"TUNGGAL TANPA KAWAN TIDAK MERASA KESEPIAN 2"

Text to Speech
ET'PATAH ISCS
Jumat, 12 Juli 2019

(Tulisan Kedua dari tiga tulisan tentang Misteri Tritunggal.+)

4. TRITUNGGAL: ANTARA TRITHEISME DAN SABELIANISME

‡ "Tadi saya bilang apa, Bilung? Tritunggal itu "ora loro, ora telu, nanging yen siji dudu sijine watu" (Bukan dua, bukan tiga, tetapi kalau satu tak sama dengan satunya batu). Ngerti?", Kyai Semar mengulang wejangannya.

† "Jadi, jangan kita menarik ekstrim sifat ke-"tiga"-an-Nya, dan jangan pula memaknai salah wujud Dzat-Nya yang Esa. Betul gitu, Kyai?"

‡ "Betul, jawab Semar. "Quod Non Sint Treis Dii" (Bahwa Tidak ada tiga Allah). lagi kata Kyai Lurah, mengutip karya teologis St. Gregorius dari Nyssa.

† "Apakah yang ditekankannya, Kyai Lurah?", tanya Bilung penasaran.

‡ "Tak pernah kita mendengar", kata Semar mengutip St. Gregorius dari Nyssa, "Allah Bapa berbuat tanpa Putra atau Firman-Nya, begitu pula Putra tak pernah terpisah dari Roh Kudus. Nah, kalau Bapa, Putra dan Roh Kudus secara bersama-sama tak pernah terpisahkan menjalankan kuasa-Nya dan melakukan pemeliharaan ilahi atas kita dan jagad raya, maka tak mungkin kita bicara ada tiga Allah".

† "Lha, kalau Dia tidak tiga, berarti satu. Titik! Kenapa mesti dibeda-bedakan dengan tiga persona-Nya? Bikin pusing aja, Kyai. Heee...", ejek Bilung.

‡ "Lha...kumat, kumat lagi to? Kamu pusing karena "sesat metodologis", salah pola pikirmu, Cah Bagus. Satu Allah kok kamu samakan dengan satu batu!", jawab Kyai Semar.

† "Masudnya, Kyai?"

‡ "Dulu pernah ada sekte Modalisme/ Monarkhianisme, yang pikirannya simpel-simpel kayak kamu ini. Karena Bapa, Putra dan Roh Kudus itu Esa, maka Bapa itu ya Putra, Putra ya Roh Kudus....dan seterusnya. Padahal kalau Putra sama dengan Bapa, sedangkan Putra disalib, maka Bapa juga disalib dong! Lha... kan celaka kita ini, Gusti Allah kok mati disalib?", tandas Semar meyakinkan.

† "Ooo...Itu ajaran Praxeas ya, Kyai?"

‡ "Betul, Tertulianus telah menulis jawaban yang menolak ajaran ini, Bilung. Adversus Praxean (Melawan Praxeas). Ya, ya, baru ingat saya judulnya".

† "Apa hubungannya dengan Patripassionisme?", tanya Bilung lagi.

‡ "Nah, ini "gendhakan"-nya Praxeas, Hee..
Heee ...", jawab Semar sekenanya. "Pater itu artinya Bapa", tambahnya. "Passion artinya rasa, maksudnya Allah Bapa merasakan penderitaan. Ini sesat, Bilung, sebab mereka ajarkan Allah Bapa bisa menderita di kayu salib".

† "Tapi Yesus benar-benar mati di salib kan, Kyai?".

‡ "Ya, iya lah!", jelas Semar. "Tanpa membaca Injil pun Yesus disalib, semua catatan sejarah sezaman mencatatnya kok! Tapi Bapa, yaitu Wujud Allah, tidak ikut disalib, Bilung! Alkitab mencatat: "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp. 2:8). Lagi, "...Ia, yang dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia" (1 Per. 3:18)

† "Oooo....gitu. Kalau Sabelianisme itu gimana sih, Kyai?"

‡ "Pada wae, Bilung!"

† "Kyai", kata Bilung lagi, "Kalau tidak salah, Sabelius yang sampeyan kutuk itu juga menggambarkan relasi trinitaris itu seperti matahari: Bapa itu wujud matahari, Anak itu cahayanya, dan Roh Kudus adalah panasnya. Tapi kok Tritunggalmu mirip-mirip ya? Kamu Sabelian to, Kyai? Jangan marah lho...Heee... Heee..."

‡ "Mana yang mirip, Sarawita? Saya hanya mengikuti ajaran para bapa konsili, yaitu konsili-konsili gereja sebelum perpecahan gereja kok!".

† "Lha perumpamaan matahari, kalau tak salah pernah kamu khotbahkan to, Kyai?Ayo....Ayo .... ngaku....Heeee.....", kata Bilung beranjak dari duduknya sembari joged irama India.

‡ "Lae....Lae.....begitu itu ya kalau bacaanmu terbatas, piknikmu kurang jauh. Lha wong yang memakai perumpamaan itu bukan hanya Sabelius lho, Bilung!"

† "Siapa saja coba? Haaaa....Haaaaa.....", Bilung lebih gila lagi.

‡ "St. Athanaius dari Alexandria!", jawab Semar. Inilah kutipan salah satu ucapannya, Cah Bagus. "Laksana terang matahari sungguh-sungguh bagian dari matahari, wujud matahari tak terkurangi oleh sinarnya. Wujud mentari itu lengkap, sinarnya juga lengkap, karena pancaran terang itu tidak mengurangi wujud terang, tapi turunannya yang sejati. Begitu juga yang kita ketahui dari Anak, diperanakkan bukan dari luar Sang Bapa, melainkan berasal dari wujud Allah Bapa sendiri" (Orationes 2:24, 33).

† "Oooo...."

‡ "Lagian, kemarin kan sudah kita bahas to, Cah Bagus. Konsili Nikea (425 M) dan Konstantinipel (381 M) juga memakai istilah
Φῶς ἐκ Φωτός, "phos ek photos" (Terang yang keluar dari Terang). Itu ungkapan para bapa konsili, tidak bisa dimonopoli Sebelius. Perumpamaannya sama, penerapannya jauh berbeda. Ngerti?"

† "Sendika Dhawuh, Kyai Lurah!"

‡ "Pada akhir uraian St. Athanasius dalam bukunya Orationes Contra Arius itu, Bilung", simpul Semar, "ditekankan bahwa Allah Bapa tetap lengkap, sedangkan Gambar Wujud-Nya (Ibr. 1:3) juga lengkap, serta menjaga kesetaraan-Nya dengan Allah Sang Bapa, dan Rupa-Nya tak berubah".

† "Sang Bapa, maksudnya Wujud Allah, tetap lengkap. Begitu ya, Kyai? Jadi, ketika Firman-Nya turun ke dunia, surga tidak kosong? Firman itu tidak copot dari wujud-Nya. Begitukah, Kyai?"

‡ "Lha iya to, Bilung. Copot, prothol...itu sifat jasad (tubuh), Allah itu Roh ( Yoh. 4:24), Tidak seorangpun pernah melihat Allah (Yoh. 1:18), bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1 Tim 6:16). Masak kamu bilang copot, seperti "endhasmu cepot" physically dari tubuhmu...Heeee....?

† "Mulai...mulai....Tuan Semar yang saya hormati, tak bisakah Tuan berdiskusi tanpa harus memaki?", pinta Bilung jengkel, merasa terus dikerjain.

‡ "I'am sorry, Bilung", Kyai Semar masih terkekeh. "Di pinggir sawah ada pohon pepaya, jika salah mohon maafkan saya!" Haaa...Haaa...."

(Bilung mengangguk, masih cemberut, semantara wejangan Semar terus berlanjut)

‡ "Sekali lagi, ungkapan τρεῖς ὑποστάσεις “treis hypostaseis” (tiga pribadi) dalam Tritunggal itu bukan pribadi-pribadi yang terpisah dalam makna psikologi midern, Bilung".

† "Mengerti, Kyai!"

‡ "Dengar, dengarlah, Cah Bagus! "Karena bagi manusia, bila beberapa orang mengerjakan tugas yang sama kita bisa memisahkan tindakan satu orang dengan yang lain, maka tepatlah mereka disebut banyak orang, karena pribadi-pribadi mereka saling terpisah. Tetapi tidak begitu dengan pripadi Allah". Begitulah tulis St. Gregorius dari Nyssa, Bilung!"

† "Mengapa tidak sama, Semar?", tiba-tiba Bilung menyalak (Sikap Bilung yang sering mengangguk setuju, diamati oleh "ilah zaman ini", mereka mulai resah dan marah. Tetapi dasar Semar, Sang Kyai malah berang menantang).

‡ "Lae, Lae....Kalau sekedar tahu jumlah Allah, Bilung. Apakah bedanya kamu dengan setan, jin, peri prayangan, ilu-ilu, jrangkong eklek-eklek, yang ada di belakangmu itu. Sebab tertulis dalam Kitab Suci: “Engkau percaya hanya ada satu Allah saja?" Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yak. 2:19).

† & ‡ "Dhuh...mulai Kyaine...!", gumam Bilung mulai resah (Prewangan yang momong raganya, tambah marah. Kyai Semar tanggap sasmita).

‡ "Hong wilaheng....Naik, naikanlah pikiranmu ke alam lahut, Bilung, tinggalkanlah alam lelembut!", tiba-tiba suara Kyai Semar terdengar keras, melengking, lalu menengking.

(Langit kelap-kelap, bumi gonjang-ganjing. Lir kincanging alis risang mawe gandrung, sabarang kadulu.. Ooo... jagad para setan diobrak-abrik Kyai Semar. Bilung tiba-tiba saja lemas, gemetar. Dari kepalanya keluar asap hitam bak cerobong "sepur Londo" yang kini dimuseumkan di stasiun Ambarawa. Dhedhemit lari terbirit sampai kecirit, diikuti segenap "Bolo Setan" pada tunggang langgang).

† "Lho, lho ...kok pada ucul...?", gumam Bilung.

† & ‡ Mata Semar tajam memandang Bilung yang tertunduk lesu, perang besar sedang berkecamuk dalam dirinya, antara יֵצֶר הָטוֹב
"yetzer HaTov" (bisikan kebaikan) versus יֵצֶר הָרָע "yetzer HaRa" (bisikan kejahatan), sampai kadang tubuhnya mengejang, lalu keras terguncang.

‡ "Bilung, Bilung!", lanjut Kyai Semar, setelah situasi tenang. Tritunggal bukan ilmu dangkal yang hanya puas menjawab pertanyaan ke-“berapa”-an Allah, tetapi ke-“bagaimana”-an Allah yang Maha Esa. Pewahyuan diri oleh Firman-Nya dan penyingkapan jatidiri-Nya!".

‡ & † (Semar sejenak diam, Bilung kembali menyimak). "Jangan hanya berhenti pada kredo Allah itu Esa, tapi coba renungkanlah dalam-dalam Allah mewahyukan diri-Nya! Bilung, Coba.. Cobalah jawab gimana Allah menciptakan segenap makhluk-Nya?", lagi tanya Semar.

† "Ehm... seperti tertulis dalam Kitab Taurat dan Zabur, Allah telah menciptakan dengan Firman dan Roh-Nya, Kyai Lurah!" (Kej. 1:1-3, Maz. 33:6).

(Mata Bilung masih kelom-kelom menatap langit-langit Pendopo Padepokan "Klampis Ireng").

‡ "Betul, betul, Cah Bagus. "Dan Firman Allah itu adalah Kristus sendiri, seperti lanjutan ayat tadi: “…Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1 Kor. 8:6). Di sini jelas, Allah menciptakan segala sesuatu oleh Yesus, bukan merujuk kemanusiaan-Nya "dalam ruang dan waktu", tetapi sebagai Firman Allah yang kekal (Kej. 1:3; Yoh. 1:3; Kol. 1:16). Serempak dengan itu, ketika berbicara tentang Allah yang Maha Hidup, kita juga berbicara ke-"bagaimana"-an Roh Allah, yaitu sumber hidup Ilahi-Nya sendiri itu dijelaskan (Kej. 1:2; Yoh. 15:26; 1 Kor. 2:10-11).

† "Kalau begitu, Kyai. Mengapa untuk Firman Allah dikatakan “dilahirkan”, sedangkan untuk Roh Kudus “keluar"?".

‡ Ungkapan  τὸν ἐκ τοῦ Πατρὸς γεννηθέντα " ton ek tou Patros gennethenta" (yang dilahirkan dari Bapa)
berbicara tentang pewahyuan diri Allah melalui Firman-Nya, yang dikiaskan "Anak Allah yang Tunggal" (Yoh. 1:18), laksana gagasan saya lahir dari pemikiran saya yang satu dengan diri saya".

† "Sedangkan perumpamaan tentang Roh Kudus-Nya, Kyai?".

‡ Tentang Roh Kudus dikatakan "Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa" (Yoh. 15:26), pada waktu penciptaan langit dan bumi מְרַחֶפֶת עַל-פְּנֵי הַמָּיִם "merakhefet 'al fene hamayim" (melayang-layang di atas permukaan air" (Kej. 1:2). Itulah "bahasa Taurat" dalam mengungkap aktivitas Allah dalam menyalurkan hidup ilahi-Nya dan kuasa-Nya, semejjak penciptaan jagad raya hingga pemeliharaan segenap ciptaan, Cah Bagus!".
Oleh : Dr. Bambang Noorsena
2019 © ISCS All Rights Reserved
Category:  Teologi

Ziarah ke Tanah Suci bersama Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk tour ziarah ke Tanah Suci Israel bersama Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

087771659955 (Bu Dini - WA/Call)

085859042229 (Bu Shafa - WA/Call)

Info flyer untuk jadwal ziarah berikutnya dapat dilihat di link berikut ini : INFO ZIARAH

Pemesanan Buku Dr. Bambang Noorsena

Bagi Anda yang berminat untuk membeli Buku-Buku Karya Bapak Dr. Bambang Noorsena dapat menghubungi Contact Person di bawah ini :

085859042229 (Bu Shafa Erna Noorsena) 

Judul Buku yang Tersedia : ORDER BOOK