"TUNGGAL TANPA KAWAN TIDAK MERASA KESEPIAN 3"

Text to Speech
ET'PATAH ISCS
Jumat, 19 Juli 2019

(Tulisan ketiga dari tiga tulisan tentang Misteri Tritunggal.+)
+) Artikel ini dikutip dari Bab XIII buku "Togog Madeg Pandhito: Rasan-rasan Soal Tuhan di Jagad Punakawan", diterbitkan oleh ISCS Malang, 2009.


5. KALAU ALLAH SELALU SATU DENGAN FIRMAN-NYA, MENGAPA KEDUANYA SALING BERDIALOG?

† "Kalau begitu, mengapa Allah berdialog dengan Firman-Nya, kalau Firman itu selalu satu dengan Wujud Allah, yaitu Bapa itu sendiri?", tanya Bilung.

‡ "Itulah kedalaman dan kekayaan Diri Allah yang tidak ada pada makhluk-Nya, Bilung. Untuk menjawab itu, kamu harus mengerti dua misteri Yang Maha Ada dan Yang Maha Esa ini.

† "Dua misteri itu apa saja, Kyai?"

‡ Pertama, Allah itu satu tanpa sekutu, berdaulat tanpa bergantung kepada sesuatu; Kedua, Allah itu tunggal tanpa kawan, namun tidak merasa kesepian. Renungkanlah sekali lagi kedua misteri Ilahi ini, Cah Bagus!", jawab Kyai Semar serius.

† "Aduh, pusing saya, Badranaya. Kepala saya mau pecah rasanya, tetapi silakan teruskan wejanganmu, Kyai!".

‡ Pertama, tentang penciptaan dijelaskan: “…bahwa Aku tetap Dia (Ibrani: אֲנִ֣י ה֔וּא "Ani Hû", Yunani: Ἐγώ εἰμι, "Egô eimi"). Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak ada lagi” (Yes. 43:10). Itu artinya Allah adalah yang awal dan yang akhir, tidak ada Allah sebelum Dia, dan tidak ada Allah lain lagi setelah Dia". Renungkan sekali lagi, Bilung!".

(Keduanya sama-sama diam. Pikiran Bilung jalan-jalan ke langit, meski raganya di bumi. Sementara Kyai Semar berdoa dalam Roh Kudus).

‡ "Jadi, mana mungkin Firman yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh. 1:3) kamu katakan diciptakan, Bilung? Mana mungkin ada “suatu allah” yang bisa terlibat dalam penciptaan, seperti keyakinan ganjil kaum Saksi-saksi Yehuwa itu? Pikirkanlah itu, Bilung!"

† "Ehmm… mestinya ya begitu, Kyai Semar. Tetapi jujur saya masih bingung, cekot-cekot kepala saya".

‡ "Lagi", lanjut Semar. "Firman-Nya: “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi – siapakah yang mendampingi Aku?” (Yes. 44:24). Nabi Ayub menegaskan hal yang sama: “yang seorang diri membentangkan langit” (Ayb. 9:8). Catat itu, Bilung. Pada waktu menciptakan segala sesuatu, TUHAN tak pernah dibantu oleh ciptaan-Nya. Sebab itu, ajaran mengenai "Arsitek Penciptaan" benar-benar telah merendahkan Allah, karena Sang Pencipta bergantung kepada ciptaan-Nya".

† "Jadi, ajaran Unitarian jelas-jelas bukan Kristen Tauhid, Kyai Semar?".

‡ "Ya jelas bukan, Cah Bagus, tetapi justru kemusyrikan terselubung. Maz. 33:6 menegaskan bahwa penciptaan langit dan segenap balatentaranya (alam semesta) terjadi dengan Firman-Nya dan “nafas dari mulut-Nya” (Ibrani: וּבְר֥וּחַ פִּ֝֗יו "ū·ḇe rūaḥ pîu", Roh dari mulut-Nya). Kalau begitu, Firman dan Roh-Nya itu bagian dari ke-“sendiri”-an Allah. Firman dan Roh-Nya yang satu dengan Allah, bukan sebagai pribadi-pribadi yang terpisah".

† "Tapi kalau selalu satu, sekali lagi kenapa Bapa dan Putra-Nya berdialog (Yoh. 17:3), bahkan Putra diutus Bapa seolah-olah ada dua pribadi yang saling terpisah, Kyai Semar?".

‡ "Bilung, kapan kamu merasa kesepian? Jawab dulu pertanyaanku!", tanya Kyai Lurah Semar.

† "Apa sih maksud Kyaine ini?", Bilung bergumam. "Ya, ketika sendiri, tanpa seorang pun di sisiku", jawab Bilung. ("Romantis sekali, Kyaine kali ini ya?”, Bilung mbatin sendiri. Merasa mendapat "angin surga", spontan pula Bilung melantunkan “kidung lawas” yang dinyanyikan oleh Yuni Shara: “Sunyi sepi sendiri, tanpa dirimu lagi….” Heee…)

‡ "Sebelum segala sesuatu ada, Allah sendiri ada" (Arab: قبل كل الاشياء كان الله وحده "Qabla kullu al-asyya’i kâna Allahu wahdah"). Pada mulanya, saat keabadian tanpa awal mula, Allah ada sebagai satu-satunya yang ada (Abû al-Khair, 2000:177). Sendiri, tetapi tidak sepi. Jadi, bukan karena kesepian Allah menciptakan dunia dan seisinya, termasuk di dalamnya manusia, mahkota segala ciptaan-Nya. Betul begitu, Bilung?".

† "Betul, betul. Kyai!".

‡ "Bilung", lanjut Semar. "Kesepian dan kesendirian bagi manusia adalah suatu beban (Kej. 2:18). Mengapa? Karena keber-“ada”-an manusia itu terbatas. Sebaliknya, Allah tidak hanya ada, tetapi Mahaada: אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה "Ehyeh asyer ehyeh" (Aku Ada yang Aku Ada), begitu sabda-Nya kepada Nabi Musa (Kel. 3:14). Inilah makna nama ilahi YHWH, yaitu Sang Maha Ada: הוּא הָיָה וְהוּא הֹוֶה וְהוּא יִהְיֶה "Hu hayah we hu howeh we hu yihyeh (Dia yang
ada, yang sudah ada, dan yang akan Ada). Paham kamu, Cah Bagus?".

† "Paham, Kyai Badranaya. Gusti Allah itu selalu ada, dulu, kini dan akan datang. Allah itu Maha kekal!"

‡ "Bravo! Tepat sekali, Sarawita! Tapi bukan hanya itu, penting juga kamu pahami bahwa “ADA”-nya Allah itu mutlak berbeda dengan “ada”-nya semua ciptaan. Mengerti, Cah Bagus?"

† "Setuju, Kyai. Sebab Kalau Allah itu maha kekal, Yaa....semua sepakat. Itu kan ajaran yang sudah umum, Badranaya!"

‡ "Memahami "ADA"-nya Allah berbeda dengan "ada"-nya makhluk ini penting, Bilung", lanjut Semar. "Justru disinilah makna misteri kedua tadi, Bilung! Tiada sesuatupun disamping-Nya, hanya Dia satu-satunya. Tunggal, tanpa kawan, namun tidak merasa kesepian. Bagaimana misteri ini lebih lanjut dijelaskan?".

(Bilung diam takzim, menyimak. Semar pun meneruskan wejangannya).

‡ "Ambillah contoh 1 Yoh. 4:8, Cah Bagus. اللهَ مَحَبَّةٌ "Allahu mahabbah" (Allah itu kasih). Apabila sifat kasih Ilahi itu sama kekal dengan Allah, itu artinya harus ada “yang dikasihi oleh Allah”. Jadi, ada yang mengasihi, ada yang dikasihi dan ada kasih itu sendiri. Padahal dalam keabadian sebelum segala abad itu, manusia belum ada, alam semesta belum dicipta, lalu kepada siapakah Allah mengasihi? Kalau kasih Allah tanpa sasaran, kepada siapa kasih Ilahi itu diarahkan? Lha ....padahal Gusti Allah itu kan tidak mungkin merasa kesepian to, Bilung?".

† "Jagat Dewa Bethara", pekik Bilung Sarawita takjub.

‡: "Maka Dzat Allah, yang disebut dengan kiasan Sang Bapa, dalam tafakur kekal-Nya, melahirkan dari Diri-Nya sendiri Putra Allah, yaitu Firman-Nya yang juga kekal. Keberadaan Allah itu tidak terbatas. Karena dalam Diri Allah ada relasi kasih kekal, tatkala Dia bertafakur. Dari kekekalan itu, dalam merealisasikan kasih-Nya Allah Sang Wujud, atau رئاسة "ri'asah" (Sang Pendahulu),
mewahyukan Diri-Nya melalui Firman-Nya yang dikiaskan ولادة "wilâdah" (lahir atau diperanakkan), yang dipantulkan kembali oleh Firman kepada Sang Wujud, sehingga Roh Allah itu انبثاق "inbithaq" (dihembuskan) dari Allah, tinggal dalam Firman-Nya untuk kemuduan kembali lagi kepada Wujud Allah Yang Esa" (Louise Cheiko, 1912:767).

† "Jadi, dalam lingkaran kasih abadi, Allah Bapa adalah sumber kasih, Putra adalah sasaran kasih, dan Roh adalah kasih itu sendiri. begitu, Kyai?".

‡ "Benar, Bilung. Karena “ADA”-nya Allah berbeda dengan “ada”-nya ciptaan, maka "pribadi-pribadi” Tritunggal bukan sekedar “pusat kesadaran” tunggal dalam Diri-Nya, sehingga tak seperti “pribadi” manusia mustahil Allah pernah merasakan kesepian. Nah, inilah sekelumit misteri yang dapat kita tangkap dari Taurat, Zabur dan Injil, Cah Bagus. Ganteng-ganteng kok ikut Saksi Yehuwa....Heeee....."

† "Ampunilah hamba, yang sok tahu ini, Ya Kristus!", gumam Bilung (Ketua Program Pascasarjana STT "Pringsewu" itu, kini diam seribu bahasa, tanpa sepatah katapun juga. Dalam hatinya mengakui, ilmu yang telah diwejangkan Semar termasuk “ngelmu tuwa”, yang tidak selalu mudah dipahaminya).

‡ "Bagaimana. Bilung? Apakah kamu sudah mengerti, bahwa satunya Tuhan itu tidak sama dengan kesatuan bilangan one, two, three, four … dan ada keber-“Ada”-an yang jauh lebih dalam berbeda dengan “ada” makhluk-Nya yang terbatas oleh ruang dan waktu. Itulah misteri iman yang digumuli bapa-bapa gereja, bukan seprimitip yang dipahami dengan “logika bakpao” kaum Unitarian dan Saksi-saksi Yehuwa. Ngerti apa ora, Bilung?".

† "Baiklah, Kyai Semar. Saya tak lagi bertanya soal misteri Tritunggal yang ternyata belum dipahami oleh Kakang Togog. Maklum, Kakangmu itu sukanya yang praktis-praktis sih. Jadi, ya....Tuku kupat nyang Ponorogo, mênawi lêpat nyuwun ngapura!".

‡:"Glali gula klapa, ya ora dadi apa", jawab Semar enteng. Tidak jadi masalah, Sarawita. Yang penting, berimanlah dengan cerdas, berpikir yang benar, mampu membedakan “satu Allah” dengan “satu batu”, dan mohon bimbingan Roh-Nya, baru kamu akan menemukan iman yang benar. Iman Rasuli sejati, yang tidak pernah "owah gingsir" (berubah) itu".

Sydney, 1 Juni 2009
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved

REFERENSI

1. Louise Cheiko (ed.), Maymar fī wujūd al-Khāliq wa-al-Dīn al-Qawīm (Beirut: Dar al-Masyriq, 1912).
2. Abd al-Masîh Basith Abû al-Khair, Syuhûd Yahuwa: Man Hum? Mā Hiya ‘Aqâiduhum? (Cairo: Abû al-Khair li al-Nasyr, 2000).
3. Anna Shenouda III, Qānūn al-Īmān (Cairo: Maktabah al-Mahabbah, 2003).
4. Maurice Euqarin, Tārīkh al-Kanīsah: Al-Majāmi' al-Maskūniyat al-Awwal (Cairo: Mansyūrāt al-Ma'had, 1986).
5. Robert Letham, The Holy Trinity in Scripture, History, Theology and Worship (New Jersey: P&R Publishing Company, 2004).
6. Holy Cross Greek Orthodox School of Theology, The Divine Liturgy of Saint James (Brookline: Holy Cross Orthodox Press, 1988).
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK