupun Kristen Timur) jauh sebelum lahirnya Islam. Sampai hari ini, gereja-gereja Timur (baik gereja-gereja Ortodoks maupun gereja-gereja Katolik ritus Timur) membaca Kitab Suci dengan cara yang tidak jauh berbeda.

Simbol salib hanya ditonjolkan untuk mengisi latar belakang Koptik keluarga Maria, tetapi tradisi Koptik sama sekali tidak dipahaminya. Misalnya; Madamme Girgis digambarkan berdoa dengan melipat ke­dua tangan, padahal orang-orang Kristen di Timur Tengah berdoa dengan cara menengadahkan tangan, sama dengan Islam. Bedanya, dalam Islam diawali dengan ru­musan Basmalah: سْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ
"Bismillāh ar-raḥmān ar-raḥīm' (Dengan Nama Allah Yang Pengasih dan Penyayang), sedangkan di gereja-gereja berbahasa Arab diawali: بِاسْمِ الآبِ وَالاِبْنِ وَالرُّوحِ الْقُدُسِ, الإلهِ الْوَاحِد, امين "Bism al-Abi wa al-Ibni wa ar-Rūḥ al-Qudus, Al-Ilāh al-Wāḥid, Amin" (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).

Masih ada hal yang sangat menganggu, yaitu tattoo Salib di tangan Maria terbalik, dan terlalu besar ukurannya. Dan terakhir, permintaan Maria kepada Fahri ketika ia terbaring sakit: “Ajarilah aku shalat!”, mestinya lebih baik diperjelas : “Ajarilah aku shalat secara Islam!”. Mengapa ? Sebab kata صلاة “shalāt” saja, di Mesir dan di negara-negara Arab yang di dalamnya umat Islam dan Kristen hidup bersama-sama, bukan merupakan terma eksklusif Islami. Jadi berbeda sekali dengan negara-negara Muslim non-Arab.

Orang-orang Kristen Koptik, seperti juga seluruh gereja Timur lainnya, mengenal­ waktu-waktu shalat yang tujuh kali sehari. Waktunya sama dengan shalat Islam, ditambah dengan صلاة ااساعة التالثة “Shalāt al-Sā'at al-tsālitsah" (Shalat jam ketiga), kira-kira jam 09.00 pagi yang khusus untuk memperingati turunnya Roh Kudus, Kis. 2:15), dan shslat jam 24.00 tengah malam, yang dikenal dengan صلاة نصف تلبل "Shalāt Nishfu Lail" (Shalat tengah malam). Sedangkan lima waktu shalat selebihnya untuk mengenal طريق الالام "Tharīq al-Al
al-Alām" (Via Dolorosa) atau jam-jam sengsara Kristus.

Lebih jelasnya, kala صلاة "shalāt", jauh sebelum zaman Islam sudah dipakai dalam bentuk Syro-Aramaik ܨܠܽܘܬ݂ܳܐ "shlotā". Menariknya, waktu-waktunya memang sama dengan Islam (Arab: الصُّبْحِ  "Al-Shubh", الظُّهْرِ "Al-Dhuhr", العَصْرِ "Al-'Ashar", المَغْرِبِ, "Al-Maghrib" dan العِشَاءِ "Al-'Isya"), dan dua sisanya sejajar dengan shalat  الضُّحَى "al-Dhuha" dan  التّهَجُّدِ "Al-Tahajjud" (termasuk sembahyang sunnah). Meskipun demikian, istilah untuk waktu-waktu salat tersebut berbeda, dan waktu-waktu doa kanonik ini dalam Iman Kristen mempunyai makna teologis yang terkait dengan jam-jam sengsara Kristus, yaitu:

1. Shalat jam pertama atau Shalat waktu bangun (Arab: صلاة ااساعة الاول
Shalāt al-Sā'at al-Awwal" atau صلاة باكر "Shalāt Bākir"), kira-kira jam 06.00 pagi waktu kita, untuk mengenang saat kebangkitan Kristus Isa Al-Masih) dari antara orang mati (Mrk.16:2).

2. “Shalat jam ketiga (Arab: صلاة ااساعة التالثة
Shalāt al-Sā'at al-tsālitsat"), kira-kira jam 9 pagi, yaitu waktu pengadilan Kristus dan turunnya Roh Kudus (Mrk. 15:25; Kis. 2:15).

4. Salat jam keenam (Arab: صلاة ااساعة السا دية
"Shalāt al-Sā'at al-Sādisat"), kira-kira jam 12 siang, yaitu waktu penyaliban Kristus (Mrk. 15:33, Kis. 3:30).

4. “Salat jam kesembilan” (Arab: صلاة الساعة التاسعة "Shalāt al-Sā'at al-Tāsi'at"), kira-kira jam 3 petang, untuk mengenang kematian Kristus (Mrk. 15:33,38; Kis. 3:1);

5. Shalat Terbenamnya Matahari” (Arab: صلاة الغروب "Shalāt al-Ghurûb"), yaitu shalatnunyui mengenang waktu penguburan jasad Kristus (Mrk.15:42).

6. Shalat Naum (Arab: صلاة النوم "Shalāt al-Naum"), untuk mengenang terbaringnya tubuh Kristus (Mat. 28:57; Mrk.15:42; Luk. 23:54; Yoh. 19:42).

7. Shalat Tengah Malam atau Shalat Satar (Arab: صلاة نصف الليل "Shalāt Nishfu al-Layl" atau صلاة الستار "Shalāt al-Satār"), adalah shalat jam berjaga-jaga untuk mrnyambut kedatangan Kristus yang kedua، seperti pencuri pada waktu malam (Why. 3:3).

Salat Tujuh waktu ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.9) Karena praktek sembahyang ini, khususnya seperti yang dipelihara di biara-biara, sudah ada jauh sebelum zaman Islam. “Kanonisasi waktu-waktu salat” (Arab: صلاة الفرضية "Shalāt al­-Fardhiyah"), sudah mulai dilakukan dalam sebuah doku­men gereja kuno berjudul الدسقولية "Al-Dasqûliyat" atau تعاليم الرسل "Ta’ālīm ar-Rusul" yang editing terdininya dikerjakan oleh St. Hypolitus, kira-kira pada tahun 215 M.10)

5. Novel Religi, Film Dakwah: Bukan Film Cinta Biasa

Seperti komentar banyak tokoh dalam novel “Ayat-ayat Cinta”, memang hasil karya Habiburrahman el-Shirazy ini bukan sekedar novel cinta biasa, melainkan novel cinta, religi, figh, politik yang sarat dengan pesan-pesan keagamaan. Novel ini ingin menghadirkan Islam secara damai, multi-kultural, sarat sentuhan nilai cinta kasih, dan jauh dari gambaran kekerasan yang selama ini sering distigmakan oleh orang Barat.

Meskipun demikian, novel ini juga sarat terhadap apologetika untuk membela Islam. Semangat dakwah yang berkobar-kobar perlu diacungi jempol, tetapi ter­kadang “kelewat batas”. Misalnya, dalam Bab 33: “Nya­nyian dari Surga” (tetapi bagian ini untungnya tidak divisualisasikan dalam film), Maria bertemu dengan Bunda Maria, Ibunda Isa Al-Masih dalam mimpinya ketika terbaring sakit. Pada باب الرحمة  "Bāb ar-Rahmah" (pintu Rah­mat), Bunda Kristus itu, menampakkan diri begitu ang­gun dan luar biasa. “Dia (Allah) mendengar haru biru tangismu”, kata Bunda Maria, “Apa maumu?”. “Aku ingin masuk surga. Bolehkah?”, tanya Maria sambil menangis.

“Boleh”, jawab Bunda Maria. “Memang surga diperuntukkan untuk semua hamba-Nya. Tapi kau harus tahu kuncinya”. “Apa kuncinya?”, tanya Maria. “Nabi pilihan Muhammad Saw telah mengajarkannya berulang-ulang. Apakah kau tidak mengetahuinya?”, tegas Bunda Maria. “Aku tidak mengikuti ajarannya”, kata Maria. “Itu salahmu!”, kata Bunda Maria lagi. Lalu dijelaskan bahwa jalan. ke surga itu harus lewat Islam.

“Maria, dengarlah baik-baik!”, kata Bunda Kristus kepadanya. “Nabi Muhammad sudah mengajarkan kunci untuk masuk surga, “Barangsiapa berwudhu dengan baik lalu mengucapkan: اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا عبده ورسوله "Asyhadu ‘an La ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu wa rasuluh" (Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Nya dan Rasul-Nya), maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan ia boleh masuk yang mana ia suka.” Maria pun akhirnya masuk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat dan me­laksanakan shalat sebelum ajal menjemputnya. Inilah “ending” novel dan film dakwah ini.

6. CATATAN REFLEKSI

Catatan reflektif saya, untuk mengakhiri artikel singkat ini, sedikit saja. Setiap orang bebas untuk me­nyatakan keyakinannya, termasuk keyakinan bahwa sur­ga itu hanya “hak orang-orang Muslim”. Kalau anda tertarik dengan tawaran ini, silakan saja. Bebas dan tidak ada yang melarang. Tetapi pernahkah anda berpikir, apa­kah orang lain yang berkeyakinan berbeda bebas juga mengutarakan keyakinannya?

Seperti keyakinan bahwa Bunda Maria, tokoh paling suci dalam Kekristenan sete­lah Yesus Kristus, telah menunjuk bahwa jalan ke surga harus melalui Muhammad. Bolehkah orang Kristiani, yang mempercayai bahwa Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan tidak seorangpun yang sampai kepada Bapa kecuali melalui Kristus (Yoh. 14:6), meminjam “lisan Nabi Muhammad” untuk mengajar keyakinan itu? Moga-moga anda membolehkannya, seperti kami tidak mendemo ketika “Ayat-ayat Cinta” meminjam “mulut suci Bunda Maria” untuk dakwah Islam.

Kalau begitu, mengapa harus marah kepada Ahmadiyah? Sebaliknya, mengapa mengelu-elukan “Injil Yudas”, dan “The Da Vinci Code”, tanpa menimbang pera­saan orang lain yang tidak setuju denganya? Katakanlah, “berjuta-juta orang Kristen yang mungkin tersakiti perasaannya” karena novel dan film itu?” Padahal film ini akan lebih mendidik lagi, kalau misalnya diungkap juga fakta keberdampingan harmonis kehidupan umat Kristen dan umat Islam di negeri yang oleh Ibnu Khaldun dijuluki ام الدنيا "Umm al-Dunyā" (Ibunda Dunia) ini.

Mi­salnya, tenda-tenda مائدة الرحمن "Ma'idah ar-Rahman" (Perjamuan Sang Pengasih),
yaitu jamuan makan gratis yang dibuka di jalan-jalan kota Kairo. Menariknya, di beberapa wilayah Kristen Koptik, seperti Subhra, misalnya, acara ini selalu dibuka oleh uskup Gereja Ortodoks Koptik sebagai simbol الوحدة الوطني "al-Wihdat al-Wathani" (kesatuan nasional) seluruh rakyat Mesir. Begitu juga, kehadiran Syeikh Al-Azhar, Dr. Muhammad Tanthawi, pada acara ‘Id al- Milad (Natal) di كاتدرائية مار مرقس "Kātedrā'iyat Mār Marqus" (Katedral St. Markus), Abbasiya.

Tradisi saling mengucapkan selamat hari raya, baik hari-hari raya Islam maupun hari-hari raya Kristen, juga menjadi kebiasaan yang patut dijadikan referensi di negara-negara mayoritas Muslim non-Arab, seperti Afga­nistan, Pakistan, Malaysia dan Indonesia akhir-akhir ini, yang terkadang “lebih Arab ketimbang negara-negara Arab sendiri”.11) Dan berbareng dengan perasaan sedih dan menyayangkan peredaran film “The Fitna”, saya yang terus menerus mencoba memahami sukacita anda menyambut novel dan film “Ayat-ayat Cinta”, izinkanlah saya mengucapkan: مبروك "Mabrûk" (Selamat!) atas prestasi dan sukses novel dan film ini. Percayalah ini bukan basa-basi. Karena sekalipun ada yang tidak saya setujui isinya, tetapi hati saya turut merasakan gembira apabila anda bergembira. ¶

REFERENSI

1) Habiburrahman EI Shirazy, Ayat-ayat Cinta: Edisi Revisi (Jakarta: Basmala dan Harian Republika, 2006). 

2) Nama جورجس "Jurjis" (dialek Mesir: dibaca "Girgis" (Arabisasi dari nama George, seorang القديس "al-Qidis" (Santo) yang sangat populer di gereja-gereja kuno, seperti بطرس "Buthros" (Arabisasi dari Petrus), dan nama-nama lain dari bahasa Yunani, Ibrani atau Koptik. Umat Kristen-Arab juga memakai nama-nama Arab sebelum dan sesudah Islam. Biasanya, nama-nama Kristen-Arab, misalnya: عبد تلمسيح "Abd al-Masih" (Hamba Kristus), عبد الفصى "Abd al-Fadhi" (Hamba Sang Penebus), yang mudah dibedakan dengan nama-nama Arab-Muslim: عبد العزيز "Abd al-Aziz" (Hamba Sang Maha Kuat), رمضان "Ramadhan", مَحْمُود "Mahmud", احمد "Ahmad", أشرف "Ašraf", dan sebagainya. Tetapi nama-nama seperti عبد الله "Abdullah" (Hamba Allah), إِبْراهِيمُ "Ibrahim", إِسْحاقَ "Ishak", يَعْقُوبَ "Ya'qub", مؤمن‎ "Mukmin", dan masih banyak lagi, adalah nama-nama netral yang dipakai baik orang Kristen maupun Islam 

3) Irish Habib al-Masri, Qishah Al-Kanīsat
al-Qibthiyyah. Vol. 1 (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 20-33. A. Wessels, Arab and Christian? (Kampen: Kok Pharos, 1995), him. 126. 

4) Lihat: Al-Ajabiyya: As-Sab'u Shalāwat An-Nahariyyah wa al-Lailiyyat (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2001). 

5) Yoanis Kamal, Tartīb Ushbu' al-Alam (Cairo: Dār al-Jilli ath-Thaba'ah, 2001). 

6) Munculnya tradisi "tattoo" salib di tangan, pertama kali berasal dari masa penganiayaan. Tanda itu menjadi semacam kode sesama umat Kristen demi keselamatan mereka dari para penganiaya mereka. Karena Gereja Koptik Mesir pada zaman Romawi menjadi gereja yang teraniaya, maka tarikh Koptik yang ditandai dengan peredaran bintang Siriuz, disebut dengan ANNO MARTYRI (Tahun Kesyahidan), yang tidak termasuk السنة الشمسية "al-Sanat al-Syamsiyyah" (Tahun Matahari) ataupun السنة القمرية "al-Sanat al-Qamariyyah" (Tahun Bulan), melainkan السنة كواكبية "al-Sanat al-Kawakibiyyah" (Tahun Bintang). 

7) Kalimat ..مُتَشَكِّرِيْن قَوِي على "musyakirin
awi....", adalah dialek khas Mesir, kata "awi" asalnya dari قَوِي "qa­wwī" (besar) dalam bahasa Arab klasik: شُكْرًا على "Syukrān 'ala.." (Terima kasih atas...), atau الف شكر على
"Alf syukr 'ala ..." (beribu terima kasih atas...) 

8) "Mashrabia" (Arab: مصرابية) adalah jendela kecil yang terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran halus, biasanya digunakan oleh anak-anak gadis orang kaya untuk mengintip keluar, tetapi orang tidak bisa melihat ke dalam. 

9) Fakta bahwa seluruh gereja-gereja di Timur, baik Ortodoks maupun Katolik ritus Timur. melaksanakan salat tujuh waktu baik sebelum maupun sesudah Islam dengan jelas dicatat Aziz S. Atiya, History of Eastern Christianity (Nostre Dome. Indiana: University of Nostre Dame Press, t.t.). Demikianlah catalan Aziz S. Atiya mengenai pelestarian ibadah ini pada tiap-tiap gereja: Gereja Orthodoks Koptik: "These seven hours consisted of the Morning prayer, Terce, Sext, None, Vespers, Compline and the Midnight prayer..." (hlm. 128). Mengenai Gereja Orthodoks Syria: "...keep usual hours from Matins to Compline, with they describe as the "protection prayer" (Suttara) before retiring" (hlm. 124). Se­dangkan Gereja Maronit di Lebanon: "Seven in number, they are the Night Office, Matins, Third, Sixth and Nine Hours, Verpers and Compline" (hlm. 414). Lebih lanjut. mengenai Shalat Tujuh Waktu ini dalam bahasa Arab. lihat: Mār Ignatius Afram I Borshaum (ed.), Al-Tuḥfat
al-Ruḥiyyat fī ash-Shalāt al-Fardhiyyah (Aleppo: Dār al-Raha Ii an-Nasyr, 1990). 

10) Marqus Dawud (ed.), Al-Dasqûliyat, ay Ta’ālīm ar-Rusul" (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003), hlm. 171-172. 

11) Bambang Noorsena, "Ramadhan di Cairo", dimuat harian Post, 20 Agustus 2004.
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK