SELAYANG PANDANG TENTANG KRISTEN KOPTIK DALAM NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA"

Text to Speech
ET'PATAH ISCS
Jumat, 26 Juli 2019

(Tulisan Pertama dari Dua Tulisan.+)

+) Artikel lawas yang pernah disajikan dalam "Bedah Novel dan Film Ayat-ayat Cinta" di Gedung "Kasih Bersaudara", Jakarta, 6 April 2008.

1. CATATAN PENGANTAR

Fenomena sukses film "Ayat-ayat Cinta", arahan Hanung Bramantyo, menarik untuk diapresiasi. Film layar lebar yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini, dalam waktu singkat telah berhasil meraup pemirsa lebih dari 3 juta orang di seluruh tanah air. Ada yang menonton ka­rena memang lebih dahulu sudah menbaca novelnya, ada pula yang hanya “sekedar ingin tahu", karena penyam­butan film ini yang cukup luas. Bukan hanya Dr. Din Syamsudin, Ketua PP Muhammadiyah, tetapi juga melibatkan Presiden SBY, Wakil Presiden Jusuf Kala, yang memberikan sambutan antusias.

Ada yang menanggapi biasa-biasa saja, ada yang memuji-muji, tetapi ada pula yang bertanya: "Misi apa di balik novel dan film ini?" Beberapa orang berkomentar, “Ini iklan poligami”, “referensi baru buat pemilik rumah makan Wong Solo". menariknya, ada pula yang serius mencermati kaitan novel dan film ini dengan relasi Kristen-Islam di Mesir. Terlepas dari apresiasi saya atas suksesnya film tersebut, resensi singkat ini sekedar mencermati beberapa kejanggalan tentang tradisi Kristen Koptik yang digambarkan dalam film ini. tentu saja, catatan ini saya ini berangkat dari apa saya ketahui dan yakini sebagai orang Kristen ortodoks. Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi terkuno di Mesir, dan komumitas Kristen Ortodoks yang terbesar di dunia Arab sampai saat ini.

2. SEKILAS FILM "AYAT-AYAT CINTA"

Sebelum membuat beberapa catatan atas film "Ayat-ayat Cinta" ini, bagi yang tidak membaca novel atau menonton filmnya, akan disarikan cerita yang diangkat oleh novelis muda lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo, ini:

Maria Girgis (Carissa Putri), putri Tuan Butros dan Maddame Nafed bertetangga flat (apartemen) dengan Fahri, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas al-Azhar. Maria, terlahir dari kelu­arga Kristen Koptik, digambarkan mengagumi Al-­Qur'an, karena ayat-ayatnya yang dilantunkan indah, bersimpati pada Fahri. Simpati yang akhirnya berubah menjadi cinta. Sayang sekali, Maria tidak pernah mengu­tarakan perasaan hatinya. Ia hanya menuangkannya dalam catatan harian saja.

Selain Maria, ada juga Nurul (diperankan Melanie Putri), mahasiswi asal Indonesia, anak seorang kyai yang cukup kesohor, yang juga menimba ilmu di Al-­Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati kepadanya, tetapi sayang rasa cinta itu dihalangi oleh perasaan mindernya, karena Fahri hanya anak seorang petani. Cinta yang akhirnya tak terucapkan. Ada juga tetangga yang selalu disiksa "ayahnya", dan Fahri ingin menolongnya, tetapi justru itulah yang menjadi awal bencana baginya. Fahri harus beberapa saat mendekam di penjara, karena tu­duhan fitnah telah memperkosanya. Saat badai fitnah menimpa, saat itu Fahri sudah menikah dengan Aisha, gadis Turki yang menjadi warga negara Jerman. Pen­dekatan diplomatik Indonesia buntu, gagal membebas­kan Fahri.

Tetapi berkat kewarganegaraan Jerman yang dimiliki Aisha, pengadilan Mesir melunak. Fahri bebas, setelah dibuktikan bahwa tuduhan itu fitnah belaka. Sebenarnya Fahri hanya difitnah, kesaksian Noura palsu karena dinyatakan di bawah tekanan Bahadur, "ayah"­-nya. Padahal Bahadur, yang ternyata bukan ayah kan­dungnya, justru dialah yang memerkosanya, bahkan ingin menjualnya menjadi seorang pelacur. Sementara itu, Ma­ria yang sedang sakit, karena tekanan batin yang dideritanya karena Fahri telah menemukan “sungai Nil"-nya, yaitu sang tambatan hati, yang ternyata bukan dirinya. Tetapi berkat kegigihan Aisha, istri Fahri, Maria berhasil dihadirkan ke pengadilan. Ke­datangannya menolong Fahri, karena ia menjadi saksi ketika Fahri dan Nurul menyembunyikan Noura di ru­mah Nurul, demi menyelamatkan Noura dari amukan Bahadur.

Justru Aisha sendiri, yang ketika Maria terbaring sakit, membaca "Diary"-nya: Ternyata Maria memendam rindu kepada Fahri, cinta yang dibawanya sampai ia berbaring sakit. Aisha pun terharu, dan akhirnya bersedia "mem­bagi cinta" dengan Maria. Suaminya justru disuruh mengawini Maria, karena itulah satu-satunya obat bagi kesembuhannya. Fahri dan Maria pun kawin atas res­tunya. Madamme Girgis, ibu Maria, sangat berterima kasih dengan pengorbanan Aisha. Madamme Girgis me­meluk erat Aisha, ketika wanita keturunan Turki itu menghindar dari akad nikah yang sedang berlangsung antara Fahri dan Maria yang lagi berbaring sakit, karena tidak bisa menahan gejolak jiwanya.

Beberapa menit terakhir film ini diisi dengan adegan kebersamaan antara Fahri dengan kedua istrinya. Ada cemburu antara kedua istri Fahri, tetapi keduanya berusaha keras "menjaga hati". Sementara Fahri mempergumulkan makna keadilan bagi kedua istrinya. Aisha sedang hamil tua dan menunggu kelahiran bayinya, sementara Maria kembali jatuh sakit. "Ajarilah aku shalat", ucap Maria kepada Fahri, "karena aku ingin shalat bersama kalian". Fahri dan Aisha terkejut luar biasa. Dan dalam keadaan terbaring Maria shalat bersama Fahri dan Aisha, dan gadis Kristen Koptik itu mengehembuskan nafas terakhirnya sebagai seorang muslimah.

3. TRADISI KRISTEN KOPTIK MESIR SELAYANG PANDANG

Gereja Ortodoks Koptik adalah gereja pribumi Mesir, yang telah eksis sejak awal abad Kekristenan. Sejarah gereja ini dimulai dari kedatangan St. Markus Sang Rasul, murid Rasul Pe­trus sekaligus sebagai penerjemahnya, yang juga dikenal sebagai penulis Injil Markus. St. Markus mati syahid di Alexandria tahun 54 M, dan sejak saat itu Kekristenan berkembang pesat di "Negeri Firaun" itu.

Berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Arab utara, khususnya Gereja Ortodoks Syria, yang sejak sebe­lum zaman Islam sudah menggunakan bahasa Arab, terbukti dari temuan-temuan prasasti pra-Islam di wilayah Syria (Inskripsi Zabad tahun 512 M, Inskripsi Ummul Jimmal para abad VI M, dan inskripsi Hurran al-Lajja tahun 568 M), Gereja Koptik mula-mula memakai bahasa Koptik. Namun setelah kedatangan Islam, Gereja Ortodoks Koptik di Mesir mulai memakai bahasa Arab, berdam­pingan dengan bahasa Koptik. Bahasa Koptik adalah bahasa sejak zaman Firaun, tetapi aksara-aksaranya diperbarui dengan meminjam aksara Yunani.

Perlu dicatat pula, di seluruh gereja Timur, termasuk Gereja Ortodoks Koptik, masih dilestarikan ta­ta-cara ibadah dalam penghayatan budaya Kristen mula­-mula. Misalnya: السبع صلوات "As-Sab'u Shalawāt" (Shalat Tujuh Waktu), صوم الكبير "Shaum al-Kabīr" (Puasa Agung) pra-Paskah,
membaca Injil dengan cara dilantunkan secara tartil (dikenal dengan الملحمة الانجيل "al-Mulahanat al-Anajil" (Mulahan Injil-injil), yang para­lel dengan تلاوة القران "Tilāwat al-Qur'an", dan masih banyak lagi. Berbeda dengan Injil-injil yang bacaannya disebut ملاجنت "Mulahanat", untuk pembacaan mazmur-mazmur disebut تلاوة المجمير "Tilāwat al-Mazamir", dan masih banyak lagi paralel yang bisa dicontohkan.

Dalam kehidupan sehari-hari di Mesir, anda bisa menyaksikan seorang pemuda yang komat­-kamit membaca kitab kecil di tangannya sewaktu naik bus atau kereta
api. Siapakah mereka? Ternyata bukan pemuda Islam yang sedang membaca al-Qur'an, melainkan seorang pemuda Koptik dengan tatto salib di tangannya yang sedang baca كتاب الاجبيه "Kitāb al-Ajabiah" (dialek Cairo: "Kitāb el-Agbeya"), yaitu السبع صلوات البلية و النهارية "As-Sab'u Shalawāt al-Lailiyyat wa al-Nahāriyyat" (Shalat Tujuh Waktu dari malam sampai siang), yang tidak pernah mereka lupakan, juga ketika mereka sedang berkendara di jalan, sepulang kantor, atau berangkat ke kampus.

Patut dicatat pula, meskipun orang Muslim atau orang Kristen di Mesir sama-sama berbahasa Arab, tetapi "bahasa teologis" antara keduanya tetap bisa dengan mudah dibedakan. Idiom-­idiom keagamaan mereka berbeda, tetapi juga tidak ja­rang pula sama atau paralel. Di koran-koran berbahasa Arab, ucapan bela sungkawa orang Kristen biasanya di­awali dengan ungkapan: انتقال الي الامجاد السماوويه "Intiqāla ila al-Amjād as-Samāwiya" (Telah kembali kepada kemuliaan surgawi), mudah dibedakan dengan kaum Muslim yang membaca:  إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ "Inna Iillahi wa Inna Ilayhi rāji’ûn" (Sesung-guhnya semua karena Allah dan kepada-Nya pula semua akan kembali). Tetapi banyak persamaan dalam budaya, misalnya tradisi pertunangan, perkawinan, kematian, dan masih banyak lagi.

4. RESENSI NOVEL DAN FILM "AYAT-AYAT CINTA"

Untuk tidak berpretensi bisa atau mampu dalam meresensi sebuah novel apalagi sebuah film, saya hanya memberikan catatan atas beberapa tradisi Mesir pada umumnya, dan tradisi Kristen Koptik di Mesir khususnya, yang kurang dipahami oleh penulis novel ini sehingga sering tidak menggambarkan kehidupan Kristen yang sebenarnya dalam film ini.

4.1. Adat-Istiadat, Bahasa dan Budaya

Beberapa tokoh dalam film ini gagal memerankan tokoh orang Mesir. Madamme Nafed (Marini), mamanya Maria, kala mengucapkan kata بسرعة "bisur'ah" (cepat!), tampak kurang ekspresif. Alangkah lebih "Egypt" nu­ansanya, bila ia berkata dengan penekanan يلا يلا بسرعة يا مريا "Yala, yala, bisur'ah, Ya Maria!", misalnya. Begitu juga, sebagai sosok gadis Mesir, Maria yang diperankan Carissa Putri, rasanya terlalu calm dan "melankolis". Ketika ia mengucapkan عَفْوًا "Afwan" (terima kasih kembali), menja­wab kata-kata Fahri ketika menerima kiriman juice mangga yang dikirim Maria melalui tarikan keranjang kecil dari
jendela kamarnya: مُتَشَكِّرِيْن قَوِي على عصير منجو
"Musyakirin awi’ ala ashir manggo" (Terima kasih banyak atas juice mangga). Dalam dialek Arab Mesir, aksara "q" sering dibaca "a". Lebih ekspresif, seandainya Maria mengatakan: عَفْوًا,عَفْوًا يا حبيبي "Afwan, Afwan, Ya Habibī!".

Malahan dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi ja­greed (siulan ibu-ibu yang menandai pe­nyambutan acara-acara kegembiraan mereka). Yang juga tidak kalah penting untuk dicermati, dialek Arab tokoh Maria ketika bertanya: قاموس عربي "Qāmûs 'Arabī?", diucapkan: "Qomus 'Arabi?" (kamus bahasa Arab?), suatu dialek yang terlalu "Saudi". Ini salah satu kekhasan mahasiswa Islam asal In­donesia, karena ketika belajar bahasa Arab di pesantren, lebih mirip dialek Saudi Arabia yang memang lebih فصحى "fushha" (klasik). Tetapi tidak demikian dengan dialek Mesir, misalnya mereka mengucapkan beberapa kata, seperti: صبرى
"shubra", مبرك "mubarak", رحمة "rahmat", yang
diucapkan dengan dialek Saudi:
 "subhro", "mubarok", "rohmat", yang sudah tentu tampak asing di telings orang Mesir.

Begitu juga, ungkapan salah seorang Mesir ketika melerai pertengkaran: خلاص, خلاص
"Khalash! Khalash!" (sudah, sudah!), lebih "Mesir" lagi kalau diucapkan: جلاص. جلاص بعه
 "Khalash, khalash ba'ah!". Begitu juga, biasanya seorang Mesir mengucapkan kata "La, la, la" (Tidak, Tidak, Tidak!), sambil dengan jari terlunjuk bergerak-gerak, dan bibir berdecak. Ucapan أهلا "Ahlan", biasanya diucap­kan berkali-kali: أهلا, أهلا, أهلا "Ahlan, Ahlan, Ahlan..." Dan lebih mengganggu lagi, dialek Mesir sering bercampur dengan bahasa Arab klasik: علشان انَا بَحِبَّك قوي, yang
lazimnya diucapkan "Alasyan ana baḥibak (baḥibik) awi", dan bukan "Asyan ana baḥibaki awi" (Karena aku sangat mencintai kamu), mestinya: علشان انَا بَحِبَّك قوي  "Asyan ana baḥibik awi". "Asyan" adalah ucapan cepat dari علشان "alasyan" (karena, sebab), sedangkan "Ana baḥibak" (Aku mencintai kamu/laki-laki), انا بحبك "Ana baḥibik" (Aku mencintai kamu/perempuan), yang dalam bentuk bahasa Arab klasik: انا احبكَ "Ana uḥibuka" (Aku mencintai kamu/laki-laki), انا احبكِ "Ana uḥibuki" (Aku mencintai kamu/perempuan).

Lokasi syuting yang memang tidak dibuat di Mesir, membuat pemirsa tidak bisa secara utuh meng­ikuti dan membayangkan "suasana Mesir". Mulai ru­mah-rumah warga kelas menengah ke atas, lengkap dengan "mashrabiya"-nya, jalan-jalan kota lama Cairo yang macet, tidak terkecuali ميدان التحرير "Midān Tahrir" (Alun-alun Kemerdekaan) dengan kedai-kedai juice segarnya. Malahan, dalam suatu pesta perkawinan yang digambarkan dalam film tersebut, tidak ada bunyi "jagreed" (suatu bunyi siulan ibu-­ibu yang menandai penyambutan acara-acara kegembi­raan mereka). Masih banyak adat kebiasaan lain, yang dalam film ini tidak berhasil ditonjolkan dengan baik, se­hingga lebih mirip "suasana Indonesia" atau "suasana India", ketimbang "suasana Mesir" atau negara-negara Arab di Timur Tengah pada umumnya.
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK