“TUNGGAL TANPA KAWAN TIDAK MERASA KESEPIAN”

Text to Speech
ET’PATAH ISCS
Jum’at, 5 Juli 2019

(Tulisan Pertama dari Dua Tulisan tentang Misteri Tritunggal Mahakudus*)

*) Artikel ini dikutip dari Bab XIII buku “Togog Madeg Pandhito: Rasan-rasan Soal Tuhan di Jagad Punakawan”, diterbitkan oleh ISCS Malang, 2009.

1. BILUNG SI JAGO SILAT DAN METODE PERANG AYAT-AYAT

Pikiran Bilung sudah mulai tertata, namun sayang metode “perang ayat-ayat” masih sulit dilepaskan dari otaknya. Maklum, Bilung sudah mengalami “cuci otak” selama bertahun-tahun, karena itu sembuhnya memerlukan proses. Namun Semar, punya “terapi” tersendiri menghadapi berbagai penyakit pikiran, seperti yang kini dialami oleh Bilung.

† “Sorry lho, Semar”, kata Bilung meneruskan diskusinya di Padepokan Klampis Ireng, milik Kyai Semar. “Sebenarnya, masih banyak sekali ayat lain yang mengganjal pikiran saya”.

‡ “Ciaaat... silat Ayat-ayat lagi nih yé? Ayo, keluarkan jurusmu lagi, Bilung? Hééééé...”, Semar terkèkèh.

† “Saya, serius Kyai!”, Bilung protes. “Mat. 28:19 sampèyan tafsir Tritunggal? Kalau hanya Bapa, Putra dan Roh Kudus disebut bersama-sama sampèyan tafsir satu, gimana dengan ayat ini: “Di hadapan Allah, Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan …” (1 Tim. 5:21). Apakah para malaikat pilihan-Nya juga masuk dalam zat Ilahi, Kyai?”.

‡ “Ya jelas tidak sama to, Bilung!”, tegas pendiri Padepokan Klampis Ireng itu. “Dalam Mat. 28:19 Bapa, Putra dan Roh Kudus itu jelas satu, karena tidak disebut εἰς τὸ ὄνοματι. “Eis to onomati” (Dalam nama-nama), melainkan: εἰς τὸ ὄνομα. “Eis to onoma” (Dalam Nama), Jadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus itu “satu nama”. Karena itu, dalam liturgi gereja-gereja Timur formula trinitaris itu dipertegas: باسم الاب والابن والروح القدس، الإله الواحد، امين “Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, yaitu Allah Yang Esa, Amin” (Bismil Abi wal Ibni war Ruhil Quddus, Al-Ilahul Wâhid, Āmîn)”.

† “Lho...”, Bilung mlongo.

‡ “Kenapa heran?”, kata Semar sambil nyruput kopinya . “Jangan kamu pikir kalau Cakil, Togog, dan Bilung berbaris, terus kamu samakan saja dengan Tritunggal? Lha mana yang menekankwn aspek kesatuannya, Bilung? Huuuh… tobat tênan, lha kok primitif sekali pola pikirmu!”.

† “Mungkin saja, “dalam nama” itu cukup disebut satu kali, tetapi uraiannya lebih dari satu pribadi”, bantah Bilung. “Inilah nama para anak Israel yang datang ke Mesir…” (Kel. 1:1), contohnya. Nah, anak-anak Israel yang datang ke Mesir kan banyak, tetapi hanya disebut: “Inilah nama…” Itu alasan praktisnya, mungkin saja to?”.

‡ “Dalam bahasa Ibrani tetap disebut jamak: וְאֵלֶּה שְׁמוֹת בְּנֵי יִשְׂרָאֵל, “We elleh syemot Bani Yisrael”. Artinya: “Inilah nama-nama”, dalam terjemahan Yunani (Septuaginta) juga bisa jamak: ταῦτα τὰ ὀνόματα τῶν υἱῶν Ισραηλ. “Tauta ta onomata tón hión Israel …” Sekali lagi, “nama-nama” dan bukan “nama”. Jadi, berbeda dengan Mat. 28:19, dimana Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus tersebut ditegaskan “satu nama”. Jangan meraba-raba dalam gelap, Sarawita! Goblok kok ngotot? Héé…hééé…

† “Kamu ngomong apa, Semar? Please, silahkan kamu menggoblok-goblokan saya terus! Tapi awas kowé ya, tunggu “tanggal main”-nya! Masih banyak ayat-ayat lain, Badranaya! Saya ini jagoan silat lho, Juuèngkèl tênan aku”.

‡ “Laé-laé mbêgêgêg ugêg-ugêg sadulita, sadulita. Ya, ya, saya akui kamu jagoan “silat ayat-ayat, Sarawita!”, Kyai Semar terkekeh lagi.

† “Awas, kamu Semar!”, Bilung mulai naik darah.

‡ “Huuuu…Lha wong baca Kitab Suci kok kaya’ baca komik “Kho Ping Hoo”. Ayo, mana lagi senjata pamungkasmu, Bilung!”, Semar terus menggoda.

2. “UNA SUBSTANTIA TRES PERSONAE”

† “OK, saya coba mengerti penjelasanmu, Semar. Wahyu Tritunggal Jati sebenarnya menekankan TUHAN yang selalu berkarya dengan Firman dan Roh-Nya. Tapi mengapa harus disebut “pribadi-pribadi”? Itu yang tidak masuk akal, Kyai Semar!

‡ “Nggak masuk akal, atau nggak masuk di akalmu, Bilung?”, Semar masih mengejek. “Dahulu bapa-bapa gereja mengenalkan banyak istilah, antara lain “pribadi”. Dalam bahasa Yunani ὑπόστασις “hypostasis”, paralel dengan bahasa Aramaik ܩܢܘܡܐ “qnoma”, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab اقنوم “Uqnum”. Kemudian bapa-bapa Gereja Latin menerjemahkan menjadi “persona”.

‡ & † “Ehmm....” Semar diam sejenak, Bilung terus menyimak.

‡ “Masalahnya”, lanjut Semar, “Ya, masalah mulai timbul setelah abad XIX M Sigmund Freud mempopulerkan istilah “person” dalam teori “psikoanalisis”-nya. Serapan dari bahasa Latin “persona” yang mula-mula bermakna “metaphysical personality” (personalitas metafisik), akhirnya dalam bahasa Inggris berubah makna menjadi “phsychological personality” (personalitas psikologis). Padahal jelas bukan makna seperti itu yang dimaksudkan oleh bapa-bapa gereja kuno dahulu, Bilung!”

† “Jadi, tepatnya apa makna “persona” yang dimaksud bapa-bapa gereja, Badranaya?”, tanya Bilung. “Dan apa bedanya dengan makna kata itu pada masa sekarang, Kyai Semar?”

‡ “Istilah kuno “persona” dalam makna metafisik, adalah “keseluruhan hakikat dengan hubungan-hubungannya”. Sebaliknya, arti pribadi dalam makna psikologi modern adalah pribadi yang terpisah dengan pribadi lain. Dalam makna psikologis seperti ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana μία οὐσία “mia ousia” (satu Dzat) dapat secara serentak dan bersama-sama memiliki τρεῖς ὑποστάσεις “treis hypostaseis” (tiga pribadi)”, jelas Kyai Semar lugas.

† “Ooo...Kalau begitu, sekalipun Bapa, Putra, dan Roh Kudus itu disebut “pribadi” tetapi tidak terpisah satu sama lain. begitu, Kyai Semar?”

‡ “Tepat sekali, Sarawita. Kemarin saya sudah singgung Gregorius dari Nyssa (335-394 M) tentang ketidakterpisahan persona-persona Ilahi. Hal yang juga ditekankan oleh Tertulianus dari Kartago (169-220 M): “Una Substanstia, tres personae. Distincti non divisi. Discreti non Separate” (Satu substansi, tiga persona, beragam tak terbagi, berbeda tak terpisah). Tekan apa ora utekmu, Bilung?”, tanya Semar sambil menyodorkan kacang rebus kepada tamunya itu.

† “Matur suwun, Kyai”. Bilung jengkel, namun penasaran juga.

‡ “Keesaan Allah itu bukan bersifat statis, Sarawita! Keesaan Allah adalah realitas yang dinamis yang selalu berproses dalam Diri-Nya sendiri. Dari Wujud Allah Yang Esa yang disebut Bapa itu lahirlah Firman-Nya dan keluarlah Roh-Nya. Firman dan Roh Allah itu berbeda, namun tidak terbagi (distincti, non divisi), dibedakan, namun tidak terpisah (discreti, non separate). Paralel dengan Theodor Abu Qurrah (750-825 M). Sang Bapa adalah رئاسة “ri'asah” (Sumber, Sang Asal tanpa asal), Putra atau Firman Allah ولادة “wilādah” (dilahirkan) secara kekal dari Sang Asal, dan Roh Allah انبثاق “Inbitsāq” (dipancarkan) dari Wujud yang esa dan sama, bersifat azali, qadim, tanpa permulaan dan tanpa akhir. Ing zaman kelanggengan, Bilung!”.

† “Jadi, kata “pribadi” itu telah menimbulkan salah paham ketika dipahami dalam makna modern, Kyai?”

‡ “Tepat sekali, Bilung. Sebab meskipun Bapa, Putra, dan Roh Kudus harus dibedakan dalam persona-Nya, tetapi satu Allah. Sekali lagi, Tertulianus menekankan perbedaan antara Allah, Firman, dan Roh-Nya, tetapi tidak menganggapnya sebagai wujud-wujud yang terpisah, melainkan لشرح الثالوث في دات الله “li syaraha al-tsalût fî dzât Allah” (untuk menjelaskan hubungan ketritunggalan dalam wujud Dzat Allah). Begitu terjemahan bahasa Arabnya”, jelas Semar.

† “Jadi, para teolog harus terus menggali akar sejarahnya, agar tidak membuat kesalahan-kesalahan baru?”

‡ “Ya, Betul. Penafsiran orang-orang modern itu mudah salah karena “tercabut dari akarnya”. Mereka salah memahami kata “persona” sebagai pribadi-pribadi saling terpisah. Inilah yang dipahami kaum Unitarian, Saksi-saksi Yehuwa, termasuk ajaran Kakang Togog, Junjunganmu itu, sehingga mereka menolak Tritunggal yang sebenarnya tak pernah mereka mengerti. Joko Sembung naik becak, gak nyambung bekas, Cak! Hééé…”

† “Yo, Yo, Semar....mesti lho”, Bilung cemberut, tapi terus penasaran. “Lalu lebih gamblang gimana para teolog gereja purba memahami ajaran Tritunggal, Semar? Selama ini saya pikir, Tritunggal itu memang “dewa berkepala tiga”, Hééé…

‡ “Kepala tiga? Endhasmu prothol kuwi, Bilung!”

† “Ngamuk, ngamuk....Lanjuuut...”, Bilung ganti mengejek, cengèngèsan.

3. TERANG DARI TERANG, ALLAH SEJATI DARI ALLAH SEJATI

‡ “Intinya, Sang Bapa adalah sumber ke-Allahan, sebagaimana ditegaskan dalam 1 Kor. 8:6 “… satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup”.

† “Sebentar, sebentar, Kyai”, potong Bilung. “. ..satu Allah, yaitu Bapa”, berarti Anak bukan Allah to?”.

‡ “Wééé.. Ladalah.....Nyang Bandung numpak becak, pikiranmu bingung ora nyandak....Haaa...”

† & ‡ “Semaaaaar.....”, Bilung berteriak emosi, Semar nyruput kopi. “Santai, santai...Yuk kita santai, agar syaraf tidak tegang...”, seperti Bang Haji Rhoma Irama, Semar berdendang riang.

‡ “....satu Allah, yaitu Bapa”, artinya hanya ada satu wujud Allah, yang dikiaskan Bapa, namun Anak juga disebut: “Ya Allah” (Ibr. 1:8), Jangan berhenti di sini, Bilung. Sebab lanjutan ayat itu: “Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah diciptakan”. Ini menekankan Yesus sebagai Firman (Yoh. 1:1), yang dengan Firman-Nya itu Allah telah menciptakan segala sesuatu (Maz. 33:6, Yoh. 1:3, Rom. 4:27).

† “Jadi, karena Firman Allah itu tinggal kekal dalam Wujud-Nya yang Esa, dan wujud Allah yang dikiaskan Bapa itu hanya satu, maka dikatakan “satu Allah, yaitu Bapa” (1 Kor. 8:6). begitu, Kyai?”.

‡ “Bravo, Bravo, Bilung. Pikiranmu sudah mulai tercerahkan. Betul, betul sekali, Cah Bagus. Firman Allah “keluar dan datang dari Allah” (Yoh. 8:42), begitu juga dengan Roh Kudus-Nya “yang keluar dari Bapa” (Yoh. 15:26).

† “Jadi, itu yang disebutkan dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel: “Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah sejati”. Benarkah begitu, Kyai Lurah?”

‡ “Mabruk, Mabruk, ya Habibi. Karena Anak bukan wujud terpisah, melainkan berdiam kekal dalam “satu Allah, yaitu Bapa”, maka Konsili Nikaea (325 M) merumuskan: Θεον ἐκ Θεοῦ, “Theon ek Theou” (Allah yang keluar dari Allah). Selanjutnya, Konsili Konstantiopel lebih mempertegas lagi: Θεὸν ἀληθινὸν ἐκ Θεοῦ ἀληθινοῦ. “Theon alithinon ek Theou alithinon” (Allah yang sejati yang keluar dari Allah sejati)”, ujar Kyai Lurah Semar.

4. “ALLAH BESAR DAN ALLAH KECIL?”, MUSYRIK SAMPÈYAN!

† “Jadi, lebih tinggi mana Firman atau Allah, Sumber dari Firman Allah dan Roh-Nya? Ayo, jawab, Kyai!”

‡ “Hus, lancang kamu!”

† “Lancang gimana, Kyai? Yesus sendiri yang bersabda: “Bapa itu lebih besar dari Aku” (Yoh. 14:28)? Jadi, kalaupun Anak disebut “Allah” maksudnya “Allah kecil”, sebab hanya Bapa yang layak disebut “Allah Maha Besar”. Logikanya kan begitu, Kyai Semar?”

‡ “Hus...”Allah besar”, “Allah kecil”, musyrik Sampèyan. Memang jumlah Allah itu berapa, Bilung?”

† “Astaga..?”, teriak Bilung, ada cicak jatuh di ubun-ubunnya.

‡ “Konteks ayat itu”, Kyai Semar terus melanjutkan, “merujuk kepada tabiat kemanusiaan Yesus, yang bahkan “untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (Ibr. 2:9). Namun pada saat yang sama, ἴσα θεῷ “isa theô” (kesetaraan dengan Allah), seperti tertulis dalam Flp. 2:6, merujuk kepada tabiat ilahi Yesus sebagai Firman Allah. Itulah sebabnya, dalam Credo Nikea ditegaskan: ὁμοούσιον τῷ Πατρί, “Homousion tô Patri” (sehakikat dengan Bapa dalam wujud-Nya). Ayo, tekan apa ora utekmu, Bilung? Héééé...”, gurau sang Kyai lagi.

† “Jiangkrik...”, gumam Bilung, “mesti lho Kyainé ini!”.

‡ “Sor meja ana ulané, aja gela wis carané. Kembali ke substansi diskusi, konsili-konsili gereja ekumenik purba hanya menjabarkan berdasarkan Alkitab dan ajaran para rasul, sama sekali bukan ajaran yang baru. Jelas, Bilung!”

† “Wééé.. Ladalah...mendalam sekali yo ajaran ini, Kyai. Tapi...tapi...dijamin Allah itu Esa to?”, Bilung seperti tidak percaya, namun nalarnya mulai sedikit jalan.

‡ “Hong wilaheng sekaring bhawana langgeng”, Kyai Lurah Semar melantunkan suluk. “Bilung, Bilung! Gusti. Allah kuwi mung siji, ora loro, ora telu, nanging sijiné ora pada karo sijiné watu. Ngerti?”.

† “Wuuih....serius sekali Kyainé?”

‡ “Laé, Laé.....Pikiranmu itu baru sampai pada tahap menghitung angka, satu, dua tiga...”, kata Kyai Semar menahan tawa melihat pengikut setia Kyai Togog itu plonga-plongo. “Teologi andalanmu itu, Bilung, baru berkutat pada pertanyaan “Berapa jumlah Allah?”. Cuma tahu jumlah saja kok bangga to Cah Bagus? “Tauhid”-mu itu hanya reaksi terhadap kaum primitip penyembah batu, belum sampai menyentuh hakikat-Nya yang ada “diy sebalik segala sesuatu”. Ini perintah, jangan dibantah! Renungkanlah itu lebih dahulu, Bilung!

† “Baik, Kyai Lurah”, kata Bilung seraya mengangguk takzim (Meskipun sebenarnya jengkel, Bilung tak bisa berkutik ketika bertubi-tubi Kyai Semar terus menggempur teologinya yang ngawur).
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK